Fenomena panic buying BBM menjadi sorotan setelah sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Jawa Timur diserbu warga. Kondisi ini menyebabkan antrean kendaraan mengular karena banyak masyarakat membeli bahan bakar dalam jumlah lebih banyak dari biasanya.
Situasi tersebut diduga dipicu kekhawatiran masyarakat terhadap isu stok BBM dalam negeri, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Lalu, sebenarnya apa itu panic buying dan mengapa fenomena ini bisa terjadi? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Apa Itu Panic Buying dan Dampaknya?
Panic buying adalah perilaku membeli barang secara berlebihan yang dipicu rasa panik atau ketakutan akan kekurangan stok di masa depan. Fenomena ini sering muncul ketika masyarakat menghadapi situasi krisis, seperti pandemi, bencana alam, atau gejolak ekonomi.
Dalam kondisi tersebut, banyak orang cenderung menimbun barang kebutuhan pokok untuk memberikan rasa aman sementara. Akibatnya, permintaan meningkat secara tiba-tiba dan dapat memicu kelangkaan barang di pasaran.
Secara psikologis, perilaku ini berkaitan dengan konsep scarcity heuristic, yaitu kecenderungan otak manusia menganggap sesuatu yang langka sebagai hal yang sangat penting.
Ketika masyarakat merasa suatu barang akan sulit didapatkan, dorongan untuk membeli lebih banyak pun meningkat, bahkan sering kali mengabaikan pertimbangan rasional.
Mengapa Panic Buying Bisa Terjadi?
Fenomena panic buying biasanya dipicu kombinasi faktor psikologis, sosial, dan informasi yang beredar di masyarakat.
Menurut psikolog klinis dan penulis Steven Taylor, dalam situasi krisis masyarakat sering menerima informasi yang saling bertentangan. Hal ini dapat memicu tindakan ekstrem sebagai bentuk perlindungan diri.
Dikutip dari CNN, Taylor menjelaskan ketika masyarakat diberi tahu ada ancaman besar, namun langkah pencegahannya terlihat sederhana, orang cenderung merasa tindakan tersebut tidak cukup sehingga memilih langkah yang lebih drastis.
Selain itu, Wakil Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Dicky Budiman menyebut panic buying juga dipengaruhi tekanan sosial. Ketika seseorang melihat banyak orang lain membeli atau menimbun barang, mereka cenderung melakukan hal yang sama agar tidak merasa tertinggal.
Faktor Psikologis yang Memicu Panic Buying
Ketika muncul rasa takut akan kelangkaan atau ketidakpastian situasi, banyak orang terdorong untuk menimbun barang demi merasa lebih aman. Beberapa faktor psikologis juga diketahui dapat mendorong seseorang melakukan panic buying. Beberapa di antaranya sebagai berikut.
1. Scarcity Heuristic
Scarcity heuristic adalah kecenderungan psikologis yang membuat orang menganggap sesuatu lebih bernilai jika dianggap langka atau terbatas. Otak menggunakan kelangkaan sebagai jalan pintas untuk menilai kualitas atau urgensi.
Menurut Robert Cialdini, hal ini dipicu dua hal, yaitu barang langka dianggap lebih berkualitas, dan keterbatasan pilihan memicu keinginan lebih kuat untuk mendapatkannya.
Dalam situasi seperti panic buying, persepsi stok terbatas memicu FOMO (Fear of Missing Out), dan ketakutan kehilangan peluang, sehingga orang membeli berlebihan tanpa pertimbangan rasional.
2. Social Proof
Social proof adalah kecenderungan orang mengikuti tindakan atau keputusan orang lain untuk menentukan apa yang dianggap benar, terutama saat situasi tidak pasti. Prinsip ini dipopulerkan Robert Cialdini.
Secara psikologis, manusia menggunakan perilaku mayoritas sebagai petunjuk cepat (heuristic) untuk mengambil keputusan, karena lebih mudah daripada menganalisis sendiri, terutama ketika informasi terbatas atau situasi ambigu.
3. Bandwagon Effect
Bandwagon effect adalah kecenderungan orang mengikuti tren atau perilaku mayoritas hanya karena banyak orang melakukannya. Istilah ini berasal dari politik Amerika abad ke-19 tentang "naik kereta dukungan populer".
Secara psikologis, fenomena ini dipicu konformitas, takut dikucilkan, dan keinginan selaras dengan kelompok. Dalam panic buying, melihat banyak orang membeli suatu barang membuat orang lain ikut membeli karena takut kehabisan.
Berapa Cadangan BBM Indonesia Saat Ini?
Dirangkum dari detikFinance, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengungkapkan cadangan BBM Indonesia saat ini masih tergolong terbatas. Kapasitas penyimpanan BBM nasional hanya mampu menampung pasokan sekitar 20 hingga 25 hari.
Berdasarkan rapat bersama Dewan Energi Nasional dan Pertamina, cadangan pasokan BBM saat ini berada di kisaran 22 hingga 23 hari. Angka tersebut masih berada di bawah standar cadangan energi yang umum diterapkan secara global.
Meski demikian, pemerintah berencana meningkatkan kapasitas penyimpanan energi nasional. Bahlil mengatakan dirinya telah mendapat arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk membangun fasilitas penyimpanan BBM tambahan.
Dengan pembangunan storage baru tersebut, targetnya cadangan BBM Indonesia dapat meningkat hingga 90 hari atau sekitar tiga bulan, sesuai dengan standar minimum cadangan energi internasional.
Simak Video "Video: Panic Buying! Warga Venezuela Serbu Supermarket & SPBU"
(hil/irb)