Lagi! ODGJ di Ponorogo Dipasung Keluarganya

Lagi! ODGJ di Ponorogo Dipasung Keluarganya

Charolin Pebrianti - detikJatim
Senin, 02 Feb 2026 18:15 WIB
Lagi! ODGJ di Ponorogo Dipasung Keluarganya
Suhananto, ODGJ asal Ponorogo yang dipasung keluarganya. (Foto: Charolin Pebrianti/detikJatim)
Ponorogo -

Kasus orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang dikurung dalam penjara besi kembali terjadi di Kabupaten Ponorogo. Suhananto, warga Desa Sendang, Kecamatan Jambon, telah lebih dari 25 tahun mengalami gangguan jiwa.

Adik kandung Suhananto, Diana Puspita Sari mengatakan, gangguan jiwa yang dialami kakaknya bermula setelah merantau ke Malaysia usai lulus SMP.

"Mas Hananto ini habis lulus SMP langsung kerja ke Malaysia ikut temannya. Baru sekitar tiga sampai enam bulan di sana, dari agen Malaysia mengabari kalau kakak saya mengalami gangguan jiwa," kata Diana kepada wartawan, Senin (2/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Diana, sejak mengalami gangguan tersebut, Suhananto tidak lagi bisa bekerja. Bahkan, perilakunya berubah drastis.

"Di sana sudah nggak mau kerja, malah sembahyang ke Hindu, Buddha seperti itu. Kegiatannya cuma cari nomor togel. Akhirnya dipulangkan oleh pihak PT," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Setelah kembali ke rumah, kondisi Suhananto tak kunjung membaik. Ia enggan bekerja dan mengurus diri, lebih banyak tidur, serta menghabiskan rokok dan minuman bersoda.

"Kalau di rumah itu maunya tidur terus. Makan, ngerokok sehari bisa lebih dari dua bungkus. Minum soda diborong semua," ungkap Diana.

Kondisi tersebut membuat ekonomi keluarga semakin terpuruk. Berbagai barang milik keluarga terpaksa dijual demi memenuhi kebutuhannya.

"Uangnya habis semua. Beras dijual, tabung gas dijual, motor juga dijual. Begitu sudah nggak bisa ngerokok dan beli minuman, ngamuknya tambah parah," tuturnya.

Keluarga sempat berupaya melakukan pengobatan, baik secara medis maupun alternatif. Suhananto tercatat sudah empat kali menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Solo.

"Sudah beberapa kali dirawat di RSJ Solo. Biasanya di rumah sakit kelihatan sembuh, tapi dua bulan pulang ke rumah langsung kumat lagi," katanya.

Bahkan, Diana mengungkapkan Suhananto kerap membahayakan lingkungan sekitar saat kambuh.

"Kalau stres ambil apa saja, senjata tajam, kayu, balok, besi. Dulu awal-awal sampai keliling kampung bawa begituan," ujarnya.

Puncaknya terjadi sekitar tahun 2014, ketika Suhananto mengamuk dan hampir melukai anggota keluarga.

"Waktu itu sudah bawa parang. Saya saja pernah ditonjok. Karena keluarga takut ada yang dibacok, akhirnya tidak ada pilihan lain, kakak saya dimasukkan penjara biar tidak membahayakan," jelas Diana.

Kini, keluarga kembali berharap ada jalan kesembuhan bagi Suhananto melalui penanganan yang lebih terpadu.

"Harapan kami pengobatan dari Pak Purnomo ini jadi langkah awal kesembuhan Mas Hananto. Semoga bisa dirawat dengan baik dan pulih," ucap Diana.

Ia juga berharap dukungan dari berbagai pihak untuk keberlanjutan perawatan kakaknya.

"Kami mohon dukungan dari Dinas Sosial, Dinkes, dan pemerintah desa, bukan cuma untuk kesehatan pasien tapi juga mental keluarga," pungkasnya.

Diketahui, kasus pasung ini menjadi yang kedua yang terjadi di Ponorogo. Sebelumnya, Kirno (60), orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Desa Temon, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo mengalami pemasungan selama sekitar 20 tahun oleh keluarganya.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads