Wanti-wanti Epidemiolog Unair soal Penyebaran Virus Nipah

Wanti-wanti Epidemiolog Unair soal Penyebaran Virus Nipah

Chilyah Auliya - detikJatim
Selasa, 03 Feb 2026 19:00 WIB
Blood samples tube with sample for Nipah virus test. Blood samples isolated on white background for Nipah virus test.
Ilustrasi virus nipah/Foto: Getty Images/Fania Witardiana
Surabaya -

Pakar epidemiologi dari Universitas Airlangga (Unair), Dr. Windhu Purnomo mengimbau pemerintah dan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi penyebaran virus Nipah. Meski belum ditemukan kasus pada manusia di Indonesia, virus yang memiliki tingkat fatalitas (case fatality rate/CFR) mencapai 40 hingga 75 persen ini tengah menjadi sorotan menyusul wabah yang terjadi di India dan wilayah Asia Selatan.

Dr. Windhu menjelaskan, virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang meloncat dari hewan ke manusia. Berasal dari Kampung Sungai Nipah, Malaysia, virus ini utamanya dibawa oleh kelelawar pemakan buah (Pteropus).

"Penularannya bisa melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi atau mengonsumsi buah yang terkontaminasi air liur kelelawar. Infeksi ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan ensefalitis atau peradangan otak yang fatal," ujar Windhu, Selasa (3/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski tingkat kematiannya sangat tinggi, di mana 4 dari 10 pasien terinfeksi berisiko meninggal dunia, ia mencatat bahwa transmisi virus ini tidak secepat influenza atau COVID-19.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan data penelitian sejak 2014, bukti molekuler (RNA) dan antibodi virus Nipah telah ditemukan pada populasi kelelawar di berbagai wilayah, termasuk Kalimantan. Namun, Windhu menegaskan hingga saat ini belum ada laporan kasus yang menjangkiti manusia di Tanah Air.

"Negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Filipina sudah pernah terpapar. Kita harus bersyukur Indonesia belum, tapi jangan sampai lengah," imbuhnya.

Guna menghindari keresahan di masyarakat, Windhu mendorong adanya penelitian konkret dan kolaborasi multisektoral antara Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, BRIN, serta akademisi. Menurutnya, pemetaan wilayah risiko, terutama pada petani nira dan buah, sangat krusial.

"Pemerintah melalui Bappeda dan dinas terkait harus memastikan apakah ada virus di wilayah mereka. Tanpa data akurat, kita tidak bisa memberikan kepastian kepada masyarakat, namun juga tidak boleh menakut-nakuti secara berlebihan," jelasnya.

Terkait pengawasan, Windhu mengapresiasi langkah Kementerian Kesehatan yang mulai meningkatkan kewaspadaan di pintu masuk negara. Ia menyarankan agar protokol pemeriksaan kesehatan bagi pelancong dari daerah wabah, seperti India, kembali diperketat.

Hingga saat ini, belum ada obat khusus untuk virus Nipah, sementara vaksin masih dalam tahap riset pengembangan. Sehingga langkah preventif yang disarankan antara lain seperti hindari buah berlubang, makanan mentah tanpa antiseptik, nira mentah, serta menerapkan kembali Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

"Pemanfaatan instrumen seperti International Health Emergency Card (IHEC) harus dijalankan kembali secara disiplin. Jangan sampai karena merasa sudah aman pasca-pandemi, kita abai pada potensi ancaman baru," pungkasnya.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads