Pakar Ungkap Penyebab Ratusan Kasus PMK di Jatim

Pakar Ungkap Penyebab Ratusan Kasus PMK di Jatim

Allysa Salsabillah Dwi Gayatri - detikJatim
Jumat, 30 Jan 2026 20:10 WIB
Petugas Dinas Peternakan dan Perikanan Trenggalek melakukan vaksinasi PMK pada sapi milik warga
Ilustrasi PMK (Foto: Istimewa)
Surabaya -

Ratusan kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) muncul di Jawa Timur pada awal 2026. Berdasarkan data Dinas Peternakan Jawa Timur periode 1-26 Januari 2026, tercatat 839 kasus PMK di Jatim. Dari jumlah tersebut, 605 kasus masih aktif, 221 ekor ternak telah sembuh, 8 ekor dilaporkan mati, dan 5 ekor lainnya disembelih paksa.

Guru Besar Biologi Molekuler Universitas Airlangga, Chairul Anwar Nidom, menjelaskan bahwa PMK disebabkan oleh virus RNA bersegmen yang bekerja di dalam sel dan memiliki tingkat mutasi tinggi. Akibatnya, virus yang menular dari satu hewan ke hewan lain dapat mengalami perubahan bentuk.

"Faktor lain karena pengelolaan lingkungan pada sektor kecil atau kandang, kemudian virus mengikuti aliran sungai," jelas Prof Nidom pada detikJatim, Jumat (30/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, munculnya kasus PMK juga dipengaruhi oleh faktor karantina atau upaya mengisolasi hewan yang sakit yang belum berjalan optimal. Selama ini, pengendalian PMK lebih banyak dilakukan melalui larangan lalu lintas hewan. Secara teori langkah tersebut dinilai tepat, namun pelaksanaannya kerap terkendala karena berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi para peternak.

ADVERTISEMENT

Naik turunnya kasus PMK dinilai berkaitan dengan karakter virus RNA yang memang lazim mengalami pola merebak, menurun, lalu kembali meningkat, seperti pada flu burung dan COVID-19. Ahli statistik kesehatan memiliki rumus untuk memprediksi naik turunnya kasus tersebut, tergantung pada karakter virus dan wilayah tempat virus ditemukan.

"Beberapa minggu yang lalu, PNF berhasil mengisolasi virus PMK. Saat ini dianalisis bioinformatika dan model machine learning, maka akan diperoleh prediksi kapan outbreak lagi, kemudian dicocokkan dengan daya infeksinya.

Kalau Ro 1, berarti setiap sapi menulari 1 sapi. Saat rata Ro = 4, berarti 1 ekor sapi yang terinfeksi mampu menulari 4 ekor. Ini sudah lampu merah untuk kehidupan sapi," tambahnya.

Prof Nidom juga menjelaskan bahwa langkah paling efektif mengatasi kasus ini yakni dengan mencegah atau melarang lalu lintas ternak antar daerah karena struktur virus PMK dapat berbeda. Selain itu dapat dilakukan dengan mengkarantina sapi yang sakit.

"Saya pernah mengusulkan agar karantina sapi PMK dikelilingi oleh hewan yang tidak rentan. Misal dikelilingi oleh kandang ayam, sehingga virus PMK bisa dihambat oleh hewan yang tidak peka dengan virus PMK," Ujarnya.

Menurutnya, vaksinasi yang dilakukan selama ini dinilai masih memprihatinkan karena belum dicocokkan dengan virus yang sedang beredar di lapangan. Hampir tidak pernah dilakukan pencocokan update virus dengan antibodi vaksin.

Selama ini, ukuran keberhasilan vaksinasi hanya dilihat dari titer antibodi. Padahal, titer antibodi yang tinggi menjadi pecuma jika tidak mampu menetralisasi virus yang ada dan terbaru.

"Akibat vaksin yang tidak terkontrol dengan baik, peternak menolak dilakukan vaksin kedua (booster). Selain itu, KIE juga kurang," jawabnya.

Selain vaksinasi, penggunaan bahan herbal seperti empon-empon dapat dipertimbangkan, yang dapat dicampur dengan telur busuk. Ramuan tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan vitalitas dan daya tahan tubuh sapi.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads