Udara Sejuk Kota Batu Mulai Terancam Polusi

Udara Sejuk Kota Batu Mulai Terancam Polusi

M bagus Ibrahim - detikJatim
Senin, 02 Mar 2026 07:00 WIB
Bianglala Alun-alun Kota Batu Rusak
Alun alun Kota Batu (Foto: M Bagus Ibrahim)
Batu -

Kesejukan udara merupakan salah satu keunggulan yang dimiliki Kota Batu sebagai daerah jujukan wisatawan. Namun, kualitas udara di Kota Apel ini mulai mengalami penurunan karena polusi.

Berdasarkan laporan Kaleidoskop Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu 2025, Indeks Kualitas Udara (IKU) tercatat menurun. Kemerosotan ini terlihat dari angka barometer kesehatan napas warga dan pengunjung.

Dalam laporan Kaleidoskop tersebut, tahun 2025, indeks kualitas udara di Kota Batu berada di angka 73,10. Jumlah tersebut menurun dibanding tahun 2024 yang mencatat indek kualitas udara di angka 83,95.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu, Dian Fachroni Kurniawan, tidak menampik kondisi tersebut. Ia mengakui bahwa capaian IKU saat ini masih jauh dari target yang sebelumnya dipatok di angka 87,07.

Dian menyampaikan, angka 73,10 menunjukkan adanya tekanan besar pada beban emisi di Kota Batu yang terungkap dari hasil pemantauan baku mutu lingkungan hidup. Menurutnya, penurunan kualitas udara ini dipicu beberapa faktor.

ADVERTISEMENT

Selain pengaruh perubahan iklim, gas rumah kaca, dan gas metan, faktor perilaku masyarakat juga memegang peran besar. Salah satu yang paling mempengaruhi adalah masih banyaknya aktivitas warga yang melakukan pembakaran sampah secara kurang bertanggung jawab.

"Ada faktor perubahan iklim, gas rumah kaca, gas methan, dan paling mempengaruhi masih bakar-bakar sampah," ungkap Dian kepada awak media, Minggu (1/3/2026).

Hal ini diperparah dengan tingginya volume kendaraan bermotor yang memadati jalanan protokol Kota Batu, terutama saat akhir pekan dan musim liburan, yang menyumbang emisi karbon dari bahan bakar fosil.

Selain itu, aktivitas pembangunan infrastruktur serta pembukaan lahan juga disinyalir ikut menyumbang debu partikular ke udara.

Terkait akurasi data, pemantauan ini dilakukan menggunakan metode active sampler di delapan titik lokasi selama 24 jam penuh untuk mengidentifikasi sumber dan tingkat pencemaran secara akurat.

Dian mengaku bahwa kini tengah menyusun strategi untuk melakukan upaya pemulihan kualitas udara. Ia menekankan bahwa upaya ini tidak bisa dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup sendirian, melainkan membutuhkan sinergi lintas sektor.

Langkah-langkah strategis seperti penataan lalu lintas untuk menekan emisi hingga gerakan penanaman pohon di area-area krusial menjadi prioritas utama demi mengembalikan kesegaran udara Kota Batu.




(ihc/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads