Akan sangat melelahkan jika ucapan "Semoga harimu Senin terus" mewujud nyata bagi para pengendara Sidoarjo yang bekerja di Surabaya. Bagaimana tidak, para pekerja ini harus melewati dua simpul kemacetan setiap awal pekan.
Titik pertama, tak lain dan tak bukan adalah perempatan Gedangan. Sudah tak asing di telinga para pengendara Sidoarjo. Sebab pukul 06.30 WIB pagi pun kendaraan sudah berhimpitan dan saling mencari celah untuk mendahului.
Simpang empat Gedangan memang sudah lama menjadi momok bagi para pengendara. Tingginya volume kendaraan yang tidak diimbangi dengan kapasitas dan pelebaran jalan memadai membuat arus dari berbagai arah kerap tumplek blek di tengah perempatan saat lampu lalu lintas berganti. Waktu tunggu yang relatif lama di setiap fase membuat antrean cepat mengular, terutama pada jam berangkat kerja di awal pekan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski rencana pembangunan flyover telah dicanangkan dan akan dimulai pada tahun ini, pantauan detikJatim di lokasi belum menunjukkan adanya proses pembebasan lahan maupun tanda-tanda dimulainya pekerjaan proyek tersebut. Akibatnya, perempatan Gedangan masih menjadi ujian pertama bagi para pekerja yang harus menembus kemacetan menuju Surabaya.
Usai terbebas dari simpul kemacetan pertama, para pengendara kembali harus menghela napas panjang saat memasuki kawasan Aloha. Flyover yang telah beroperasi sejak awal 2024 itu seolah tak banyak membantu ketika Senin tiba. Arus kendaraan tetap padat dan melambat hingga depan Terminal Purabaya.
Salah satu pengendara yang rutin melintas, Miko mengaku banyaknya kendaraan besar yang melintas menjadi salah satu penyebab kemacetan di kawasan ini.
"Banyak truk-truk yang melintas di sini, jadi memakan banyak jalan. Padahal seharusnya mereka (truk) nggak boleh lewat sini sebelum jam 09.00 WIB pagi," ucapnya.
Tak jarang, kendaraan besar tersebut mengalami mogok atau kendala ban sehingga terpaksa berhenti di tengah maupun di bahu jalan. Kondisi itu pun kerap memperparah kemacetan, bahkan pada hari biasa.
"Kadang itu, di hari-hari biasa sering ada truk mogok atau ban nya bocor. Itu jadi penyebab kemacetan lainnya juga," tambah Miko.
Setelah 20 menit berlalu, sumber kemacetan mulai terlihat. Sejumlah bus antarkota tampak berhenti di tepi jalan luar kawasan Terminal Purabaya untuk menarik penumpang.
Informasi yang dihimpun, tengah terjadi perbaikan jalan di Pintu Keluar Bus Luar Kota Terminal Purabaya, sehingga bus dialihkan melewati Pintu Keluar Bus Antarkota.
Jika biasanya telah disediakan jalur khusus bus yang dipisahkan dengan pembatas beton guna mencegah kendaraan berhenti sembarangan. Saat ini, jalur tersebut ditutup sementara.
Sehingga, bus-bus yang bandel memilih berhenti tepat di area exit dan memakan badan jalan. Aktivitas tersebut membuat jalur utama menyempit karena kendaraan lain harus bergantian menghindari badan bus.
Di jam sibuk Senin pagi, kondisi ini memicu antrean panjang yang merambat hingga ke kawasan Aloha dan memperlambat laju kendaraan secara signifikan. Waktu tempuh dari Aloha menuju Bundaran Waru yang normalnya sekitar 10 menit pun bisa membengkak menjadi 20 hingga 30 menit pada awal pekan.
Total waktu perjalanan para pengendara Sidoarjo yang berangkat pukul 06.00 WIB pagi dari pusat kota, baru bisa bernapas lega saat memasuki Bundaran Waru sekitar pukul 07.15 WIB. Tak heran beberapa memilih menggunakan alternatif kendaraan lain seperti kereta api komuter untuk menghindari kemacetan.
Salah satunya Maria. Ia memilih naik kereta dengan rute Sidoarjo-Surabaya setiap awal pekan untuk terbebas dari simpul kemacetan.
"Paling sering setiap Senin sih mbak naik kereta. Karena ya itu, perempatan Gedangan macet, belum lagi setelahnya Aloha, bawahnya jembatan layang (Flyover Waru). Muesti itu tiap Senin, kalau mau terhindar macet ya harus berangkat setengah enam dari Sidoarjo," urainya.
Waktu tempuh dengan kereta jauh lebih pasti dibandingkan membawa kendaraan pribadi. Dalam kondisi normal, perjalanan dari Sidoarjo ke Surabaya seharusnya bisa ditempuh sekitar 30-40 menit. Namun pada Senin pagi, durasinya kerap tak menentu.
"Kalau naik kereta kan sudah jelas jadwalnya. Lebih cepat dan nggak stres di jalan," tambah Maria.
(irb/hil)











































