Nama Ribut Santoso mendadak ramai diperbincangkan di media sosial. Guru asal Lumajang itu viral usai membagikan perjalanan panjang gaji honorer yang ia terima sejak 2003 hingga 2024 melalui akun Instagram pribadinya. Dalam unggahan tersebut, Ribut juga mengungkapkan bahwa dirinya resmi diangkat menjadi PPPK paruh waktu pada 2025.
Unggahan tersebut menuai beragam respons warganet. Banyak yang menyampaikan simpati dan apresiasi atas pengabdiannya, namun tak sedikit pula yang mengkritik sistem kesejahteraan guru honorer yang dinilai belum sebanding dengan dedikasi jangka panjang.
Ribut mengaku, selama puluhan tahun mengabdi sebagai guru honorer, ia justru lebih banyak merasakan suka daripada duka. Kebahagiaan terbesarnya datang dari interaksi dengan murid-murid serta kebanggaan melihat mereka tumbuh dan meraih cita-cita.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau duka saya jadi guru gak ada dukanya biarpun honornya kecil saya bersyukur banget. Kenapa kok saya bersyukur biarpun gajinya kecil karena kan guru itu adalah panggilan hati pengabdian. Ketika kita mengabdi dengan ikhlas kita gak akan ada beban untuk bekerja," ujar pria yang kerap disapa Pak Ribut itu kepada detikJatim, Rabu (28/1/2026).
Ia menambahkan, duka terbesarnya bukan berasal dari profesinya sebagai guru honorer, melainkan saat ditinggal wafat kedua orang tuanya.
Secara ekonomi, Ribut mengakui honor guru honorer jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pada awal mengajar tahun 2003, Ribut mengaku hanya menerima gaji Rp 25.000 per bulan. Nominal tersebut bertahan hingga 3 tahun, sebelum akhirnya naik perlahan menjadi Rp 35.000 pada 2006.
Kenaikan gaji yang diterima Ribut tergolong sangat lambat. Ia baru digaji Rp 100.000 per bulan pada 2017. Kenaikan signifikan terjadi pada 2019, di mana ia digaji Rp 1.025.000 usai 16 tahun mengabdi. Hingga tahun 2024, gaji yang diterima Ribut sebagai guru honorer adalah Rp 1.050.000.
Meski nominal tersebut terlihat miris, Ribut tetap bertahan dan bersyukur karena memiliki pekerjaan sampingan yang menopang penghasilannya, mulai dari usaha persewaan baju tari, hingga aktivitas lain di luar mengajar.
"Terus ketika saya viral saya menjadi guru tambah senang lagi. Kenapa? karena saya punya pekerjaan lain sampingan seperti endorse, influencer. Kan itu bisa yang saya dapatkan dari keberkahan guru selama ini saya mengabdi," tambahnya.
Setelah mengabdi sebagai guru sejak 2003, Ribut akhirnya diangkat menjadi PPPK patuh waktu pada 2025, artinya hampir 22 tahun ia menjalani pengabdian tanpa kepastian status. Perjalanan panjang ini menandai dedikasinya yang konsisten dalam dunia pendidikan, meski honor yang diterima selama bertahun-tahun jauh dari kata cukup.
Meski demikian, ia mengaku sebenarnya lebih menyukai status guru honorer karena merasa memiliki kebebasan dalam mengatur waktu. Kebijakan penghapusan honorer membuatnya tidak punya banyak pilihan, sehingga mau tidak mau ia mengikuti proses PPPK paruh waktu dan menerima kedisiplinan yang lebih ketat, seperti absensi wajib dan jam kerja yang lebih teratur.
Sebelumnya, Ribut Santoso sempat viral pada tahun 2022 melalui konten harian bersama murid-muridnya. Ia menjelaskan bahwa keviralan tersebut membawa berkah bagi Ribut, terutama dalam mendukung pendidikan murid-muridnya yang kurang mampu.
"Alhamdulillah dengan adanya viral aku bisa banyak membantu murid-murid saya yang kurang mampu. Misalkan yang nggak bisa beli buku, pensil, penggaris, tas sekolah, dan sepatu. Saya juga bisa bangun sekolah sendiri. Sekolah seni di rumah, lantai dua jadi alhamdulillah," terangnya.
Ribut tidak hanya mengajar di SDN Pagowan 01, Kecamatan Pasrujambe, Lumajang, tetapi juga aktif membina sanggar seni di rumahnya dari Senin hingga Sabtu. Di sanggarnya, ia membuka kelas dengan berbagai bidang, mulai dari tari modern, tari tradisional, kaligrafi, fashion, hingga content creator.
Sanggar tersebut tidak hanya menjadi tempat belajar saja, melainkan juga menjadi wadah pengembangan bakat bagi banyak murid. Ribut tidak mengajar para murid seorang diri, ia dibantu oleh anak-anak pesantren serta guru-guru yang sesuai dengan bidang keahliannya.
"Berhubungnya sekarang mungkin jarang nari, akhirnya perutku tambah gendut jadi kayak aku yang influencer saja, yang content creator. Kalau Kaligrafi, saya mendatangkan anak pondok pesantren yang biasanya sering ikut lomba-lomba menang tingkat nasional itu aku pekerjakan. Kemudian guru-guru yang punya keahlian di bidangnya masing-masing, yang menarik itu aku juga rekrut," pungkasnya.
