Menjalankan ibadah puasa tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga harus memenuhi ketentuan sahnya. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam mengetahui rukun dan syarat wajib puasa agar ibadah yang dijalankan sah serta bernilai pahala.
Puasa adalah menahan diri dari segala hal yang membatalkan, seperti makan dan minum dari mulai terbit fajar hingga matahari terbenam. Ibadah ini wajib dijalankan oleh umat Islam, khususnya saat bulan Ramadhan.
Selain menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, puasa juga mengajarkan pengendalian diri, kesabaran, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Yuk, simak selengkapnya rukun dan syarat wajib puasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Doa Zikir di Bulan Ramadhan |
Rukun Puasa
Rukun puasa dimaknai sebagai sesuatu yang harus dijalankan bagi siapapun yang melaksanakan ibadah puasa. Jika salah satu rukun puasa tidak terpenuhi, maka puasa dianggap tidak sah secara syariat Islam. Dikutip dari buku "Puasa Ibadah Kaya Makna" karya H Miftah Faridl, terdapat dua rukun puasa sebagai berikut.
1. Niat
Rukun puasa pertama yang harus dipenuhi adalah niat. Sedemikian pentingnya niat dalam beribadah, Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya.
Apabila diawali tanpa niat, puasa yang dikerjakan menjadi tidak sah dan sia-sia. Hal tersebut sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits berikut.
Nabi Muhammad SAW bersabda: "Barang siapa tidak berniat puasa di waktu malam maka tidak ada puasa baginya (tidak sah)". (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa'i, dan Ibnu Majah)
Niat puasa wajib bisa dilakukan mulai dari masuknya waktu Maghrib sampai sebelum terbit fajar. Puasa wajib tersebut mencakup puasa Ramadhan, puasa qadha Ramadhan, puasa nazar, puasa kafarat, dan puasa fidyah haji.
Sementara, untuk niat puasa sunah boleh dilakukan sesudah terbit fajar hingga sebelum matahari tergelincir atau masuk waktu Zuhur, selama orang yang menjalankannya belum melakukan hal-hal yang dapat membatalkan puasa.
2. Menahan Diri
Selanjutnya, rukun puasa yang harus dipenuhi adalah menahan diri dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa sejak terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Sebelum fajar terbit atau yang biasanya ditandai dengan azan Subuh yang berkumandang, maka seseorang masih boleh untuk makan dan minum.
Sebagian umat Islam beranggapan bahwa waktu imsak jadi batas akhir seseorang bisa makan dan minum. Padahal, batasnya ketika waktu Subuh atau terbit fajar. Hal ini sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an sebagai berikut.
... وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ ...
Artinya: ...Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam... (Surah Al Baqarah : 187)
Syarat Wajib Puasa
Merujuk pada buku "Puasa: Syarat dan Rukun yang Membatalkan" oleh Saiyid Mahadhir, Lc, MA, selain rukun, ada sejumlah syarat yang membuat seseorang wajib untuk berpuasa. Apabila salah satunya tidak terpenuhi, maka puasa seperti puasa Ramadhan menjadi tidak wajib baginya. Berikut syarat wajib puasa.
1. Islam
Syarat wajib pertama yakni beragama Islam. Mereka yang tidak mengimani agama Islam tidak wajib untuk melaksanakan puasa.
2. Baligh
Selanjutnya, seseorang yang wajib berpuasa adalah yang telah baligh. Artinya, anak-anak kecil tidak wajib untuk mengerjakan puasa-puasa wajib. Meski demikian, para orang tua wajib melatih anak-anaknya untuk berpuasa sejak umur 7 tahun.
3. Berakal
Ketiga, syarat wajib puasa adalah berakal. Artinya, hanya orang yang berakal saja yang wajib untuk berpuasa. Berdasarkan kesepakatan para ulama, orang gila termasuk dalam kategori tidak berakal, sehingga tidak wajib baginya untuk puasa.
4. Sehat
Seseorang yang sedang sakit tidak mempunyai kewajiban untuk menjalankan puasa wajib seperti Ramadhan. Akan tetapi, ia harus menggantinya di hari lain. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah sebagai berikut.
وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ
Artinya: ...Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain... (Al Baqarah ayat 185)
5. Mampu
Berikutnya, syarat puasa adalah mampu. Maksudnya adalah apabila seseorang sudah lemah secara fisik karena usia atau tidak memungkinkan untuk berpuasa, maka tidak wajib untuk berpuasa. Hal ini juga sesuai dengan firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 184:
وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ
Artinya: ...Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin...
6. Tidak Sedang dalam Perjalanan
Berdasarkan ayat 185 di atas, seseorang yang sedang dalam perjalanan tidak wajib untuk berpuasa. Akan tetapi, menurut pendapat ulama tidak seluruh jenis perjalanan memperbolehkan seseorang untuk tidak berpuasa. Perjalanan yang dimaksud ada syarat-syaratnya.
7. Suci dari Haid dan Nifas
Menurut kesepakatan para ulama, seorang wanita yang sedang haid atau nifas tidak wajib berpuasa. Hal ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan Aisyah: "Kami (wanita yang haid atau nifas) diperintahkan untuk meng-qadha puasa dan tidak diperintahkan untuk meng-qadha sholat,".
Itulah rukun puasa syarat wajib yang perlu diketahui umat Islam. Semoga bermanfaat!
(hil/irb)











































