Filosofi Barongsai dan Makna di Balik Tariannya

Filosofi Barongsai dan Makna di Balik Tariannya

Anastasia Trifena - detikJatim
Minggu, 25 Jan 2026 15:20 WIB
Pusat Grosir Metro Tanah Abang (PGMTA) menggelar event Hoki Sincia 2023 dengan gelaran TikTok Challenge. Beragam hadiah menarik dengan total hadiah puluhan juta rupiah.

Barongsai yang ikut meriahkan acara itu pun kebanjiran angpau selama perhelatan tersebut. Ini bukti-buktinya.
Ilustrasi tarian barongsai. Foto: Rachman_punyaFOTO
Surabaya -

Dentuman tambur, gerak singa yang lincah, serta warna merah mencolok menjadikan barongsai kerap mencuri perhatian saat perayaan Imlek. Kesenian ini telah dikenal sejak ratusan tahun silam dan berkembang.

Barongsai menjadi salah satu simbol budaya Tionghoa yang masih lestari hingga kini, termasuk di Indonesia. Di balik atraksi barongsai yang membuat kagum, ternyata ada nilai filosofis dan kepercayaan yang tersimpan di setiap gerak tarian.

Jejak Sejarah dan Perkembangan Barongsai

Buku "Agama dan kearifan Lokal dalam Tantangan Global" menjelaskan barongsai bermula pada masa Dinasti Chin atau sekitar abad ke-3 sebelum Masehi, dan semakin berkembang pada era Dinasti Selatan-Utara (Nan-Bei) sekitar abad ke-5 hingga ke-6 Masehi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada awalnya, barongsai memiliki fungsi sakral. Pertunjukan ini erat kaitannya dengan ritual keagamaan di kelenteng dan dipercaya sebagai penghubung antara manusia dan dunia spiritual.

ADVERTISEMENT

Barongsai juga diyakini mampu menolak bala dan menjaga keselamatan. Karena itu, sebelum pertunjukan digelar, para pemain biasanya menjalani rangkaian ritual tertentu demi keselamatan dan kelancaran atraksi.

Tradisi ini kemudian masuk ke Indonesia seiring migrasi masyarakat Tionghoa pada abad ke-17. Istilah barongsai sendiri mencerminkan akulturasi budaya, berasal dari kata barong dalam bahasa Jawa, dan sai dari dialek Hokkian yang berarti singa.

Seiring waktu, barongsai berkembang dari kesenian sakral di kelenteng menjadi pertunjukan publik yang dapat dinikmati masyarakat luas. Hingga kini, barongsai menjadi pertunjukan yang tidak pernah absen dalam perayaan Imlek.

Makna Gerakan dalam Tarian Barongsai

Jika dilihat, atraksi barongsai lebih banyak melibatkan gerakan kaki yang berpindah dengan cepat. Selain itu, diperlukan kekuatan dan keseimbangan dari para pemain, mengingat 'Sarung Singa' ini biasanya dikenakan dua orang atau lebih di dalamnya.

Barongsai memadukan tiga aktivitas menjadi satu tampilan yang apik, yakni tarian, bela diri, dan akrobatik. Secara garis besar, teknik dalam tarian barongsai berangkat dari pola gerak yang sama meski dapat dikembangkan sesuai kebutuhan pertunjukan.

Dalam buku Pembelajaran Seni Tari di Indonesia dan Mancanegara tertulis barongsai memiliki beberapa pola dasar. Berikut ini pola-pola tarian barongsai seperti yang biasa dipertunjukan saat perayaan Imlek.

  • Gerak awal saat singa "terbangun"
  • Membuka mata
  • Bermain
  • Mencari
  • Berkelahi
  • Makan (Lay See), dan
  • Diakhiri dengan penutup sebelum kembali "beristirahat"

Rangkaian gerak ini dapat diperpanjang atau dimodifikasi mengikuti alur pertunjukan. Salah satu bagian terpenting adalah gerakan lay see atau saat barongsai memakan angpao merah berisi uang yang biasanya disertai sayuran hijau.

Adegan ini menjadi inti tarian barongsai karena melambangkan penerimaan rezeki, keberuntungan, dan berkah, serta kerap memakan porsi terbesar dalam keseluruhan pertunjukan barongsai.




(hil/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads