Pasti detikers sudah familiar dengan lampion merah yang disusun rapi membentang di sepanjang jalan pada perayaan Imlek kan? Nah, faktanya menurut Feng Shui atau seni mengatur tata letak, lampion ini punya makna mendalam yang lebih dari sebatas dekorasi.
Itulah kenapa peletakkannya tak boleh asal. Jadi, sebenarnya bagaimana makna dan aturan tata letak lampion ini menurut Feng Shui? Yuk, bahas sama-sama detikers!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Makna Lampion Merah
Kalau bicara soal lampion merah dalam Feng Shui, warna ini memang punya aura yang paling kuat. Merah identik dengan elemen Api, yang energinya hidup, aktif, dan penuh dorongan. Karena itu, lampion merah sering diasosiasikan dengan kemakmuran, ketenaran, pengakuan, sampai daya tarik rezeki. Bukan berarti warna lain nggak bisa membawa keberlimpahan, tapi merah dianggap paling unggul soal keberuntungan finansial.
Dalam Feng Shui, warna punya perannya masing-masing. Merah dikenal paling jago mengaktifkan energi Yang yang dinamis atau energi yang bergerak cepat dan agresif dalam arti positif. Efeknya paling terasa kalau ditempatkan di sektor selatan rumah atau ruangan, karena area ini memang berhubungan dengan reputasi, kesuksesan, dan pencapaian.
Penempatan Lampion Merah Menurut Feng Shui
Kalau mau pakai lampion merah sebagai penggerak hoki ala Feng Shui, penempatannya nggak bisa asal cantik saja. Tapi idealnya dipasang mengikuti panduan peta Bagua.
Supaya efeknya maksimal, lampion sebaiknya digantung seimbang kanan dan kiri, di ketinggian mata sampai sekitar 2-2,5 meter dan jumlahnya pakai angka yang dianggap membawa keberuntungan seperti sepasang, tiga, atau sembilan.
Penempatan yang baik menurut peta Bagua Feng Shui adalah:
1. Di Pintu Depan Rumah
Area ini bisa dibilang wajahnya rumah. Idealnya, pasang sepasang lampion di kanan dan kiri pintu utama atau gerbang, dengan ketinggian sekitar 1,8-2,5 meter dan sedikit menghadap ke luar. Fungsinya untuk menyambut rezeki yang datang, sekaligus menahan energi negatif (Sha Chi). Penempatan ini sangat bagus untuk rumah yang menghadap selatan atau tenggara.
2. Sektor Tenggara
Kalau mengacu ke Bagua, sektor kekayaan ada di pojok kiri paling jauh dari pintu masuk. Di area ini, kamu bisa menggantung satu atau tiga lampion, boleh dari langit-langit, dinding, atau diletakkan di meja.
3. Sektor Selatan
Bagian tengah bawah pada Bagua ini berkaitan dengan karier, nama baik, dan pengakuan. Di area ini, lampion merah bisa dipasang tiga atau sembilan buah, disusun vertikal atau berjajar rapi di dinding selatan. Efeknya membantu menyorot energi diri biar lebih terlihat dan bersinar. Supaya seimbang, tambahkan tanaman hijau di bagian bawahnya.
Puncak Imlek Dihiasi Terangnya Lampion Merah
Lampion ini biasa dinyalakan di kuil selama 15 hari setelah perayaan Imlek, di Indonesia ini dikenal sebagai perayaan Cap Go Meh. Hari itu menandai bulan purnama pertama di tahun baru lunar sekaligus menjadi penutup resmi dari seluruh perayaan Imlek. Lampion-lampion pun dinyalakan dan menerangi malam dengan cahaya hangatnya.
Tradisi ini sudah ada sejak lebih dari 2.000 tahun lalu. Dalam budaya Tiongkok, dipercaya bahwa menyalakan lampion melambangkan kebersamaan, kemakmuran, dan kemenangan atas energi buruk.
Bahkan ada cerita rakyat yang mengatakan bahwa dulu warga desa menyalakan lampu merah untuk menipu pasukan langit agar mengira desa mereka sudah terbakar, sehingga rumah-rumah pun terselamatkan. Sejak saat itu, cahaya lampion dipercaya mampu mengusir kesialan dan melindungi rumah.
Biasanya, lampion dibiarkan menyala untuk sementara waktu saja. Hal ini dipercaya sebagai simbol untuk melepaskan energi lama dari tahun sebelumnya, sebelum akhirnya dipadamkan.
Sejarah Pasang Lampion Merah dalam Perayaan Imlek
Tradisi pemasangan lampion telah ada sejak abad ke 3 Masehi, pada masa Dinasti Xi Han. Kemunculan lampion di daratan Tiongkok ini bertepatan dengan pengenalan teknik pembuatan kertas.
Lampion ini awalnya bertujuan sebagai sumber cahaya. Dahulu Dinasti Han Timur (25-220 M) menggunakan kerangka lentera dari bambu, kayu, atau jerami gandum. Lalu, lilin tersebut diletakkan di tengah dan membentangkan sutra di atasnya agar nyala api tidak tertiup.
Selanjutnya, lampion ini diadopsi biksu Budha untuk menjadi bagian dari ritual ibadah yang dilaksanakan setiap hari ke-15 bulan pertama kalender lunar. Atas perintah itu, setiap mengikuti ritual, mereka akan menyalakan lampion untuk menghormati Buddha dan membawanya ke istana di Luoyang.
Pada masa Dinasti Tang (618-907), praktiknya diubah menjadi festival yang masih dirayakan setiap tahun hingga kini. Di sisi lain, terdapat sebuah legenda mengenai lentera ini. Kisahnya bermula dari seorang pemimpin pemberontakan petani pada akhir Dinasti Ming (1368-1644) bernama Li Zicheng.
Konon, Li dan pasukannya menyerang sebuah Kota Kaifeng tanpa mengganggu rumah penduduk. Para penjaga kota Kaideng membuka bendungan untuk menghancurkan pasukan Li. Namun, banjir menghantam rumah-rumah penduduk. Saat kejadian itu, orang-orang menaiki atap rumah dengan membawa lampion merah. Li dan pasukannya menyelamatkan mereka dengan membawa lampion merah sebagai alat penerangan.
Oleh sebab itu, untuk mengingat kebaikan Li, masyarakat Tiongkok menggantung lampion merah setiap Tahun Baru Imlek. Lampion digunakan sebagai pengusir kekuatan jahat yang dilambangkan monster bernama Nian. Dengan memasang lampion di setiap rumah dipercaya dapat melindungi penghuninya dari ancaman kejahatan.
Lampion kemudian dikenal dan menyebar di berbagai negara termasuk Indonesia. Terdapat tiga jenis lampion di Indonesia, yakni lampion tradisional untuk Imlek, lampion modern dengan bahan, tampilan, dengan warna yang lebih beragam, dan lampion akulturasi.
Artikel ini ditulis Eka Fitria Lusiana, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.
(irb/hil)











































