Rusa Bawean jadi simbol logo Hari Ulang Tahun (HUT) ke-539 Kabupaten Gresik. Penggunaan Rusa Bawean ini mendapat apresiasi dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA) Jawa Timur. Lalu, bagaimana populasi dan kondisi satwa endemik Pulau Bawean itu?
Kepala Bidang KSDA Wilayah II Gresik, Ichwan Muslih Mihardja menyebut, pemilihan Rusa Bawean sebagai logo bukan keputusan biasa. Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan pengakuan terhadap kekayaan hayati yang dimiliki Gresik.
"Saya pikir ini menjadi bentuk pengakuan terhadap identitas ekologi Gresik itu sendiri. Rusa Bawean adalah spesies endemik yang hanya ada di Pulau Bawean," kata Ichwan saat dihubungi detikJatim, Selasa (3/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menilai, momentum HUT seharusnya menjadi refleksi bersama bahwa kekuatan daerah bukan hanya terletak pada pembangunan fisik, tetapi juga pada warisan ekologinya. Karena itu, ia mengingatkan agar penggunaan rusa sebagai logo tidak berhenti sebagai simbol visual semata.
"Dari sisi konservasi ini menarik dan kami apresiasi. Tetapi kami berharap ini bukan hanya simbol yang kita nikmati secara visual saja," tegasnya.
Sementara itu, di balik kemunculannya sebagai logo kebanggaan daerah, kondisi Rusa Bawean di alam liar masih tergolong rentan. Populasinya saat ini diperkirakan hanya berkisar 250 hingga 400 satwa.
Ichwan mengatakan, dalam lima tahun terakhir, jumlah tersebut relatif stabil. Namun, stabil bukan berarti aman.
"Kalau dilihat dari tren lima tahun terakhir, populasinya relatif stabil. Tapi jumlahnya memang kecil dan rentan," ujarnya.
Merujuk sejumlah kajian lapangan yang dilakukan KSDA maupun peneliti, Ichwan menyebut Rusa Bawean masih memiliki potensi kepunahan yang tinggi. Hal ini karena satwa tersebut hanya hidup di Pulau Bawean yang luasnya terbatas, sehingga terisolasi secara geografis dan sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan.
"Keberadaannya terisolasi secara geografis. Populasinya stabil, tapi dari sisi konservasi masih rentan dan tingkat ancaman punahnya masih tinggi," jelasnya.
Karena keterbatasan habitat itu, secara global Rusa Bawean masuk kategori critically endangered atau terancam punah.
Sebagai praktisi konservasi, Ichwan menegaskan Rusa Bawean tidak sekadar satwa dilindungi, tetapi juga indikator kesehatan ekosistem Bawean.
"Kalau populasinya stabil, kita bisa menyimpulkan habitatnya masih terjaga. Artinya sistem ekologi di Pulau Bawean masih bekerja dengan baik," katanya.
Sebaliknya, apabila populasi menurun, hal itu bisa menjadi alarm bahaya ekologis yang menandakan adanya perubahan lingkungan yang harus segera diperbaiki.
Menurutnya, penggunaan Rusa Bawean sebagai logo HUT semestinya memperkuat identitas ekologis Gresik sekaligus menumbuhkan tanggung jawab kolektif untuk menjaganya.
"Jangan sampai kita bangga menjadikannya logo, tapi lupa bahwa kita juga punya tanggung jawab untuk menjaganya," pungkasnya.
(auh/hil)











































