Arti Child Grooming, Ciri-ciri dan Dampaknya pada Anak

Arti Child Grooming, Ciri-ciri dan Dampaknya pada Anak

Salma Nisrina Fahriyyah - detikJatim
Selasa, 13 Jan 2026 14:30 WIB
Arti Child Grooming, Ciri-ciri dan Dampaknya pada Anak
Ilustrasi anak menjadi korban child grooming. Foto: Edi Wahyono
Surabaya -

Si kecil sekarang semakin aktif di media sosial dan game online yang kelihatannya aman. Tapi di balik itu, ada child grooming yang nyaris tidak terasa berbahaya di awal.

Memahami arti child grooming dan dampaknya pada anak bisa membantu orang tua dan lingkungan sekitar lebih sigap tanpa harus panik berlebihan. Mari bahas kenapa isu ini penting untuk diperhatikan.

Apa Itu Child Grooming?

Child grooming adalah proses ketika orang dewasa mendekati anak atau remaja dengan cara yang terlihat baik dan perhatian, tetapi di baliknya ada niat tersembunyi. Pelaku biasanya pelan-pelan membangun rasa percaya, membuat anak merasa aman, bahkan spesial, sampai akhirnya anak jadi sulit menolak atau bercerita ke orang lain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dulu fenomena ini dibahas sebagai proses pendekatan sebelum kekerasan terjadi, tapi sejak era internet, risikonya semakin besar karena interaksi bisa berlangsung online dan sulit diawasi.

Di Indonesia, praktik ini juga masuk dalam ranah pelanggaran hukum dan perlindungan anak, sebagaimana diatur dalam UU Perlindungan Anak No 35/2014 dan dikaitkan dengan pornografi anak via UU ITE.

ADVERTISEMENT

Bagaimana Proses Child Grooming Terjadi?

Dikutip dari buku Internet Sex Offenders oleh Michael Seto, pakar psikolog forensik asal Kanada mengatakan, child grooming terjadi secara bertahap untuk membangun kepercayaan sambil menurunkan kewaspadaan korban.

Melansir dari hasil penelitian dari organisasi National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC), proses child grooming terjadi dalam lima tahap berikut ini.

1. Memilih Target

Pelaku mencari anak yang rentan via platform digital seperti Instagram, TikTok, atau Roblox. Korban potensial mereka umumnya adalah anak berusia 8-13 tahun yang kesepian dan bermasalah di rumah. Alasannya karena anak-anak tersebut lebih mudah dimanfaatkan karena kurangnya pengawasan orang tua.

2. Membangun Kepercayaan

Pelaku lalu berpura-pura sebagai teman atau mentor, memberi perhatian, pujian, dan hadiah. Studi dari Jurnal Child Abuse Review oleh Ethel Quayle menyebut ini sebagai "love bombing" untuk menciptakan ikatan emosional kuat, membuat anak merasa spesial.

Dikutip dari wawancara NSPCC (2020), Quayle menjelaskan love bombing efektif karena anak kekurangan kasih sayang sering "lapar" validasi.

3. Memperdaya untuk Mengisolasi Diri

Di tahap ini, pelaku mulai menjauhkan anak dari orang-orang terdekatnya secara perlahan. Caranya bisa lewat ajakan menyimpan rahasia berdua, atau komentar halus yang bikin anak ragu untuk cerita ke orang tua dan teman.

Pelaku juga bisa menguji reaksi anak lewat candaan atau topik yang sedikit mengarah ke seksual, seolah itu hal biasa. Tujuannya supaya anak terbiasa, tidak kaget, dan pelan-pelan menganggap perilaku tersebut wajar.

4. Desentisasi Seksual

Selanjutnya, pelaku mulai mengenalkan topik yang bersifat seksual secara perlahan. Awalnya bisa lewat obrolan yang terasa setengah bercanda atau konten yang tampak tidak terlalu serius, lalu pelan-pelan makin jauh.

Semua dilakukan sambil membuat anak merasa itu hal biasa, supaya rasa canggung dan malu berkurang. Di forum online, ini sering terjadi lewat kiriman gambar atau video.

5. Eksploitasi dan Pemutusan Hubungan

Di tahap ini, pelaku berusaha mempertahankan kontrol atas anak. Bisa lewat ancaman halus, membuat anak merasa bersalah, atau memberi janji tertentu agar hubungan tetap berjalan.

Anak jadi merasa terikat dan sulit keluar dari situasi tersebut. Pakar seperti Elliott & Beech (2009) mencatat bahwa tahap ini bisa berlanjut bertahun-tahun jika tak terdeteksi.

Saat mulai merasa terancam atau dicurigai, pelaku bisa tiba-tiba memutus kontak atau justru menyalahkan anak atas apa yang terjadi. Di era digital ini, pelaku juga kerap mendekati banyak anak sekaligus dengan menggunakan beberapa akun berbeda, sehingga jejaknya lebih sulit dilacak.

Ciri-ciri Child Grooming yang Perlu Diwaspadai

Sejumlah studi perlindungan anak yang dirujuk NSPCC dan peneliti seperti Michael Seto serta Ethel Quayle menyebutkan, satu tanda saja belum tentu berarti grooming. Tapi jika muncul berulang dan saling berkaitan, itu bisa menjadi sinyal penting.

Ciri-ciri Pelaku

  • Perhatian berlebihan sejak awal, seperti pujian terus-menerus, hadiah, atau sikap sangat peduli padahal belum lama kenal.
  • Mengaku sebagai teman sebaya atau membuat hubungan terasa spesial dan eksklusif.
  • Mulai menjauhkan anak dari keluarga atau teman, misalnya dengan ajakan menyimpan rahasia.
  • Menguji batas lewat candaan atau topik yang tidak pantas, dilakukan perlahan supaya terlihat normal.

Ciri Perubahan pada Anak

  • Jadi lebih tertutup dan protektif terhadap ponsel atau akun media sosial.
  • Mudah cemas, defensif, atau tidak nyaman saat ditanya soal teman baru.
  • Menerima hadiah, uang, atau janji tertentu dari orang yang tidak jelas.
  • Perubahan kebiasaan, seperti sering online larut malam, sulit fokus, atau tampak tertekan.

Dampak Child Grooming pada Anak

Mengkaji dari sejumlah pakar psikologi seperti David Finkelhor dari Crime Victims Research Lab, Michael Seto, dan Ethel Quayle menjelaskan bahwa child grooming menyebabkan trauma mendalam karena manipulasi emosional yang membuat korban salahkan diri sendiri.

Dampak jangka pendek dan panjangnya bisa mempengaruhi perkembangan otak, emosi, dan sosial anak. Penelitian seperti meta-analisis oleh Finkelhor (2014) pada 20.000 korban tunjukkan bahwa grooming tingkatkan risiko PTSD 3 kali lipat dibanding pelecehan. langsung.




(hil/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads