Kisah Sakir, Pedagang Tahu Tiap Hari PP Surabaya-Jombang Demi Rezeki

Kisah Sakir, Pedagang Tahu Tiap Hari PP Surabaya-Jombang Demi Rezeki

Aprilia Devi - detikJatim
Kamis, 05 Feb 2026 10:00 WIB
Kisah Sakir, Pedagang Tahu Tiap Hari PP Surabaya-Jombang Demi Rezeki
Penjual tahu goreng asal Jombang yang sehari-hari berdagang di Surabaya (Foto: Aprilia Devi/detikJatim)
Surabaya -

Di antara hiruk pikuk Surabaya, sosok Sakir (65) melintas dengan sepeda tuanya. Di atasnya, tahu goreng dagangannya tersusun rapi.

Sakir adalah pedagang tahu yang sehari-hari berjualan di Jalan Nyamplungan, dekat dengan kawasan religi Sunan Ampel Surabaya. Selain itu, ia juga kerap berjualan di pusat kota, yakni di kawasan Jalan Blauran.

Tak banyak yang tahu, setiap kali Sakir berjualan di Surabaya, ada perjalanan panjang Jombang-Surabaya yang ia tempuh berulang kali demi mengais rezeki.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya asal Peterongan, Jombang, dekat Pondok Darul Ulum. Tiap hari jualan berangkat dari Jombang, ini baru sampai di Surabaya," ujar Sakir saat dijumpai detikJatim di Jalan Nyamplungan, Kamis (5/2/2026).

Sepeda tuanya dilengkapi dua keranjang besar untuk penyimpanan tahu dan keperluan lainnya. Keranjang itu terbuat dari anyaman, menempel di bagian kanan dan kiri sepeda.

ADVERTISEMENT

Selain mengayuh sepeda tuanya, sehari-hari, ia menempuh perjalanan lintas kota dengan menumpang di truk.

"Malam pulang (dari Surabaya mengayuh sepeda) ke Medaeng, lalu bareng truk ke Jombang. Sepedanya dinaikkan ke truk," ungkapnya.

Ritme itu telah menjadi bagian dari hidupnya. Sakir mengaku sudah berjualan tahu goreng sejak puluhan tahun lalu, bahkan sejak era Presiden Soeharto. Waktu itu, Surabaya belum seramai sekarang.

"Sudah dari zamannya Pak Soeharto. Dulu (jualan) di dekat Suramadu," katanya.

Tahu yang ia jual bukan hasil gorengan sendiri. Sakir mengambil setoran tahu dari produsen di Jombang, lalu menjajakannya di Surabaya.

Ia pun tak berjualan menetap di satu tempat, melainkan berpindah mengikuti keramaian dan peluang pembeli.

"Kadang di Ampel, Blauran, pindah-pindah. Biasanya pulang jam 21.00 WIB hingga 23.00 WIB tidak tentu, tergantung rezekinya," katanya.

Penghasilan Sakir juga tak menentu. Kadang dagangannya laris, kadang pas-pasan. Dari setoran tahu yang dibawanya, keuntungan bersih yang ia dapat tak selalu besar.

Di usia yang tak lagi muda, Sakir masih setia mengayuh sepeda dan menumpang truk, menembus jarak Jombang-Surabaya. Di balik tahu goreng yang ia jajakan, tersimpan kisah ketekunan dan kesederhanaan untuk menopang ekonomi keluarga.

"Setoran gini ini, dapatnya (untung bersih) paling ya Rp 100 ribu," tuturnya.




(hil/abq)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads