David Kurniawan dan Semangat Nasionalisme Tionghoa-Indonesia

David Kurniawan dan Semangat Nasionalisme Tionghoa-Indonesia

Muhammad Aminudin - detikJatim
Senin, 16 Feb 2026 19:30 WIB
David Kurniawan generasi muda Tionghoa di Kota Malang
David Kurniawan generasi muda Tionghoa di Kota Malang/Foto: Muhammad Aminudin/detikJatim
Malang -

Di tengah hiruk pikuk Klenteng Eng An Kiong, Kota Malang, menyambut perayaan Imlek 2577, ada semangat nasionalisme membara dalam diri David Kurniawan.

Pria keturunan Tionghoa dengan nama Yang Jian Chua menjadi salah satu generasi musa Tionghoa-Indonesia yang memegang teguh akar budaya leluhur. Ia juga sebagai tokoh muda yang aktif membantu kegiatan keagamaan di Klenteng Eng An Kiong.

Dengan senyum ramah, David mengisahkan tentang akulturasi dan kebanggaan menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebenarnya sudah terakulturasi sama orang-orang Indonesia. Cuma memang kita nggak boleh melupakan leluhur," tutur David ditemui di Klenteng Eng An Kiong, Sabtu (16/2/2026).

ADVERTISEMENT

Bagi David, menghormati leluhur bukan berarti berpaling dari Ibu Pertiwi. Justru sebaliknya, ia melihatnya sebagai jembatan untuk memperkuat ikatan kebangsaan. Salah satu impian terbesarnya adalah menghapus stigma yang kerap melekat pada etnis Tionghoa.

"Karena kita ini dipecah belah terus. Padahal kalau kita bersatu, otomatis negara ini pasti akan maju," ucapnya.

David mencontohkan, kondisi di negara lain yang mereka bisa bersatu hingga menjadi negara maju. Menurut David, Indonesia sebenarnya bisa melampaui itu, jika semua bersatu.

"Padahal kalau dilihat dari SDA (Sumber Daya Alam) dan SDM-nya, Indonesia lebih banyak, lebih kaya. Tapi kita selalu diklasifikasikan, dipisah-pisah," ungkapnya.

David juga mengaku bangga ketika orang-orang Tionghoa mempunyai andil jasa bagi negara diangkat sekaligus dikenang. Meskipun, dirinya bukan keturunan langsung dari para tokoh-tokoh itu.

"Kalau misalnya mau diangkat atau diingat, kita juga merasa senang," katanya.

David merupakan generasi ketiga. Kakeknya, seorang nelayan dari kampung Peucang wilayah Provinsi Fujian. Leluhur David menginjakkan kaki di tanah Nusantara pada tahun 1930-an. Ayahnya lahir di Indonesia dan David tumbuh besar dengan napas Indonesia.

"Kakek saya dulu nelayan dari Provinsi Fujian, saya generasi ketiga," ceritanya.

Marga Yang sebagai identitas leluhur hingga kini tetap disandang David. Ini bukan sekadar nama, melainkan penanda silsilah yang menghubungkan dirinya dengan generasi di sebelumnya.

"Kita tetap bangga kita membawa nama leluhur, kita nggak melupakan leluhur kita," kata David.

Meski begitu, David memastikan dirinya tetap tunduk pada NKRI karena menjadi tanah kelahiran sekaligus masa depannya disini.

Pernyataan David ini menyentuh inti dari identitas Tionghoa-Indonesia. Bagi mereka, tanah leluhur di Tiongkok adalah warisan budaya yang dihormati. Namun tanah air yang sesungguhnya adalah Indonesia.

"Kita tunduk sama NKRI. Misal kita kembali ke tanah leluhur, pasti tidak diakui. Karena kita dianggap sebagai orang Indonesia," tegasnya.

Dalam ritual ibadah, David mengaku bersama keluarga selalu menyelipkan doa dan harapan untuk Indonesia.

"Kami selalu berdoa, Indonesia ini negaranya akan maju, aman, damai, tentram. Karena kalau negara itu aman tentram, ekonominya pasti baik dan kita bisa makmur," pungkasnya.




(mua/hil)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads