Penjelasan Dokter Soal Ramai GERD Sebabkan Serangan Jantung

Penjelasan Dokter Soal Ramai GERD Sebabkan Serangan Jantung

Esti Widiyana - detikJatim
Rabu, 28 Jan 2026 21:45 WIB
Penjelasan Dokter Soal Ramai GERD Sebabkan Serangan Jantung
Ilustrasi Gerd. (Foto: Thinkstock)
Surabaya -

Beberapa hari ini jagat maya dihebohkan perdebatan antara dokter spesialis jantung soal Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) tidak menyebabkan serangan jantung yang kemudian dibantah netizen. Hal ini pun membuat banyak dokter angkat bicara.

GERD merupakan penyakit kronis akibat asam lambung yang naik kembali ke kerongkongan. Rasanya nyeri di dada, jika tidak pernah terkena GERD akan mengira serangan jantung, karena terasa mirip.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya (FK Ubaya) dr Jordan Bakhriansyah SpJP menekankan, GERD tidak menyebabkan serangan jantung secara instan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"GERD secara langsung nyaris bukan merupakan pemicu serangan jantung. Namun, bisa meningkatkan risiko gejala serangan jantung. Terdapat dua organ yang berbeda, namun tetap terhubung karena berada dalam satu tubuh yang sama," kata dr Jordan, Rabu (28/1/2026).

ADVERTISEMENT

Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia itu menjelaskan, GERD dapat meningkatkan risiko gangguan jantung apabila didukung oleh berbagai faktor risiko dan telah melewati serangkaian proses yang panjang.

Contohnya, GERD yang ditandai oleh inflamasi di lambung dapat meningkatkan tekanan darah karena saraf simpatik bekerja lebih keras.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya (FK Ubaya) dr Jordan Bakhriansyah SpJP.Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya (FK Ubaya) dr Jordan Bakhriansyah SpJP. (Foto: Istimewa)

Dampaknya, detak jantung menjadi lebih cepat dan memicu respons tubuh yang lebih sensitif. Apabila berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama dan didukung oleh faktor risiko, jantung dapat mengalami pembengkakan dan menimbulkan serangan atau gagal jantung.

"Namun, hal tersebut membutuhkan waktu dengan alur yang beragam. Tidak ada penderita GERD akut yang langsung mengalami gagal jantung dalam jangka waktu singkat," ujarnya.

Oleh karen itu, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah itu menentang diagnosis gangguan kesehatan tanpa melibatkan prosedur pemeriksaan medis baku, termasuk asosiasi GERD dengan serangan jantung.

Kesamaan profil yang seringkali didapati pada pasien GERD dan gangguan jantung tidak menjadi dasar pengambilan kesimpulan yang akurat.

"Ketika terdapat gejala serupa, khususnya nyeri pada bagian dada, penegakan diagnosis harus dilakukan di fasilitas kesehatan melalui anamnesis dan rangkaian pemeriksaan khusus," tuturnya.

Faktor risiko yang dapat meningkatkan kecenderungan penyakit jantung terbagi dua klasifikasi, yaitu risiko yang tidak dapat dikendalikan dan risiko yang dapat dikendalikan. Faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan meliputi usia, jenis kelamin, genetik, dan perubahan iklim yang memengaruhi manusia secara global.

Sedangkan, faktor risiko yang dapat dikendalikan terdiri dari kadar gula darah, kadar kolesterol, tekanan darah, penggunaan obat-obatan, gaya hidup, kebiasaan, dan sebagainya.

"Kenali faktor risikonya. Ketika Anda sudah sadar terkait faktor risiko yang melekat pada diri Anda, anda sudah memiliki akses terhadap tahap pencegahan untuk memperlambat proses memburuknya kondisi. Kita tidak dapat mengendalikan usia, namun dapat mencegah akselerasi kerusakannya" pungkasnya.




(auh/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads