Jadi Logo HUT ke-539 Gresik, Populasi Rusa Bawean Masih Terancam

Jadi Logo HUT ke-539 Gresik, Populasi Rusa Bawean Masih Terancam

Jihan Navira - detikJatim
Rabu, 04 Mar 2026 07:30 WIB
Rusa Bawean Gresik
Rusa Bawean Gresik (Foto: Istimewa)
Gresik -

Rusa Bawean yang menjadi logo Hari Ulang Tahun (HUT) ke-539 Kabupaten Gresik menjadi simbol kebanggaan daerah. Namun di balik tampilannya sebagai ikon perayaan, kondisi satwa endemik di habitat aslinya masih menghadapi berbagai ancaman.

Kepala Bidang KSDA Wilayah II Gresik, Ichwan Muslih Mihardja (50) mengatakan populasi Rusa Bawean di alam liar saat ini diperkirakan berkisar hanya 250 individu hingga 400 individu.

"Kalau dilihat dari tren 5 tahun terakhir, populasinya relatif stabil. Tapi jumlahnya memang kecil dan rentan," kata Ichwan saat dihubungi detikJatim, Selasa (3/3).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, angka itu dipengaruhi sejumlah faktor. Mulai dari konflik satwa dengan manusia hingga tekanan pembangunan yang berpotensi memicu fragmentasi habitat.

Ancaman Terhadap Rusa Bawean

Salah satu ancaman yang masih ditemukan di habitat Rusa Bawean adalah jerat yang dipasang warga untuk menangkap babi kutil. Kawasan hutan di Pulau Bawean berbatasan langsung dengan lahan pertanian masyarakat sehingga konflik antara satwa liar dan manusia kerap terjadi.

ADVERTISEMENT

"Jerat biasanya dipasang untuk babi kutil yang masuk ke lahan pertanian. Tapi kadang rusa ikut terjerat," ujarnya.

Meski perburuan liar tidak lagi seintensif masa lalu, potensi ancaman tersebut masih ada. Dalam beberapa kasus, rusa yang terjerat dan masih hidup segera ditangani petugas untuk kemudian dilepasliarkan lagi ke habitatnya.

Ichwan menyebut kesadaran masyarakat Bawean saat ini menunjukkan peningkatan. Komunikasi dan pendekatan yang dilakukan petugas konservasi mulai membuahkan hasil, ditandai dengan keterlibatan warga dalam upaya pelestarian.

Untuk menekan risiko jeratan terhadap Rusa Bawean, dia menyatakan bahwa Balai Besar KSDA Jawa Timur telah rutin menggelar smart patrol setiap bulan dengan melibatkan masyarakat setempat.

"Warga sangat antusias dan selalu ingin berpartisipasi, jadi smart patrol ini kami lakukan bersama warga. Kami pantau populasi, deteksi jerat, sekaligus edukasi masyarakat," jelasnya.

Babi Kutil Juga Dilindungi

Namun Ichwan juga menggarisbawahi bahwa Bawean sebagai pulau kecil tidak hanya menjadi habitat Rusa Bawean. Di wilayah itu juga hidup babi kutil yang termasuk spesies endemik dan berstatus dilindungi. Jadi, potensi yang perlu diantisipasi adalah konflik satwa liar dengan masyarakat, terutama babi kutil yang kerap masuk ke lahan pertanian.

"Ini kan menarik. Secara konservasi, babi kutil itu juga dilindungi," terangnya.

Karena itu, BBKSDA terus melakukan kegiatan penyadaran kepada masyarakat untuk menangani konflik dengan babi kutil secara tepat. Jika warga menemukan babi kutil yang terjerat mereka diminta tidak membunuhnya, melainkan segera melapor agar bisa ditangani petugas.

"Babi kutil tidak tahu mana yang boleh dimakan dan mana yang tidak. Mereka tahunya, perkebunan atau pertanian itu adalah gudang makanan bagi mereka," katanya.

Potensi Ancaman Lainnya

Selain jerat, ancaman lain terhadap Rusa Bawean datang dari potensi fragmentasi habitat akibat pembangunan dan meningkatnya kebutuhan lahan.

Pulau Bawean memiliki luas wilayah yang terbatas, sementara populasi manusia terus bertambah. Jika pembangunan tidak dikendalikan, kawasan hutan berisiko terpecah menjadi bagian-bagian kecil yang dapat mengganggu ruang gerak satwa liar.

"Sebagai pulau kecil, Bawean memiliki keterbatasan ruang, sementara kebutuhan lahan terus meningkat. Jadi pulau kecil seperti Bawean ini daya dukung lingkungannya harus benar-benar dihitung, baik untuk masyarakat maupun untuk satwa liar," tegas Ichwan.

Fragmentasi habitat bisa membatasi pergerakan rusa, mengurangi ketersediaan pakan, hingga memengaruhi keberhasilan reproduksi. Dalam jangka panjang, kondisi itu bisa berdampak pada stabilitas populasi yang memang sudah terbatas.

Koordinasi dengan Pemkab Gresik

Menurut Ichwan, selama ini koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Gresik berjalan cukup baik sehingga kawasan konservasi belum tergerus secara signifikan. Setiap rencana pembangunan selalu dikomunikasikan demi memastikan tidak menggerus kawasan suaka margasatwa dan cagar alam.

Namun, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama dalam pengendalian tata ruang.

"Ini menjadi tugas kita bersama, termasuk Pemerintah Gresik, terkait kapasitas daya dukung lingkungan. Bagaimanapun pembangunan dan konservasi harus berdampingan," ujarnya.

Ia menekankan, momentum penggunaan Rusa Bawean sebagai logo HUT Gresik seharusnya menjadi refleksi bersama bahwa pembangunan dan konservasi hutan tidak boleh berjalan parsial.

"Kita paham pembangunan harus dilakukan. Tapi konservasinya juga harus tetap berjalan dengan baik. Mudah-mudahan dengan digunakannya sebagai logo, identitas daerah semakin kuat dan menjadi tanda bahwa kita semua harus mampu menjaga warisan ekologi yang ada di Pulau Bawean," katanya.

Habitat Asli Rusa Bawean

Habitat utama Rusa Bawean berada di kawasan suaka margasatwa dan cagar alam di Pulau Bawean. Dalam pengelolaan kedua kawasan konservasi tersebut, pihak KSDA tidak lepas dari bantuan serta koordinasi pemerintah daerah.

"Dari sisi administrasi dan koordinasi, kami selalu keep in touch dengan Pemkab Gresik, termasuk pemerintah kecamatan di Bawean. Ini penting karena kita tidak hanya berbicara soal kawasan suaka dan cagar alam saja, tapi juga pengendalian tata ruang Bawean secara keseluruhan," jelasnya.

Ia mengingatkan agar kawasan hutan tidak tergerus pembangunan demi mencegah fragmentasi habitat Rusa Bawean. Selain itu, aspek yang tak kalah penting adalah peningkatan kesadaran dan edukasi masyarakat.

"Yang paling penting itu kesadaran dan pengetahuan masyarakat Bawean supaya mereka bangga dengan adanya Rusa Bawean yang hanya ada di Pulau Bawean dan itu milik Indonesia," ujarnya.

Supaya Tak Hanya Jadi Logo

Menurutnya, pengelolaan tidak cukup hanya sebatas kawasan konservasi, melainkan harus melihat lanskap tata ruang di sekitarnya. Koordinasi lintas pihak pun terus dilakukan untuk memastikan keseimbangan tersebut.

"Jadi Rusa Bawean bukan sebatas ikon saja. Ke depan mau diapakan, bagaimana melestarikannya, itu harus jelas. Jangan sampai hanya dirasakan saat event ulang tahun, tapi tidak ada keberlanjutan dari kegiatan pelestarian yang dilakukan semua pihak, termasuk Pemerintah Gresik," tegas Kepala Bidang KSDA Wilayah II Gresik itu.

Selain pembangunan fisik, potensi tumbuhan invasif juga menjadi perhatian. Jika vegetasi asing menguasai area terbuka, tanaman lokal yang menjadi pakan alami rusa bisa tergantikan.

"Kalau sampai tanaman invasif menggantikan tumbuhan lokal, itu bisa jadi masalah. Tapi sejauh ini relatif masih aman," pungkasnya.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads