Mirisnya Perdagangan Bayi Hiu di Gresik

Mira Rachmalia - detikJatim
Sabtu, 28 Feb 2026 10:40 WIB
Perdagangan bayi hiu di Bawean Gresik (Foto: Istimewa)
Gresik -

Pemandangan tak biasa terlihat di Pasar Ikan Desa Daun, Pulau Bawean, Gresik. Selain ragam hasil laut yang biasa diperdagangkan, aktivitas perdagang­an bayi hiu yang masih berukuran kecil turut dijajakan di salah satu pasar.

Praktik ini bukan sekadar persoalan perdagangan satwa laut, tetapi juga menjadi sinyal ancaman serius bagi ekosistem laut jika terus dibiarkan tanpa pengawasan dan edukasi yang memadai.

Temuan menarik ini diungkap oleh Yayasan Alam Biodiversitas Indonesia (ABI) yang melakukan pemantauan di wilayah pesisir Pulau Bawean. Ketua Pengawas ABI, Guslan Gumilang, menyatakan bahwa masih banyak hiu yang berukuran kecil diperjualbelikan di pasar tradisional.

"Iya, kita temukan masih banyak yang melakukan perdagangan hiu-hiu kecil di Pasar Ikan Desa Daun Bawean," ujarnya, Jumat (27/2/2026).

Menurut Guslan, sebagian bayi hiu yang dijual diduga terjaring bersama ikan lain saat nelayan melaut. Namun, ada pula pengakuan dari sejumlah nelayan yang sengaja memancing hiu tersebut.

Terutama pada musim-musim tertentu, ia menyebut harga hiu di pasar bisa mencapai Rp 60 ribu per kilogramnya.

"Kadang tergantung musim juga. Ada saat hiu banyak ditangkap dan dijual," tambahnya.

Meski jumlah hiu yang tertangkap relatif kecil - berkisar 10 hingga 15 ekor - praktik ini tetap menjadi keprihatinan karena banyak nelayan atau pedagang yang belum memahami mana jenis hiu yang dilindungi.

"Banyak nelayan atau penjual yang belum mendapat sosialisasi tentang ikan-ikan yang dilindungi. Ada yang terputus di sini, terutama masalah informasi," jelas Guslan.

ABI mencatat beberapa jenis hiu yang dijual di pasar tersebut termasuk spesies yang dilindungi, seperti hiu blacktip, hiu whitetip, dan hiu martil. Beberapa di antaranya dilindungi penuh dan dilarang untuk ditangkap, sementara jenis lain memiliki ketentuan penangkapan tertentu. Guslan berharap pendidikan dan sosialisasi tentang konservasi satwa laut dapat diperkuat, misalnya melalui pemasangan poster spesies dilindungi dan edukasi langsung kepada komunitas nelayan dan pedagang.

Isu perdagangan bayi hiu ini mendapat sorotan karena tidak hanya soal perdagangan, tetapi juga potensi dampaknya terhadap keseimbangan ekosistem laut. Praktik penangkapan hiu, termasuk yang masih kecil, dinilai dapat mengancam populasi predator puncak laut.

"Semakin banyak hiu ditangkap, populasinya akan turun dan berdampak pada ekosistem laut. Karena itu perlindungan dan sosialisasi harus dimaksimalkan," kata Guslan.

Sebagai predator puncak, hiu berperan penting dalam menjaga keseimbangan rantai makanan laut. Penurunan jumlah hiu dapat menyebabkan peningkatan predator tingkat menengah, seperti kakap dan kerapu, yang kemudian berdampak pada populasi ikan kecil serta kesehatan terumbu karang. Ketidakseimbangan ini bisa merembet hingga memengaruhi kualitas keseluruhan ekosistem laut jika tidak ada tindakan perlindungan yang efektif.

Upaya edukatif dan penguatan kebijakan menjadi kunci untuk menghentikan praktik perdagangan bayi hiu yang meresahkan ini serta menjaga keberlanjutan ekosistem laut di perairan Gresik.



Simak Video "Video Toko Ban Mobil di Gresik Terbakar, Petugas Berjibaku Padamkan Api"

(ihc/dpe)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork