- Ciri-ciri Malam Lailatul Qadar Berdasarkan Hadis 1. Malamnya Cerah dan Matahari Tak Terik 2. Angin Berhembus Lembut 3. Terjadi pada Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan 4. Lebih Berpeluang di Malam Ganjil
- Waktu Turunnya Malam Lailatul Qadar
- Amalan Malam Lailatul Qadar 1. Menghadiri Sholat Berjemaah 2. Melaksanakan Qiyamul Lail 3. Iktikaf 4. Membaca Doa Lailatul Qadar 5. Membaca Sayyidul Istigfar 6. Tilawah Al-Qur'an
Malam Lailatul Qadar adalah malam paling mulia di bulan Ramadhan, bahkan disebut lebih baik dari seribu bulan. Keistimewaannya disebutkan dalam Al-Qur'an, tepatnya dalam surat Al-Qadr.
Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk mencari malam ini terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Namun, waktu pastinya dirahasiakan agar umat Islam terus beribadah dan tidak hanya fokus pada satu malam saja. Lalu, apa saja ciri-ciri malam Lailatul Qadar berdasarkan hadis Rasulullah SAW?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ciri-ciri Malam Lailatul Qadar Berdasarkan Hadis
Dirangkum dari beberapa sumber seperti Baznas, NU Online, dan detikHikmah, beberapa tanda datangnya malam Lailatul Qadar disebutkan dalam hadis. Berikut ciri-ciri malam Lailatul Qadar.
1. Malamnya Cerah dan Matahari Tak Terik
Diriwayatkan dari Ubay bin Ka'ab, dijelaskan bahwa Lailatul Qadar terjadi saat malam hari ketika Rasulullah memerintahkan umatnya untuk menegakkan sholat.
"Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke-27 dari bulan Ramadhan. Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya mataharinya terbit berwarna putih tanpa sinar yang menyorot." (HR Muslim No 762)
Dalam riwayat lain yang disebutkan Imam Ahmad, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa malam Lailatul Qadar terlihat cerah dan terang, seolah-olah bulan bersinar jelas. Malam tersebut juga tenang dan tidak banyak gangguan cuaca.
Nabi Muhammad SAW juga bersabda pada saat malam Lailatul Qadar, malam hari terlihat cerah atau terang, namun tidak dingin dan tidak panas. Malam Lailatul Qadar juga tidak berawan dan tidak hujan, tidak pula nampak bintang-bintang di langit.
2. Angin Berhembus Lembut
Langit pada malam Lailatul Qadar begitu terang dan udaranya terasa sangat sejuk. Pada malam itu pula angin berhembus kencang dan tidak ada petir. Hal ini sesuai dengan hadis dari sahabat Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
"Sesungguhnya aku melihat Lailatul Qadar kemudian aku melupakannya, Lailatul Qadar turun pada 10 akhir (bulan Ramadhan) yaitu malam yang terang, tidak dingin, tidak panas, serta tidak turun hujan." (HR Ibnu Khuzaimah No 2190 dan Ibnu Hibban No 3688 dan disahihkan oleh keduanya)
3. Terjadi pada Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan
Rasulullah SAW bersabda:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Artinya: Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. (HR Bukhari dan Muslim)
Rasulullah SAW menyampaikan ini saat menjelaskan keutamaan Lailatul Qadar setelah diturunkannya surat Al-Qadr, untuk mendorong umat tidak melewatkan pahala luar biasa seperti turunnya malaikat dan ampunan dosa.
Ia sendiri mencontohkan dengan memperbanyak sholat malam, doa, dan itikaf, bahkan setelah sempat dirahasiakan waktunya sebelumnya.
4. Lebih Berpeluang di Malam Ganjil
Rasulullah juga menjelaskan bahwa Lailatul Qadar terjadi pada malam-malam ganjil. 10 malam terakhir pada malam ganjil seperti 21,23,25,27, atau 29 Ramadhan.
Dari Ubada bin Shamit, Rasulullah SAW bersabda: "Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil, yaitu malam 21, 23, 25, 27, atau 29, atau pada akhir malam Ramadhan." (HR Tirmidzi)
Waktu Turunnya Malam Lailatul Qadar
Waktu pastinya dirahasiakan. Namun, dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam an-Nawawi, Lailatul Qadar dicari di malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir Ramadhan.
Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Aisyah RA. Rasulullah SAW bersabda agar umatnya bersungguh-sungguh mencari Lailatul Qadar di malam ganjil pada 10 malam terakhir Ramadhan.
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَعَنْ عَائِشَةَ فِي الْوَتْرِ مِنَ العَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Arab Latin: Taharrāw lailatal-qadri wa 'an 'Āisyata fil-witri minal-'asyri al-awākhiri min Ramaḍān.
Artinya: Bersungguh-sungguhlah kalian mencari Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. (HR Bukhari)
Jika dilihat dari perhitungan awal Ramadhan 1447 Hijriah yang jatuh pada Kamis 19 Februari 2026, kemungkinan malam-malam ganjil tersebut jatuh pada tanggal-tanggal berikut.
- Malam 21 Ramadhan: Selasa 10 Maret 2026 malam
- Malam 23 Ramadhan: Kamis 12 Maret 2026 malam
- Malam 25 Ramadhan: Sabtu 14 Maret 2026 malam
- Malam 27 Ramadhan: Senin 16 Maret 2026 malam
- Malam 29 Ramadhan: Rabu 18 Maret 2026 malam
Amalan Malam Lailatul Qadar
Para ulama Mazhab Syafi'i dalam Kitab Induk Doa dan Zikir Terjemah Kitab al-Adzkar Imam an-Nawawi juga menganjurkan perbanyak amalan pada malam tersebut. Seperti, membaca Al-Qur'an dan zikir pada waktu dan tempat yang dimuliakan. Selain itu, disunahkan untuk mengamalkan amalan berikut.
1. Menghadiri Sholat Berjemaah
Dijelaskan Abu Maryam Kautsar Amru dalam buku "Memantaskan Diri Menyambut Bulan Ramadhan", dianjurkan untuk menegakkan sholat Isya dan Subuh berjemaah.
Hal ini dipertegas ulama besar Imam Syafi'i dalam Latha-if Al-Ma'arif yang berpendapat bahwa orang yang menghadiri sholat Isya dan Subuh berjemaah sudah termasuk dalam bagian orang-orang yang menghidupkan malam Lailatul Qadar.
مَنْ شَهِدَ العِشَاءَ وَ الصُّبْحَ لَيْلَةَ القَدْرِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظِّهِ مِنْهَا
Artinya: Siapa yang menghadiri salat Isya dan shalat Subuh pada malam Lailatul Qadar maka ia telah mengambil bagian dari malam tersebut.
Pernyataan tersebut juga disandarkan dari sabda Rasulullah SAW yang diceritakan oleh Utsman bin Affan RA. Rasulullah SAW bersabda,
مَنْ شَهِدَ الْعِشَاءَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ قِيَامُ نِصْفِ لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِى جَمَاعَةٍ كَانَ لَهُ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ
Artinya: Siapa yang menghadiri sholat Isya berjemaah, maka baginya pahala sholat separuh malam. Siapa yang melaksanakan sholat Isya dan Subuh berjemaah, maka baginya pahala sholat semalam penuh. (HR Muslim dan Tirmidzi)
2. Melaksanakan Qiyamul Lail
Sabda Rasulullah SAW yang diceritakan Abu Hurairah RA, menjelaskan bahwa:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: Barang siapa yang bangun menegakkan salat malam di malam Lailatul Qadar karena keimanan dan mencari rida Allah maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni. (HR Bukhari dan Muslim)
3. Iktikaf
Iktikaf adalah ibadah yang dicirikan dengan berdiam diri di dalam masjid dan menjadi salah satu amalan malam Lailatul Qadar. Berdiam diri merujuk pada tidak keluar masjid karena sibuk melakukan amalan saat itikaf seperti ibadah wajib dan sunnah.
Pengamalan iktikaf pada malam Lailatul Qadar didasarkan dari hadis yang diceritakan Aisyah RA. Dikisahkan, Nabi Muhammad SAW melakukan iktikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan.
"Nabi SAW melakukan itikaf pada hari kesepuluh terakhir dari bulan Ramadhan, (beliau melakukannya) sejak datang di Madinah sampai beliau wafat, kemudian istri-istri beliau melakukan itikaf setelah beliau wafat." (HR Muslim)
4. Membaca Doa Lailatul Qadar
Doa yang diajarkan Rasulullah SAW kepada Aisyah RA sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Imam Nasa'i, dan Imam Ibnu Majah dalam Kitab Riyadhus Shalihin oleh Imam an-Nawawi adalah sebagai berikut.
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Arab Latin: Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwan fa'fu 'anni.
Artinya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, dan Engkau suka memberi maaf, maka maafkan aku.
5. Membaca Sayyidul Istigfar
Disunahkan juga untuk menghidupkan malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan dengan memperbanyak membaca istigfar pada waktu sahur dan baiknya membaca sayyidul istigfar. Berikut bacaan doa sayyidul istigfar sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Bukhari.
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
Arab Latin: Allahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta khalaqtanii wa anna 'abduka wa anaa 'alaa 'ahdika wa wa'dika. Mastatha'tu a'uudzu bika min syarri maa shana'tu abuu u laka bini' matika 'alayya wa abuu-u bidzanbii faghfir lii fa innahu laa yagfirudz dzunuuba illa anta.
Artinya: Hai Tuhanku, Engkau Tuhanku. Tiada tuhan yang disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perintah iman sesuai perjanjian-Mu sebatas kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang kuperbuat. Kepada-Mu, aku mengakui segala nikmat-Mu padaku. Aku mengakui dosaku. Maka itu ampunilah dosaku. Sungguh tiada yang mengampuni dosa selain Engkau. (HR Bukhari)
6. Tilawah Al-Qur'an
Amalan ini disebut pula menjadi salah satu kebiasaan Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan.
وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ
Artinya: Jibril menemuinya pada tiap malam malam bulan Ramadhan, dan dia (Jibril) bertadarus Al-Qur'an bersamanya. (HR Bukhari)
(hil/irb)











































