Warga Tulungagung mengeluhkan kelangkaan LPG bersubsidi 3 Kg. Sejumlah pangkalan dan toko kelontong kehabisan stok.
Salah seorang warga Lingkungan 10 Desa/Kecamatan Ngunut, mengaku selama dua pekan terakhir warga di sekitar rumahnya kesulitan untuk mendapatkan gas bersubsidi.
"Saya cari kemana-mana banyak yang kosong, toko di sekitar rumah sampai di pangkalan juga habis," kata Dwi, Rabu (18/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak hanya di lingkungan sekitar, ia juga sempat mencari di Desa Kunir, Kecamatan Wonodadi, Blitar yang lokasinya bersebalahan juga banyak yang kosong.
"Sama saja, menyeberang (Sungai Brantas) ke Kunir juga langka," ujarnya.
Menurutnya beberapa toko mengaku belum mendapatkan kiriman dari agen. Kalaupun datang, dalam hitungan jam barang habis terjual. Kondisi tersebut membuat masyarakat kebingungan karena pasokan LPG sangat dibutuhkan untuk aktivitas memasak sehari-hari.
"Kalaupun harganya naik nggak masalah, yang penting barangnya ada. Kebetulan ini tadi dapat di salah satu toko, stoknya ya tinggal satu ini. Harganya Rp 20 ribu," imbuhnya.
Hal senada dialami warga Desa Ngunut yang lain, Yati. Menurutnya ia telah berkeliling ke sejumlah pedagang, pangkalan hingga SPBU Pertamina, namun kondisinya kosong semua.
"Biasanya di toko sebelah ada, sekarang hanya ada tabung kosong saja. Di pangkalan katanya juga belum dapat kiriman. Bahkan saya sampai dua kali ke SPBU di Pulosari juga kosong," kata Yati.
Pihaknya menyebut kelangkaan gas bersubsidi tersebut menyulitkan masyarakat, terlebih saat ini memasuki bulan puasa. Warga berharap pemerintah hingga Pertamina turun tangan terkait kelangkaan ini.
"Tiap mau puasa kok seperti ini. Pasti nanti pemerintah bilang warga panic buying, panic buying yang mana, memangnya gas bisa ditimbun, la kita punya cuma satu tabung. Kalau mau beli lagi ya nunggu habis dulu," ujarnya kesal.
