Separuh perangkat sistem peringatan dini, (Early Warning System-EWS) bencana banjir contoh tanah longsor di Trenggalek rusak. Kondisi itu dikhawatirkan akan mengganggu kewaspadaan masyarakat.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono mengatakan, total EWS banjir dan tanah longsor berjumlah 16 unit, terdiri dari enam EWS banjir dan 10 EWS tanah longsor. Peralatan tersebut dipasang di enam kecamatan yang rawan bencana.
"Dari 16 EWS itu delapan dalam kondisi baik dan delapan sisanya rusak. EWS banjir kan ada enam, hanya satu yang berfungsi dan lima rusak, sedangkan EWS tanah longsor ada tiga yang rusak," kata Triadi, Selasa (27/1/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, peralatan pendeteksi banjir seluruhnya dimiliki oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, sedangkan EWS tanah longsor milik BPBD Jatim, Dinas ESDM Jatim, UM dan Dinas Pertanian Trenggalek, Dinas PUSDA dan ITS.
"Terkait kondisi peralatan yang rusak sudah kami laporkan kepada instansi masing-masing. Harapan kami bisa dilakukan perawatan dan difungsikan sebagai mana mestinya," ujarnya.
Keberadaan EWS bencana alam dinilai sangat penting karena wilayah Trenggalek masuk kategori rawan bencana banjir maupun tanah longsor.
"Alat ini fungsinya adalah memberikan peringatan dini kepada masyarakat melalui sirine. Misalkan jika ketinggian air sungai melebihi ambang batas maka sirine berbunyi. Nah, si situlah masyarakat sekitar akan melakukan kesiapsiagaan," ujarnya.
Demikian juga EWS tanah longsor. Sistem kerjanya jika terjadi pergerakan tanah melebihi ambang batas, maka sirine akan berbunyi memberikan peringatan kepada warga sekitar.
Triadi mengaku, meskipun beberapa peralatan mengalami kerusakan, pihaknya masih memiliki cadangan sistem informasi bencana dengan memanfaatkan kamera pengawas (CCTV)
"Untuk pemantauan banjir kami juga dibantu CCTV dari Dinas Kominfo Trenggalek. CCTV tersebut terpaksa di kawasan rawan banjir, seperti Ngares, jembatan Tamanan, jembatan Ngasinan dan jembatan Ngadirejo," jelasnya.
Sistem informasi tersebut dapat diakses oleh masyarakat umum melalui laman Pemkab Trenggalek. Tidak hanya itu, peringatan dini banjir juga didukung oleh Jasa Tirta yang memiliki alat pemantau di beberapa titik.
"Bedanya kalau EWS itu bisa langsung memberikan peringatan kepada masyarakat melalui sirine, sedangkan sistem yang lain kami yang proaktif mengakses dan menyebarluaskan ke masyarakat," jelasnya.
Kalaksa BPBD Trenggalek ini mengimbau masyarakat untuk terus melakukan kewaspadaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi, mulai banjir, tanah longsor maupun angin kencang. "BMKG memprediksi dalam beberapa hari ke depan masih berpotensi terjadi cuaca buruk," ujarnya.
(hil/abq)











































