Kondisi memprihatinkan masih dialami sejumlah sekolah di Bojonegoro. Salah satunya gedung RA-MI Bahrul Ulum di Dusun Dibal, Desa Deling, Kecamatan Sekar, yang hingga kini masih berlantai tanah dan hanya berdinding kalsiboard meski telah berdiri selama 12 tahun.
Gedung sekolah yang dibangun sejak 2014 itu kini mulai mengalami kerusakan. Atap berbahan asbes tampak rapuh, sementara sejumlah dinding kalsiboard sudah jebol. Saat hujan turun, air kerap masuk ke dalam ruang kelas sehingga mengganggu proses belajar mengajar.
"Ya berlantai tanah. Dindingnya dipasangi kalsiboard dan sudah ada yang jebol. Kalau hujan, bocor di beberapa titik. Anak-anak tetap belajar seadanya meski kondisi kelas tidak nyaman. Sekolah ini dibangun sejak 2014," tutur salah satu guru, Supaiti, Selasa (13/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
RA-MI Bahrul Ulum menampung sebanyak 48 siswa madrasah ibtidaiyah dan raudlatul athfal (RA). Awalnya, sekolah ini berada di bawah naungan Yayasan Ansorul Umma. Namun seiring waktu, lembaga tersebut kini berdiri sendiri dan masih dalam proses peralihan administrasi kelembagaan.
"Dulu yayasannya Ansorul Umma, sekarang berdiri sendiri dan masih proses," imbuhnya.
Sekolah RA/MI Bahrul Ulum di Bojonegoro Foto: Istimewa |
Kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung setiap hari di bangunan berukuran sekitar 14 x 6 meter yang disekat menjadi empat ruangan. Ruang-ruang tersebut digunakan bersama untuk enam kelas MI dan satu kelas RA. Masing-masing ruangan digunakan untuk belajar dua kelas.
"Kelas 1 dan 2 digabung dalam satu ruangan, kelas 3 dan 4 digabung, serta kelas 5 dan 6 juga digabung. Sementara satu ruangan lagi jadi kelas RA dan kantor sekolah kalau kegiatan RA selesai," ungkap Supaiti.
Meski berada dalam keterbatasan, keberadaan RA-MI Bahrul Ulum yang memiliki 5 orang tenaga pendidik sangat vital bagi warga Desa Deling. Pasalnya, sekolah terdekat lainnya berada di Kecamatan Gondang dengan jarak lebih dari 4 kilometer dan harus ditempuh dengan melewati jembatan.
Supaiti, juga menuturkan, bangunan sekolah ini dibangun secara swadaya oleh masyarakat setempat. Warga dan sekolah berharap ke depan ada perhatian pemerintah atau orang baik hati, agar sekolah dapat memiliki fasilitas yang layak.
"Harapan kami bisa memiliki gedung yang layak, supaya kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung lebih nyaman dan aman bagi anak-anak," pungkasnya.
(auh/abq)

