- Apa Itu Sabar?
- Macam-macam Sabar
- 10 Ayat Al-Qur'an tentang Kesabaran 1. Orang sabar disempurnakan pahalanya tanpa batas (QS Az-Zumar: 10) 2. Orang Sabar Akan Diberi Balasan Tempat Tinggi dalam Surga (QS Al-Furqan: 75) 3. Sabar Bentuk Ketaatan (QS Shad: 17) 4. Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang berbuat kebaikan (QS Hud: 115) 5. Memperoleh Ampunan dan Pahala Besar (QS Hud: 11) 6. Pertolongan Allah Datang untuk Orang Sabar (QS Ali 'Imran: 125) 7. Orang Sabar Dicintai Allah (QS Ali 'Imran: 146) 8. Allah Bersama Orang-orang Sabar (QS Al Baqarah: 153) 9. Sabar Perbuatan Mulia (QS As-Syura: 43)
- Pentingnya Sabar Saat Puasa
Bagi umat Islam, Ramadhan menjadi momen yang tepat untuk menyadarkan kembali atas kesabaran sebagai manusia sekaligus hamba-Nya. Selain karena pahala yang berlipat ganda, bersabar saat menjalani puasa juga dapat menuntun untuk menjadi pribadi yang lebih baik, bahkan setelah bulan Ramadhan berlalu.
Untuk itu, detikers perlu memahami tentang apa itu sabar, pentingnya bersabar, hingga ayat-ayat Al-Qur'an yang menyebut kesabaran selama bulan puasa Ramadhan. Jadi, simak artikel ini sampai habis ya, detikers!
Baca juga: Surat Al-Waqi'ah Dibaca Setelah Sholat Subuh |
Apa Itu Sabar?
Dilansir Nahdlatul Ulama (NU) Online, bersabar dijelaskan dalam pandangan Imam Majduddin Muhammad al-Fairuzzabadi. Sabar secara bahasa berarti "al-habsu", yang artinya menahan/mencegah, atau "al-kaffu fî dlayyiqi" yang artinya bertahan dalam keadaan sempit/susah. Sedangkan secara istilah, ia mengatakan:
فالصبر حبس النفس عن الجزع والسخط، وحبس اللسان عن الشكوي، وحبس الجوارح عن التشويش
Artinya: Sabar adalah menahan diri dari ketidasabaran (cemas) dan ketidakpuasan, menahan lisan dari mengeluh (komplain), dan menahan (seluruh) anggota tubuh dari mengacau. (Imam Majduddin Muhammad bin Ya'qub al-Fairuzabadi, Bashâ'ir Dzawî al-Tamyîz fî Lathâif al-Kitâb al-'Azîz, Kairo: al-Majlis al-A'la li Syu'un al-Islamiyyah, 1996, juz 3, h. 371).
Oleh karena itu, sabar merupakan perilaku aktif karena membutuhkan inisiatif dari pelakunya. Imam Majduddin al-Fairuzzabadi menjelaskan sabar adalah aktivitas menahan diri, lisan, dan seluruh anggota tubuh dari ketidakpuasan, komplain, dan berbuat kekacauan.
Dengan kata lain, al-habsu atau menahan merupakan upaya menahan diri dari gejolak alami yang ada di dalam jiwa manusia, seperti kecemasan, ketidakpuasan, keluhan, dan lain-lain. Apabila itu semua tidak dikendalikan, maka di titik tertentu akan mengarah kepada kekacauan bil fi'li (kekacauan yang dilakukan tubuh).
Macam-macam Sabar
Menurut Ibnu Rajab al-Hanbali, sabar tidak hanya dimaknai sebagai sikap menahan diri saat tertimpa musibah, tetapi mencakup keteguhan dalam menjalankan ketaatan serta kemampuan menahan diri dari perbuatan maksiat. Dalam khazanah keilmuan Islam, sabar dibagi ke dalam tiga macam berikut.
أنواع الصبر ثلاثة أنواع: صبر علي طاعة الله, وصبر علي محارم الله, وصبر علي أقدار الله المؤلمة
Artinya: Ada tiga macam sabar: (1) Sabar atas ketaatan kepada Allah, (2) Sabar atas (menjauhi) hal-hal yang diharamkan Allah, dan (3) Sabar atas ketetapan Allah yang pahit (atau susah)." (Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathâ'if al-Ma'ârif fî mâ li Mawâsîm al-'Âm min al-Wadhâ'if, 2002, h. 208)
10 Ayat Al-Qur'an tentang Kesabaran
Kesabaran menjadi salah satu ajaran utama dalam Islam yang kerap disebut berulang kali dalam Al-Qur'an. Berikut ayat-ayat Al-Qur'an yang menjelaskan tentang kesabaran, lengkap dengan penjelasan tafsir tahlili sebagaimana dihimpun dari laman resmi Qur'an NU.
1. Orang sabar disempurnakan pahalanya tanpa batas (QS Az-Zumar: 10)
قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْۗ لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌۗ وَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌۗ اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ ١٠
Arab Latin: Qul yâ 'ibâdilladzîna âmanuttaqû rabbakum, lilladzîna aḫsanû fî hâdzihid-dun-yâ ḫasanah, wa ardlullâhi wâsi'ah, innamâ yuwaffash-shâbirûna ajrahum bighairi ḫisâb.
Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), "Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan.
Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar menyeru seluruh hamba Allah dan menasihati mereka agar tetap bertakwa kepada Allah, menaati seluruh perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.
Mereka yang berbuat baik di dunia ini akan mendapat kebaikan dunia maupun akhirat, yaitu mendapat tempat yang penuh dengan kenikmatan, dan mendapat keridaan Allah.
2. Orang Sabar Akan Diberi Balasan Tempat Tinggi dalam Surga (QS Al-Furqan: 75)
اُولٰۤىِٕكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوْا وَيُلَقَّوْنَ فِيْهَا تَحِيَّةً وَّسَلٰمًاۙ ٧٥
Arab Latin: Ulâ'ika yujzaunal-ghurfata bimâ shabarû wa yulaqqauna fîhâ taḫiyyataw wa salâmâ.
Artinya: Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka serta di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam.
Dalam ayat tersebut, Allah menerangkan ganjaran dan karunia yang akan diberikan kepada "hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang itu" yang mempunyai sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia berkat kesabaran dan keuletan mereka dalam mematuhi segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, maka mereka ditempatkan di tempat yang paling mulia dan tinggi dalam surga.
3. Sabar Bentuk Ketaatan (QS Shad: 17)
اِصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوٗدَ ذَا الْاَيْدِۚ اِنَّهٗٓ اَوَّابٌ ١٧
Arab Latin: Ishbir 'alâ mâ yaqûlûna wadzkur 'abdanâ dâwûda dzal-aîd, innahû awwâb.
Artinya: Bersabarlah atas apa yang mereka katakan dan ingatlah akan hamba Kami, Daud, yang mempunyai kekuatan. Sesungguhnya dia adalah orang yang selalu kembali (kepada Allah).
Ayat ini dijelaskan bahwa Allah meminta Nabi bersabar dalam menghadapi keingkaran orang-orang musyrik, sebagaimana nabi-nabi terdahulu juga menghadapi rintangan yang sama.
4. Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang berbuat kebaikan (QS Hud: 115)
وَاصْبِرْ فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ اَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ ١١٥
Arab Latin: Washbir fa innallâha lâ yudlî'u ajral-muḫsinîn.
Artinya: Bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan.
Pada ayat ini, Allah SWT memerintahkan supaya berlaku sabar dengan tabah dan tahan menghadapi segala kesulitan dalam menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
5. Memperoleh Ampunan dan Pahala Besar (QS Hud: 11)
اِلَّا الَّذِيْنَ صَبَرُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ كَبِيْرٌ ١١
Arab Latin: Illalladzîna shabarû wa 'amilush-shâliḫât, ulâ'ika lahum maghfiratuw wa ajrung kabîr.
Artinya: Kecuali, orang-orang yang sabar dan beramal saleh, bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.
Ayat ini menggambarkan mereka yang berlaku sabar ketika ditimpa musibah, beriman kepada Allah, mengharapkan pahala-Nya, dan berbuat amal saleh ketika musibahnya itu telah diganti dengan kenikmatan, serta mensyukuri nikmat itu dengan mengamalkan berbagai amal kebajikan untuk mencapai keridaan Allah, mereka akan mendapat ampunan dari Allah dan pahala yang besar di akhirat nanti.
6. Pertolongan Allah Datang untuk Orang Sabar (QS Ali 'Imran: 125)
بَلٰٓىۙ اِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا وَيَأْتُوْكُمْ مِّنْ فَوْرِهِمْ هٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُسَوِّمِيْنَ ١٢٥
Arab Latin: Balâ in tashbirû wa tattaqû wa ya'tûkum min faurihim hâdzâ yumdidkum rabbukum bikhamsati âlâfim minal-malâ'ikati musawwimîn.
Artinya: Ya (cukup). Jika kamu bersabar dan bertakwa, lalu mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.
Ayat ini menceritakan saat kaum muslimin menghadapi Perang Uhud, Nabi mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan dibantu Allah dengan 3.000 malaikat. Apabila mereka sabar dan tabah menghadapi segala bahaya dan bertakwa, Allah akan membantu mereka dengan 5.000 malaikat.
7. Orang Sabar Dicintai Allah (QS Ali 'Imran: 146)
وَكَاَيِّنْ مِّنْ نَّبِيٍّ قٰتَلَۙ مَعَهٗ رِبِّيُّوْنَ كَثِيْرٌۚ فَمَا وَهَنُوْا لِمَآ اَصَابَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَمَا ضَعُفُوْا وَمَا اسْتَكَانُوْاۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ ١٤٦
Arab Latin: Wa ka'ayyim min nabiyying qâtala ma'ahû ribbiyyûna katsîr, fa mâ wahanû limâ ashâbahum fî sabîlillâhi wa mâ dla'ufû wa mastakânû, wallâhu yuḫibbush-shâbirîn.
Artinya: Betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(-nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat, dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah mencintai orang-orang yang sabar.
Allah kembali memberikan koreksi kepada sebagian pengikut Nabi Muhammad SAW yang lemah dan tidak setia dalam Perang Uhud dengan mengemukakan keadaan umat nabi-nabi sebelumnya bahwa dalam jihad fisabilillah, semangat dan iman mereka tetap kuat, tidak lemah, tidak lesu dan tidak menyerah di kala menderita bencana. Orang-orang semacam itulah yang dicintai Allah karena kesabarannya.
8. Allah Bersama Orang-orang Sabar (QS Al Baqarah: 153)
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ ١٥٣
Arab Latin: Yâ ayyuhalladzîna âmanusta'înû bish-shabri wash-shalâh, innallâha ma'ash-shâbirîn.
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
Ayat ini menjabarkan bagaimana perjuangan dalam menegakkan kebenaran harus diiringi dengan kesabaran dan memperbanyak salat, sehingga menjadi ringan segala kesukaran dan cobaan, karena Allah senantiasa beserta orang-orang yang sabar. Dia akan menolong, menguatkan dan menenangkan orang-orang yang berjuang menegakkan kebenaran agamanya.
9. Sabar Perbuatan Mulia (QS As-Syura: 43)
وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ اِنَّ ذٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِࣖ ٤٣
Arab Latin: Wa laman shabara wa ghafara inna dzâlika lamin 'azmil-umûr.
Artinya: Akan tetapi, sungguh siapa yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan.
Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang yang sabar dan memaafkan perbuatan jahat yang dilakukan orang lain atas dirinya, sedangkan ia sanggup membalasnya, mereka itu telah melakukan sesuatu yang utama dan mereka itu berhak menerima pahala yang banyak.
10. Sabar merupakan perkara yang penting (QS Luqman: 17)
يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ ١٧
Arab Latin: Yâ bunayya aqimish-shalâta wa'mur bil-ma'rûfi wan-ha 'anil-mungkari washbir 'alâ mâ ashâbak, inna dzâlika min 'azmil-umûr.
Artiinya: Wahai anakku, tegakkanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (harus) diutamakan.
Pada ayat ini, Lukman mewasiatkan kepada anaknya hal-hal berikut, selalu mendirikan salat dengan sebaik-baiknya, sehingga diridai Allah. Berusaha mengajak manusia mengerjakan perbuatan-perbuatan baik yang diridai Allah, berusaha membersihkan jiwa dan mencapai keberuntungan, serta mencegah mereka agar tidak mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa.
Selalu bersabar dan tabah terhadap segala macam cobaan yang menimpa, akibat dari mengajak manusia berbuat baik dan meninggalkan perbuatan yang mungkar, baik cobaan itu dalam bentuk kesenangan dan kemegahan, maupun dalam bentuk kesengsaraan dan penderitaan.
Pentingnya Sabar Saat Puasa
Ramadhan disebut-sebut sebagai bulan kesabaran, di mana puasa merupakan bagian dari sabar serta melatih kesabaran diri. Hal tersebut sebagaimana yang dikatakan Imam Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) yang mengutip hadits Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang mengatakan (HR Imam at-Turmudzi):
الصومُ نِصْفُ الصَّبْرِ
Artinya: Puasa itu separuh (dari) sabar. (Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathâ'if al-Ma'ârif fî mâ li Mawâsîm al-'Âm min al-Wadhâ'if, Kairo: Dar al-Hadits, 2002, h 207)
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali juga mengatakan bahwa pahala berpuasa di bulan Ramadhan berlipat ganda, dan kelipatannya tidak terbatas di angka tertentu (adl'âfan katsîratan bi ghairi hashr 'adad).
Pahala orang-orang yang bersabar tidak dibatasi pada bilangan tertentu, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 10 sebagai berikut.
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya: Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathâ'if al-Ma'ârif fî mâ li Mawâsîm al-'Âm min al-Wadhâ'if, 2002, h. 207)
Riwayat Imam Ahmad bin Hanbal juga mengatakan bahwa Ramdhan merupakan bulan kesabaran di mana Rasulullah SAW bersabda sebagai berikut.
صَوْمُ شَهْرِ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صَوْمُ الدَّهْرِ
Artinya: Berpuasa (di) bulan kesabaran (Ramadhan) dan (berpuasa) tiga hari dari tiap-tiap bulan adalah (seperti) puasa satu tahun. (Imam Abdurra'uf al-Munawi, Faidl al-Qadîr Syarh al-Jâmi' al-Shaghîr, Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1972, juz 4, h. 211)
Ketika umat Islam tidak hanya sekadar berpuasa melainkan bersabar sebagai bagiannya, maka inilah yang disebut oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali yang mengatakan puasa menjadi pendidikan atas tiga kesabaran sekaligus (tajtami'uts tsalâtsah fîsh shaum) yang sudah dijelaskan sebelumnya sebagai berikut.
فأنّ فيه صبرا علي طاعة الله, وصبرا عما حرم الله علي الصائم من الشهوات, وصبرا علي ما يحصل للصائم فيه من ألم الجوع والعطش وضعف النفس والبدن, وهذا الألم الناشئ من أعمال الطاعات يثاب عليه صاحبه
Artinya: Karena sesungguhnya di dalam puasa (dapat memunculkan) kesabaran atas ketaatan kepada Allah, kesabaran atas apa yang diharamkan Allah kepada orang yang berpuasa yaitu nafsu syahwat, dan kesabaran atas sesuatu yang dihasilkan orang puasa (dari puasanya) yaitu kesusahan lapar, haus, lemahnya diri dan badan. Kesusahan (semacam) ini, yang lahir dari perilaku taat (kepada Allah), pengamalnya akan mendapatkan pahala. (Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathâ'if al-Ma'ârif fî mâ li Mawâsîm al-'Âm min al-Wadhâ'if, 2002, h. 208)
Oleh karena itu, ketika berpuasa yang menyengaja diri untuk menahan lapar, haus, dan hawa nafsu lainnya sebagai bentuk menaati perintah Allah sekaligus menghindari larangan-Nya, maka juga menjadi bentuk menguji dan melatih diri sendiri untuk memperkuat kesabaran diri.
(hil/irb)
