Koeli Tinta, Sebutan Pers Era Hindia Belanda

Koeli Tinta, Sebutan Pers Era Hindia Belanda

Fadya Majida Az-Zahra - detikJatim
Sabtu, 31 Jan 2026 22:00 WIB
Koeli Tinta, Sebutan Pers Era Hindia Belanda
Ilustrasi Wartawan Foto: iStock
Surabaya -

Saat ini, menjadi jurnalis terasa semakin praktis dengan beragam pilihan waktu kejar tayang dan dukungan teknologi digital. Namun, tahukah detikers bahwa pada masa awal pers di Hindia Belanda, wartawan tempo dulu menulis berita menggunakan pena dari bulu angsa yang dicelupkan ke botol tinta.

Dari kebiasaan inilah muncul istilah kuli tinta, sebutan yang lekat dengan profesi wartawan di masa lampau.

Awal Mula Sebutan Kuli Tinta

Ballpoint, orang Indonesia menyebutnya pulpen, baru dipatenkan oleh pada tahun 1938 oleh jurnalis Hungaria, LΓ‘szlΓ³ BΓ­rΓ³. Namun, sebelum pulpen muncul, para jurnalis atau wartawan menulis berita dengan pena dari bulu angsa yang dicelupkan ke botol tinta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat pulpen belum ditemukan, mulai dari mencari berita hingga mencetak berita dilakukan dalam lembaran-lembaran kertas sehingga menjadi soerat chabar. Orang Jawa menyebutnya lajang chabar (membacanya layang khabar).

Istilah kuli tinta digunakan untuk menyebut para wartawan yang bekerja mengandalkan kekuatan tangan dan ketekunan menulis. Di masa ketika mesin cetak masih terbatas dan alat tulis belum praktis, menulis berita adalah pekerjaan yang memakan waktu, tenaga, dan konsentrasi tinggi. Setiap kalimat harus dipikirkan matang karena kesalahan tidak mudah diperbaiki.

ADVERTISEMENT

Sebutan kuli sendiri menggambarkan pekerja yang mengandalkan tenaga. Maka, kuli tinta dimaknai sebagai pekerja yang "memeras tenaga" melalui tulisan. Bukan cangkul atau palu yang mereka genggam, melainkan pena dan tinta sebagai alat utama kerja

Pers dan Wartawan di Era Hindia Belanda

Pada masa Hindia Belanda, pers tumbuh seiring meningkatnya kebutuhan informasi di kalangan masyarakat terdidik. Surat kabar menjadi ruang penting bagi penyebaran berita, gagasan, dan kritik sosial.

Pada era tersebut, wartawan tidak hanya melaporkan peristiwa, tetapi juga berperan sebagai penghubung antara pemerintah kolonial, elite lokal, dan masyarakat umum.

Namun, kerja jurnalistik kala itu tidaklah mudah. Pers berada di bawah pengawasan dan sensor ketat pemerintah kolonial. Wartawan harus cermat memilih kata, menyusun kalimat, dan membaca situasi politik agar tulisannya tidak berujung pada pembredelan atau hukuman.

Pada tahun 1868 surat kabar Soerabaia-Courant memuat 100 buah artikel secara berturut-turut. Dalam semua artikel tersebut diberi judul Fakta. Ada Fakta No.1, Fakta No.2, Fakta No.3, dan seterusnya.

Dalam artikel tersebut berisi kebobrokan perilaku para petinggi bangsa Belanda dan para ambteenar (pegawai negeri) bangsa pribumi. Semua dihujab habis-habisan dan tanpa basa-basi.

Soal pemotongan dana IDT (Inpres Desa Tertinggal), kasus-kasus korupsi, dari mulai kelas teri hingga kelas kakap, pelanggaran HAM, dan segala macam pelanggaran hukum lainnya yang dilakukan oleh para petinggi.

Akibat dari tulisan itu Assistant Residen Blitar Tuan Van Der Hell dipecat. Sementara Bupati Blitar yakni Raden Adipati Aryo Negoto dipaksa untuk pensiun. Atau sebenernya bisa jadi dipecat secara tidak hormat.

Kuli Tinta Bonek

Dilansir dari buku Oud Soerabaia atau Surabaya Tempo Doeloe, pada sebuah kisah nasib Kuli Tinta Bonek (Bondo Nekat) pertama adalah Van der Kaa, Ia pernah mendekam di Penjara Kalisosok selama 6 bulan.

Kejadian dipenjaranya Van der Kaa terjadi karena salah satu tulisannya di Soerabaia Courant yang dianggap merendahkan martabat seorang petinggi Soerabaia.

Van der Kaa atau A.M. Courier D. Duberkart lahir tahun 1839 dan wafat tahun 1885. Fakta terkait Van der Kaa adalah terkait surat kabar dengan judul Fakta di Soerabaia-Courant merupakan tulisannya.

Surat kabar Soerabaia-Courant diterbitkan oleh penerbit buku Van Dorp di Kota Semarang.

Selanjutnya adalah kisah W. R. van HoΓ«vell. Salah satu karangannya berjudul Reis over Java, Madoera en Bali atau Kisah Perjalanan di Jawa, Madura, dan Bali.

Isi dari karangannya secara pedas menulis tentang kebobrokan mental para petinggi bangsa Belanda. Anehnya, tidak ada penerbit di Surabaya, Semarang, dan Batavia (sekarang Jakarta) menerbitkan laporan perjalanan itu.

Lucunya, laporan perjalanan tersebut berakhir dengan di terbitkan oleh sebuah majalan di Negeri Belanda yang bernama Tijdschrift voor Neerlands Indie (Majalah untuk Hindia Belanda). Dengan terbitnya laporan tersebut, kacaunya berakhir dengan dibredeli.

Kuli Tinta Pribumi

Surabaya memiliki posisi strategis dalam sejarah pers Indonesia. Sebagai kota pelabuhan dan pusat perdagangan, Surabaya menjadi tempat tumbuhnya berbagai surat kabar sejak awal abad ke-20.

Wartawan Surabaya tempo dulu kerap menghadapi keterbatasan fasilitas, tekanan sensor, dan minimnya dukungan logistik. Meski demikian, mereka tetap menulis.

Salah satu contoh wartawan atau jurnalis pribumi adalah RM Soewardi Soerjoningrat (Ki Hajar Dewantara) yang terkenal dengan tulisannya yaitu Als ik eens Nederlander was (Seandainya saya seorang Belanda).

Tulisan Ki Hajar Dewantara atau bapak Pendidikan Indonesia tersebut berisi tulisan satire yang amat menyindir. Begini isinya:

"... Sekiranya saya seorang Belanda, maka saya tidak akan mengadakan pesta-pesta, perayaan-perayaan, dimana dananya saya ambil dari rakyat negeri jajahan ini..."

Lebih dari Sekadar Julukan

Meski terdengar kasar, sebutan kuli tinta tidak selalu dimaknai negatif. Bagi banyak wartawan, istilah ini justru menjadi simbol dedikasi dan keberanian. Di balik meja sederhana dan botol tinta, mereka mencatat peristiwa-peristiwa penting yang kini menjadi sumber sejarah berharga.

Tulisan para kuli tinta menjadi fondasi awal jurnalisme Indonesia, jauh sebelum profesi ini dikenal secara modern. Dari kerja keras merekalah lahir arsip, catatan kota, dan dokumentasi sosial yang masih dirujuk hingga hari ini.

Dari Tinta ke Digital

Seiring berjalannya waktu, alat kerja wartawan terus berubah. Pena bulu angsa berganti mesin ketik, lalu beralih ke komputer dan gawai pintar. Platform daring kini menggantikan kertas cetak sebagai medium utama penyebaran berita.

Namun, satu hal tetap tidak berubah: esensi jurnalistik itu sendiri. Menyampaikan fakta, menjaga keakuratan informasi, dan berpihak pada kepentingan publik tetap menjadi inti profesi wartawan, apa pun zamannya.

Mengingat kembali istilah kuli tinta bukan sekadar nostalgia, melainkan pengingat bahwa jurnalisme lahir dari kerja keras dan pengabdian panjang.

Di tengah kemudahan teknologi hari ini, sejarah pers era Hindia Belanda mengajarkan bahwa kualitas berita tidak ditentukan oleh alat, melainkan oleh integritas dan tanggung jawab mereka yang menuliskannya.

Artikel ini ditulis Fadya Majida Az-Zahra, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.




(ihc/abq)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads