Kemacetan horor yang kerap menyiksa pengendara di Bundaran Taman Pelangi, Jalan Ahmad Yani, Surabaya, akan segera teratasi. Proyek flyover megah segera berdiri di sana.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memastikan bahwa proyek ini bukan sekadar pembangunan jalan biasa. Desain yang diusung dimaksudkan untuk memutus rantai kemacetan di salah satu simpul terpadat Kota Pahlawan.
Desain Megah Tanpa Lampu Merah
Flyover Ahmad Yani diproyeksikan menjadi ikon infrastruktur baru yang mengadopsi kemegahan Flyover Juanda (Aloha) di Sidoarjo. Salah satu keunggulan utamanya adalah konsep arus mengalir (*free flow*) yang akan menghilangkan hambatan di persimpangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena itulah dikurangi kemacetannya dengan flyover. Berdasarkan perhitungan Dishub, Bundaran Taman Pelangi merupakan titik yang paling krusial atau paling padat. Maka kita potong di titik itu, sambil nanti kita melihat titik-titik lainnya," kata Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi kepada wartawan, Kamis (22/1).
Eri menjelaskan, keberadaan rel kereta api di kawasan tersebut selama ini menjadi biang kerok antrean kendaraan. Dengan adanya jalan layang, faktor keselamatan dan kelancaran akan meningkat drastis. "Pertama membahayakan, kedua pasti memengaruhi arus lalu lintas. Karena itu, nanti akan bertahap," tambahnya.
Pemkot Surabaya awalnya sempat mempertimbangkan pembangunan underpass, namun setelah melalui kajian teknis bersama Kementerian Pekerjaan Umum (PU), pilihan jatuh pada flyover karena dinilai lebih efektif secara fungsional.
Secara visual, jembatan layang ini akan memiliki kemiripan dengan struktur yang ada di Bundaran Aloha. Desainnya dirancang sedemikian rupa agar kendaraan dari arah selatan (Sidoarjo) maupun utara (pusat kota) bisa langsung melesat tanpa terjebak traffic light.
"Kami sudah sampaikan karena desainnya juga belum final. Iya, kayak gitu (Bundaran Aloha Sidoarjo)," ungkap Eri mengonfirmasi gambaran desain yang tengah dimatangkan.
Nasib Kampung Tengah Jalan Ahmad Yani
Demi mewujudkan infrastruktur modern ini, Kampung Tengah Jalanβatau secara administratif dikenal sebagai sebagian wilayah Jemur Gayunganβkini telah rata dengan tanah. Kampung ini memiliki sejarah panjang yang tragis; mereka terisolasi sejak tahun 1974 akibat pembangunan pengembangan Jalan Ahmad Yani.
Dahulu, kampung ini menyatu dengan pemukiman di sisi barat. Namun, pembangunan jalan baru layaknya "gunting raksasa" yang membelah wilayah tersebut, menyisakan segelintir rumah yang terjepit di tengah kepungan aspal. Selama puluhan tahun, warga hidup di tengah kebisingan dan getaran ribuan kendaraan yang melintas setiap harinya.
Kini, riwayat kampung tersebut resmi berakhir. Pemkot Surabaya telah menuntaskan proses ganti rugi melalui sistem konsinyasi. Pantauan di lokasi menunjukkan area yang dulunya merupakan pemukiman warga kini hanya menyisakan puing-puing, siap untuk disulap menjadi fondasi jembatan layang.
Proyek yang diperkirakan menelan anggaran sekitar Rp 400 miliar dari APBN ini dijadwalkan mulai konstruksi pada tahun ini. Pemerintah menargetkan flyover ini berdiri kokoh dan dapat digunakan sepenuhnya pada tahun 2027.
Eri Cahyadi optimistis, meski harus mengorbankan jejak sejarah kecil di tengah jalan, manfaat jangka panjang bagi warga Surabaya dan para pelaju akan jauh lebih besar. "Tapi yang terpenting di titik ini segera bisa dilakukan pembangunan, sehingga kemacetan di simpul yang paling parah ini bisa terselesaikan," pungkasnya.
(irb/dpe)











































