Balai Besar Karantina Kesehatan (BBKK) Surabaya memperketat pengawasan terhadap pelaku perjalanan internasional di Bandara Internasional Juanda. Ini sebagai langkah antisipasi masuknya virus Nipah ke Jawa Timur.
Kepala BBKK Surabaya, dr Rosidi Ruslan mengatakan, pengawasan dilakukan secara rutin setiap hari melalui skrining kesehatan awal terhadap seluruh penumpang dari luar negeri.
"Kami memastikan potensi penyebaran penyakit menular, termasuk virus Nipah, bisa diminimalkan sejak di pintu masuk negara. Pemeriksaan dilakukan melalui pemantauan suhu tubuh dan observasi visual terhadap kondisi kesehatan pelaku perjalanan," kata Rosidi kepada detikJatim, Selasa (3/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, untuk mencegah masuknya virus Nipah di Terminal Bandara Juanda, pihaknya telah memasang Thermal Scanner untuk mendeteksi suhu tubuh penumpang.
Penumpang yang terdeteksi memiliki suhu tubuh di atas 38 derajat celsius akan langsung diarahkan ke klinik karantina kesehatan yang berada di area terminal II bandara untuk pemeriksaan lebih lanjut.
"Kalau ada yang demam atau menunjukkan gejala yang mengarah ke penyakit infeksi, langsung kami bawa ke klinik. Di sana dilakukan pemeriksaan lanjutan dan observasi gejala seperti demam, lemas, atau tanda-tanda lain yang mengarah ke penyakit menular," jelasnya.
Jika dari hasil pemeriksaan awal ditemukan indikasi kuat penyakit menular berisiko tinggi, petugas akan merujuk pasien ke rumah sakit rujukan pemerintah yang telah ditunjuk.
"Di rumah sakit rujukan akan dilakukan pemeriksaan lanjutan, termasuk pengambilan sampel laboratorium. Selama proses itu, pasien dalam pemantauan ketat tenaga medis," kata Rosidi.
Tak hanya itu, BBKK Surabaya juga berkoordinasi dengan dinas kesehatan daerah apabila ada pelaku perjalanan yang perlu pemantauan lanjutan setelah tiba di rumah.
"Kami kirim notifikasi ke dinas kesehatan setempat sesuai domisili yang bersangkutan. Jadi, pemantauan tetap berjalan meski dia sudah meninggalkan bandara," ujarnya.
Selain pemeriksaan fisik, pengawasan juga dilakukan melalui pengisian riwayat perjalanan dan kondisi kesehatan oleh penumpang sebelum tiba di Indonesia melalui sistem digital kesehatan nasional.
"Dari situ kami bisa melihat riwayat perjalanan, apakah yang bersangkutan pernah singgah di wilayah dengan laporan kasus penyakit tertentu, serta apakah dia mengalami keluhan kesehatan," tutur Rosidi.
Ia menegaskan, hingga saat ini belum ditemukan kasus virus Nipah yang masuk ke Jawa Timur melalui Bandara Juanda. Meski demikian, kewaspadaan tetap ditingkatkan karena virus tersebut termasuk penyakit menular dengan tingkat fatalitas tinggi.
"Ini bagian dari tugas kami dalam menjaga pintu masuk negara agar penyakit menular dari luar tidak masuk dan menyebar di dalam negeri. Personel dan peralatan sudah kami siapkan untuk skrining awal hingga penanganan lanjutan," pungkasnya.
