Peristiwa Isra Mikraj adalah momen penting dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW. Dalam peristiwa tersebut, Rasulullah melakukan perjalanan dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan ke langit hingga mencapai Sidratul Muntaha.
Di balik rangkaian peristiwa tersebut, terdapat satu ketentuan besar yang hingga kini dijalankan umat Islam, yakni kewajiban salat lima waktu. Penetapan ibadah ini pun menimbulkan pertanyaan, mengapa perintah salat justru ditetapkan melalui peristiwa Isra Mikraj?
Peristiwa Isra Mikraj dan Penetapan Salat
Dikutip dari laman resmi Nahdlatul Ulama (NU) Online, Isra Mikraj menjadi peristiwa penting dalam sejarah Islam. Isra merupakan perjalanan Rasulullah SAW bersama malaikat Jibril dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara Mikraj merupakan naiknya Rasulullah SAW dari Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha, yang dilakukan hanya dalam satu malam. Pada peristiwa Mikraj ini Nabi Muhammad menerima perintah salat lima waktu bagi umat Islam.
Peristiwa Isra Mikraj berlangsung pada tanggal 27 Rajab tahun ke-10 kenabian. Sebagaimana yang sudah dijelaskan dalam Al-Qur'an surah Al-Isra ayat 1, Allah SWT berfirman:
Ψ³ΩΨ¨ΩΨΩΩ°ΩΩ Ω±ΩΩΩΨ°ΩΩΩ Ψ£ΩΨ³ΩΨ±ΩΩΩ° Ψ¨ΩΨΉΩΨ¨ΩΨ―ΩΩΩΫ¦ ΩΩΩΩΩΩΨ§ Ω ΩΩΩΩ Ω±ΩΩΩ ΩΨ³ΩΨ¬ΩΨ―Ω Ω±ΩΩΨΩΨ±ΩΨ§Ω Ω Ψ₯ΩΩΩΩ Ω±ΩΩΩ ΩΨ³ΩΨ¬ΩΨ―Ω Ω±ΩΩΨ£ΩΩΩΨ΅ΩΨ§ Ω±ΩΩΩΨ°ΩΩ Ψ¨ΩΩ°Ψ±ΩΩΩΩΩΨ§ ΨΩΩΩΩΩΩΩΫ₯ ΩΩΩΩΨ±ΩΩΩΩΩΫ₯ Ω ΩΩΩ Ψ‘ΩΨ§ΩΩΩ°ΨͺΩΩΩΨ§Ω Ϋ Ψ₯ΩΩΩΩΩΩΫ₯ ΩΩΩΩ Ω±ΩΨ³ΩΩΩ ΩΩΨΉΩ Ω±ΩΩΨ¨ΩΨ΅ΩΩΨ±Ω
Artinya: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjid Al Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Isra: 1)
Sejumlah riwayat menyebutkan bahwa Nabi Muhammad melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa menunggangi kendaraan Buraq. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim berbunyi:
ΨΉΩΩΩ Ψ£ΩΩΩΨ³Ω Ψ¨ΩΩΩ Ω ΩΨ§ΩΩΩΩΨ Ψ£ΩΩΩΩ Ψ±ΩΨ³ΩΩΩΩ Ψ§ΩΩΩΩ Ψ΅ΩΩΩΩΩ Ψ§ΩΩΩΩ ΨΉΩΩΩΩΩΩΩ ΩΩΨ³ΩΩΩΩΩ Ω ΩΩΨ§ΩΩ: Ψ£ΩΨͺΩΩΨͺΩ Ψ¨ΩΨ§ΩΩΨ¨ΩΨ±ΩΨ§ΩΩΨ ΩΩΩΩΩΩ Ψ―ΩΨ§Ψ¨ΩΩΨ©Ω Ψ£ΩΨ¨ΩΩΩΨΆΩ Ψ·ΩΩΩΩΩΩ ΩΩΩΩΩΩ Ψ§ΩΩΨΩΩ ΩΨ§Ψ±ΩΨ ΩΩΨ―ΩΩΩΩ Ψ§ΩΩΨ¨ΩΨΊΩΩΩΨ ΩΩΨΆΩΨΉΩ ΨΩΨ§ΩΩΨ±ΩΩΩ ΨΉΩΩΩΨ―Ω Ω ΩΩΩΨͺΩΩΩΩ Ψ·ΩΨ±ΩΩΩΩΩ Ψ ΩΩΨ§ΩΩ: ΩΩΨ±ΩΩΩΨ¨ΩΨͺΩΩΩ ΨΩΨͺΩΩΩ Ψ£ΩΨͺΩΩΩΨͺΩ Ψ¨ΩΩΩΨͺΩ Ψ§ΩΩΩ ΩΩΩΨ―ΩΨ³Ω Ψ ΩΩΨ§ΩΩ: ΩΩΨ±ΩΨ¨ΩΨ·ΩΨͺΩΩΩ Ψ¨ΩΨ§ΩΩΨΩΩΩΩΩΨ©Ω Ψ§ΩΩΩΨͺΩΩ ΩΩΨ±ΩΨ¨ΩΨ·Ω Ψ¨ΩΩΩ Ψ§ΩΩΨ£ΩΩΩΨ¨ΩΩΩΨ§Ψ‘Ω
Artinya: Dari Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah bersabda: Didatangkan kepadaku Buraq, seekor tunggangan putih, lebih tinggi dari keledai dan lebih rendah dari baghal, ia berupaya meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya. Setelah menungganginya, maka Buraq itu berjalan membawaku hingga sampai ke Baitul Maqdis. Aku ikat (tambat) tunggangan itu di tempat biasanya para Nabi menambatkan tunggangannya (Buraq).
Buraq merupakan kendaraan yang berasal dari surga dan menjadi alat transportasi super cepat yang membawa Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Baitul Maqdis dengan cepat. Jika dianalogikan dengan kecepatan kilat atau cahaya,maka Buraq menempuh sejauh 186.000 atau 300 kilometer per detik.
Dikutip dari buku Isra Miraj dan Kisah 25 Nabi-Rasul karya Winkanda Satria Putra, Rasulullah SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram menuju Masjid Al Aqsa dengan mengendarai Buraq. Sesampainya di Masjid Al Aqsa, ia menambatkan Buraq dan melaksanakan salat dua rakaat.
Dalam salat tersebut, Rasulullah SAW menjadi imam bagi para nabi dan malaikat Allah SWT. Setelah itu, Rasulullah SAW bersama malaikat Jibril melanjutkan perjalanan menuju langit ketujuh. Dalam setiap lapisan langit yang dilalui, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan para nabi terdahulu.
Kisah Nabi Muhammad Saat di Langit
Saat di langit pertama, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan nabi dan manusia pertama di dunia, yakni Nabi Adam AS. Ketika menoleh ke kanan, Nabi Adam tersenyum, akan tetapi, saat melihat ke kiri ia menangis.
Hal ini dikarenakan Nabi Adam melihat keturunannya masuk surga ketika menoleh ke sebelah kanan. Sementara, terlihat keturunannya masuk neraka ketika melihat sebelah kiri.
Ketika sampai di langit kedua, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Yahya AS dan Nabi Isa AS. Saat di sana, Rasulullah disapa "Selamat datang wahai saudaraku yang saleh".
Saat tiba di langit ketiga, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Yusuf AS. Pada saat itu, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa benar ia sudah diwarisi setengah kegagahan dunia.
Setibanya di langit keempat, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Idris, nabi yang pertama kali menjahit pakaian dan menulis menggunakan pakaian. Di langit kelima, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Harun AS, "Selamat bertemu wahai Nabi yang saleh dan saudaraku yang saleh," ucap Nabi Harun AS.
Sesampainya di langit keenam, Rasulullah SAW disambut Nabi Musa AS, "Selamat bertemu wahai nabi saleh dan saudaraku yang saleh," kata Nabi Musa AS. Di langit ketujuh, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan sosok laki-laki tua yang sedang bersandar di Baitul Makmur.
Awalnya, ia menanyakan siapakah laki-laki tersebut, ternyata ia adalah Nabi Ibrahim AS. Baitul Makmur adalah tempat tawaf malaikat-malaikat yang setiap harinya dimasuki tujuh puluh ribu malaikat.
Kisah Nabi Muhammad SAW di Langit Ketujuh
Sesampainya di langit ketujuh, Rasulullah SAW melanjutkan perjalanan ke Sidratul Muntaha, tanpa didampingi Malaikat Jibril. Di tempat tertinggi tersebut, keindahannya sulit digambarkan. Allah SWT berbicara kepada Nabi Muhammad SAW tanpa perantara dan menetapkan kewajiban salat.
Awalnya, salat diperintahkan sebanyak 50 waktu dalam sehari semalam. Namun, atas saran Nabi Musa AS, Rasulullah SAW berulang kali memohon keringanan kepada Allah SWT, hingga akhirnya jumlah salat ditetapkan menjadi lima waktu dalam sehari semalam.
Pada masa itu, kisah Isra Mikraj tidak mudah diterima akal manusia. Meskipun demikian, Rasulullah SAW tetap menyampaikan perintah salat kepada umatnya, yang kemudian menjadi kewajiban utama dalam kehidupan umat Islam.
(hil/irb)











































