Ayat-ayat Al-Qur'an tentang Keutamaan Ramadhan

Ayat-ayat Al-Qur'an tentang Keutamaan Ramadhan

Irma Budiarti - detikJatim
Rabu, 25 Feb 2026 03:00 WIB
Ilustrasi ayat-ayat Al-Quran tentang keutamaan Ramadhan.
Ilustrasi ayat-ayat Al-Qur'an tentang keutamaan Ramadhan. Foto: Freepik
Surabaya -

Bulan Ramadhan merupakan salah satu waktu paling istimewa dalam Islam, karena di dalamnya terdapat berbagai keutamaan yang tidak ditemukan pada bulan-bulan lainnya. Pada bulan ini, umat Islam diwajibkan menjalankan puasa, memperbanyak kebaikan, serta meningkatkan kualitas ibadah sebagai ketaatan kepada Allah SWT.

Keistimewaan Ramadhan bahkan secara langsung disebutkan dalam berbagai ayat Al-Qur'an sebagai pedoman dan pengingat bagi orang-orang beriman. Al-Qur'an tidak hanya menjelaskan kewajiban berpuasa, tetapi mengungkap hikmah, kemuliaan, serta berbagai ketentuan yang berkaitan dengan ibadah di bulan suci ini.

Melalui ayat-ayat tersebut, umat Islam dapat memahami bahwa Ramadhan adalah momen penuh rahmat, ampunan, dan kesempatan untuk memperbaiki diri serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ayat Al-Qur'an tentang Keutamaan Ramadhan

Beberapa ayat Al-Qur'an secara khusus menjelaskan tentang keutamaan dan kemuliaan bulan Ramadhan, mulai dari perintah puasa, turunnya Al-Qur'an, hingga berbagai keringanan yang diberikan kepada umat Islam.

Ayat-ayat ini menjadi dasar utama yang menunjukkan betapa pentingnya Ramadhan sebagai waktu yang penuh berkah dan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Berikut ayat Al-Qur'an tentang keutamaan bulan Ramadhan dilansir dari NU Online.

1. Surat Al-Baqarah Ayat 183

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَععَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Ayat tersebut menegaskan bahwa puasa Ramadhan merupakan kewajiban bagi setiap orang beriman. Kewajiban ini bukanlah hal baru, karena sebelumnya juga telah diperintahkan kepada umat-umat terdahulu.

Tujuan utama dari perintah puasa ini adalah untuk membentuk pribadi yang lebih bertakwa, yakni mampu menahan diri, meningkatkan kesadaran spiritual, serta semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

2. Surat Al-Baqarah Ayat 184

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Artinya: (Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan orang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Dalam tafsirnya, Imam Al-Maraghi menerangkan, yang dimaksud "hari-hari tertentu" merujuk pada hari-hari di bulan Ramadhan. Allah SWT tidak mewajibkan puasa sepanjang waktu atau puasa dahr, karena hal tersebut akan memberatkan hamba-Nya. Ketentuan ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang penuh kasih.

Lebih lanjut, Ahmad Musthafa Al-Maraghi juga menjelaskan ayat tersebut memuat keringanan bagi orang yang sedang sakit dan musafir. Keduanya diberikan izin untuk tidak berpuasa, terutama jika berpuasa justru dapat memperburuk kondisi kesehatan.

Sementara itu, musafir diperbolehkan berbuka apabila perjalanan yang ditempuh mencapai jarak yang memenuhi syarat dibolehkannya sholat qasar. Ketentuan ini menjadi bukti bahwa syariat Islam selalu mempertimbangkan kemampuan dan kondisi umatnya.

3. Surat Al-Baqarah Ayat 185

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Artinya: Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.

Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan adalah dipilihnya bulan ini sebagai waktu diturunkannya Al-Qur'an. Peristiwa turunnya Al-Qur'an tersebut berlangsung dalam dua tahap.

Pertama, Al-Qur'an diturunkan dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia sebagai pemuliaan terhadap kitab suci ini. Selanjutnya, pada tahap kedua, Al-Qur'an diturunkan secara bertahap dari langit dunia kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril, sesuai peristiwa dan kebutuhan umat pada saat itu.

4. Al-Baqarah Ayat 187

اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْۚ فَالْـٰٔنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْۗ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عٰكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ

Artinya: Dihalalkan bagimu pada malam puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkanmu. Maka, sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Akan tetapi, jangan campuri mereka ketika kamu (dalam keadaan) beriktikaf di masjid. Itulah batas-batas (ketentuan) Allah. Maka, janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa.

Ayat tersebut menjelaskan berbagai ketentuan mengenai hal-hal yang diperbolehkan dan dilarang selama menjalankan ibadah puasa. Di antaranya, Allah SWT memperbolehkan suami istri untuk berhubungan pada malam hari selama bulan Ramadhan, sebagai bentuk keringanan dan rahmat bagi umat Islam.

Setelah terbit fajar, muslim diwajibkan menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan suami istri hingga waktu berbuka puasa tiba. Ayat itu juga menegaskan larangan berhubungan suami istri bagi yang sedang iktikaf di masjid, karena iktikaf bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan kekhusyukan.




(hil/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads