Isu child grooming masih ramai diperbincangkan. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi mengingatkan bahaya praktik ini karena dilakukan secara halus dan bertahap.
Hal itu disampaikan Arifatul saat menghadiri agenda arahan Menteri Sosial kepada kepala sekolah dan tenaga kependidikan Sekolah Rakyat.
Ia menegaskan, child grooming tidak selalu tampak sebagai tindakan kriminal di awal, sehingga membutuhkan kewaspadaan kolektif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini menjadi perhatian kita bersama bahwa tanda-tanda ketika kita melihat ada tanda-tanda child grooming itu, maka kita harus memberanikan diri untuk melakukan sesuatu dan mengantisipasi hal-hal apa yang bisa dilakukan," kata Arifatul di Surabaya, Jumat (16/1/2026).
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar dalam mengantisipasi child grooming adalah sifatnya yang tidak kasatmata.
Pelaku kerap membangun kedekatan emosional secara perlahan dengan berbagai cara, sehingga korban tidak merasa sedang terancam.
"Karena ini kan sifatnya enggak terlihat, enggak terasa gitu ya, karena berbagai cara yang dilakukan," bebernya.
Ia pun menekankan pentingnya penyadaran dan sosialisasi yang masif, tidak hanya kepada anak-anak, tetapi juga kepada orang dewasa. Sebab, praktik grooming tidak selalu menyasar anak sebagai korban tunggal.
"Ini perlu ada penyadaran sosialisasi kepada anak-anak atau kepada siapapun karena itu tidak melanda anak-anak saja ya," jelasnya.
Dirinya juga mengingatkan, pelaku grooming sering kali menampilkan sikap yang tampak baik dan meyakinkan di awal, padahal menyimpan niat tersembunyi. Karena itu, kemampuan mawas diri menjadi kunci agar tidak terjebak.
"Jangan terhanyut dengan hal-hal yang sebetulnya tidak terlihat. Atau terlihat kelihatannya bagus tapi sebetulnya dia punya niat yang tidak bagus," tegas Arifatul.
Lebih lanjut, ia menyebut pencegahan child grooming membutuhkan proses berkelanjutan melalui edukasi dan pembelajaran yang konsisten, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
"Perlu proses, perlu ada sosialisasi mungkin lebih banyak lagi supaya tidak terperangkap di hal-hal seperti itu," pungkasnya.
(auh/abq)
