Waspada Child Grooming, LPA Jatim Dorong Sekolah Lebih Peka

Waspada Child Grooming, LPA Jatim Dorong Sekolah Lebih Peka

Aprilia Devi - detikJatim
Selasa, 20 Jan 2026 07:00 WIB
Ilustrasi Pencabulan Anak. Andhika Akbarayansyah/detikcom.
Ilustrasi child grooming/Foto: Andhika Akbarayansyah
Surabaya -

Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jatim mengingatkan pentingnya peran lembaga pendidikan dalam mencegah praktik child grooming. Kejahatan ini berbahaya karena dilakukan secara halus, bertahap, dan tidak selalu disadari oleh korban.

Pengurus LPA Jatim, Isa Anshori menjelaskan, child grooming merupakan proses kejahatan terhadap anak yang diawali dengan membangun kedekatan emosional dan ketergantungan.

"Child grooming itu kan sebuah proses kejahatan terhadap anak yang bergantung pada niat awal menciptakan ketergantungan, dan ketergantungan itu kemudian berdampak pada kekerasan dan eksploitasi," jelas Isa saat dihubungi detikJatim, Senin (19/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, praktik ini bisa terjadi di mana saja, termasuk di lingkungan sekolah. Bahkan, pelaku bisa berasal dari oknum yang terlihat perhatian dan baik, namun memiliki tujuan tersembunyi. Karena itu, pencegahan menjadi langkah paling krusial.

ADVERTISEMENT

"Di kelas juga bisa jadi ada, ada pelaku pendidikan yang kemudian seolah-olah perhatian baik, tapi kemudian punya tujuan lain dari citra baik tadi," ujarnya.

Isa menekankan, berbeda dengan kekerasan seksual yang dilakukan secara terang-terangan, child grooming sulit terdeteksi karena berlangsung secara tidak kasat mata.

Edukasi kepada anak agar berani menolak dan tidak mudah percaya dinilai penting untuk memutus rantai kejahatan tersebut.

Ia juga menyoroti peran lembaga pendidikan, mengingat data kekerasan terhadap anak menunjukkan rumah dan sekolah sebagai dua lokasi tertinggi terjadinya kasus. Kehadiran Sekolah Ramah Anak disebut harus benar-benar diimplementasikan, bukan sekadar formalitas.

"Dalam konteks Sekolah Ramah Anak itu kan memang betul-betul ada standar, bagaimana memperlakukan anak supaya merasa nyaman dan aman. Sekolah masih harus mengarah ke sana dengan SOP yang jelas, dengan sistem yang jelas," beber Isa.

Selain itu, kepekaan guru menjadi kunci utama dalam pencegahan. Guru diminta lebih memperhatikan perubahan perilaku siswa dan aktivitas akademik sehari-hari sebagai bentuk deteksi dini.

"Guru harus memperhatikan siswa. Karena itu bagian dari kepekaan guru, kepekaan lembaga pendidikan terhadap sivitas akademikanya," tegasnya.

Isa menambahkan, lembaga pendidikan juga memiliki peran penting dalam pemulihan korban. Anak korban kekerasan umumnya mengalami penurunan kepercayaan diri, sehingga sekolah perlu hadir melalui peran wali kelas, guru BK, hingga layanan konseling.

"Korban kekerasan itu biasanya merasa tidak percaya diri. Nah, maka yang harus kita lakukan sebagai lembaga pendidikan adalah mengembalikan kepercayaan diri itu," tuturnya.

Menurut Isa, sistem perlindungan anak sebenarnya sudah tersedia, tinggal bagaimana semua pihak mau berkolaborasi secara serius.

Terkait laporan kasus child grooming di Jawa Timur, ia menyebut pihaknya telah mencatat berbagai kasus kekerasan yang terjadi, sementara proses grooming sebagai niat awal kerap sulit terdeteksi.

"Grooming itu niatnya dulu. Tapi kemudian wujudnya kan kekerasan itu sendiri. Kita catat tiap ada kasus kekerasan," pungkasnya.



(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads