Mengapa Isra Mikraj Menjadi Peristiwa Penting dalam Islam?

Mengapa Isra Mikraj Menjadi Peristiwa Penting dalam Islam?

Jihan Navira - detikJatim
Selasa, 06 Jan 2026 01:00 WIB
Mengapa Isra Mikraj Menjadi Peristiwa Penting dalam Islam?
Ilustrasi Isra Mikraj. Foto: Freepik
Surabaya -

Isra Mikraj merupakan salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Islam. Melalui peristiwa inilah Nabi Muhammad SAW menerima perintah salat lima waktu secara langsung dari Allah SWT, yang hingga kini menjadi tiang agama dan fondasi kehidupan spiritual umat Islam.

Perjalanan luar biasa yang terjadi dalam satu malam ini tidak hanya dipahami sebagai mukjizat, tetapi juga mengandung makna mendalam tentang keimanan, keteguhan hati, serta hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.

Apa Itu Isra Mikraj?

Isra berarti perjalanan Nabi Muhammad SAW pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dengan kendaraan Buraq. Di Masjidil Aqsa, Rasulullah SAW memimpin salat bersama para nabi terdahulu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mikraj merupakan perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsa menuju Sidratul Muntaha. Dalam peristiwa inilah Rasulullah menerima perintah salat lima waktu serta diperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

Kisah Isra Mikraj diabadikan dalam Al-Qur'an surah Al-Isra ayat 1 dan menjadi salah satu mukjizat yang menguji keimanan umat Islam.

سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ

Artinya: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Isra [17]: 1)

Terjadi di Masa Paling Berat Rasulullah SAW

Peristiwa Isra Mikraj terjadi sekitar tahun ke-10 atau ke-11 kenabian, tepatnya pada malam 27 Rajab. Peristiwa ini berlangsung setelah Rasulullah SAW mengalami cobaan berat berupa wafatnya Abu Thalib dan Khadijah RA, serta penolakan dakwah di Thaif.

Masa tersebut dikenal sebagai 'Amul Huzni atau tahun kesedihan. Dalam kondisi penuh duka dan tekanan, Isra Mikraj hadir sebagai bentuk penguatan dan penghiburan dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.

Makna Kehambaan dalam Isra Mikraj

Melansir laman resmi Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur, Al-Qur'an dalam surah Al-Isra ayat 1 menggunakan kata 'abdun (hamba) untuk menyebut Nabi Muhammad SAW. Padahal, Allah SWT dapat menggunakan sebutan nabi, rasul, atau kekasih.

Pemilihan kata hamba ini menunjukkan bahwa derajat kehambaan memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW sendiri memilih untuk menjadi nabi sekaligus hamba, bukan nabi sekaligus raja, sebagai bentuk pengabdian total kepada Allah SWT.

Penyebutan Nabi Muhammad SAW menggunakan kata "Abdun" ini tertuang dalam Al-Qur'an ketika membicarakan orang-orang ikhlas menggunakan kata Abdun dan Allah berfirman sebagai berikut.

وَعِبَادُ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنٗا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَٰهِلُونَ قَالُواْ سَلَٰمٗا

Artinya: Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (QS Al-Furqan [25]: 63)

Mengapa Isra Mikraj Penting untuk Keimanan Umat Islam?

Masih dari sumber yang sama, Isra Mikraj merupakan peristiwa yang haq dan pasti terjadi karena disebutkan secara jelas dalam Al-Qur'an. Meski melampaui batas logika manusia, peristiwa ini menjadi ujian keimanan bagi umat Islam.

Isra Mikraj mengajarkan bahwa kebenaran dalam agama tidak selalu dapat diukur dengan pendekatan rasional semata, melainkan juga membutuhkan keyakinan dan kepercayaan penuh kepada kekuasaan Allah SWT.

Pelajaran Penting dari Kisah Perjalanan Agung Isra Mikraj

Selain dikenal sebagai mukjizat, Isra Mikraj juga mengandung berbagai hikmah dan pelajaran penting bagi umat Islam. Berikut beberapa hikmah dan pelajaran penting dari kisah Rasulullah SAW di balik peristiwa Isra Mikraj.

1. Menjadi Bekal Dakwah untuk Rasulullah SAW

Isra Mikraj menjadi penguat mental dan spiritual Rasulullah SAW dalam menghadapi tantangan dakwah yang semakin berat. Setelah peristiwa ini, Rasulullah menghadapi fase dakwah yang penuh ujian, mulai dari hijrah hingga berbagai peperangan.

2. Menyampaikan Kebenaran Meski Ditolak

Sepulang dari Isra Mikraj, Rasulullah SAW menyampaikan peristiwa yang dialaminya meski mendapat penolakan dan ejekan. Hal ini mengajarkan keteguhan dalam menyampaikan kebenaran, meski terasa berat dan pahit.

3. Penanda Kesempurnaan Risalah Islam

Rasulullah SAW menjadi imam salat bagi para nabi terdahulu di Masjidil Aqsa. Peristiwa ini menjadi isyarat bahwa risalah Nabi Muhammad SAW menyempurnakan dan menggantikan syariat sebelumnya.

4. Keistimewaan Masjid Al-Aqsa

Baitul Maqdis merupakan nama asal Masjid Al-Aqsha sebelum peristiwa Isra Mikraj. Masjid Al-Aqsa memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Selain menjadi tujuan Isra, masjid ini juga pernah menjadi kiblat salat umat Islam sebelum Ka'bah.

5. Penetapan Salat Lima Waktu

Salat merupakan satu-satunya ibadah yang diperintahkan secara langsung kepada Rasulullah SAW tanpa perantara wahyu melalui Malaikat Jibril. Hal ini menegaskan posisi salat sebagai tiang agama.

6. Islam Sebagai Agama Fitrah

Dalam kisah Isra Mikraj, Rasulullah SAW memilih susu dibandingkan khamr. Pilihan ini menjadi simbol bahwa Islam adalah agama fitrah dan kesucian. Pada saat itu, Malaikat Jibril berkata, "Engkau telah diberi hadiah kesucian". Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ

Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Ar-Rum [30]: 30)

Menanamkan Isra Mikraj di Setiap Salat

Dalam peristiwa Isra Mikraj, sebelum Nabi Muhammad SAW menghadap kepada Allah SWT dalam Mikraj, dadanya dibedah dan hatinya dibersihkan. Proses ini bukan karena hati Rasulullah memiliki kekurangan, sebab ia bersifat ma'shum atau terjaga dari dosa, melainkan sebagai bentuk penyempurnaan kesucian hati sebelum menerima tugas agung berupa perintah salat lima waktu. Hal ini sebagaimana dijelaskan pengarang Simthut Durrar, Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi:

وَمَا أَخْرَجَ الْلأَمْلَاكُ مِنْ قَلْبِهِ أَذَى وَلَكِنَّهُمْ زَادُوْهُ طُهْرًا عَلَى طُهْرٍ

Artinya: Malaikat tidak menghilangkan kotoran dari hati Nabi, tetapi agar hati yang suci semakin menjadi suci.

Pembersihan hati tersebut menjadi pelajaran bagi umat Islam bahwa sebelum menghadap Allah SWT dalam salat, hendaknya menyiapkan hati yang bersih, khusyuk, dan terbebas dari kesibukan duniawi.

Hal ini sejalan perintah Allah SWT yang menggunakan lafaz "aqîmû ash-shalâh" (dirikanlah salat), bukan "if'alû ash-shalâh" (lakukanlah salat). Iqâmatusshalâh tidak hanya berarti menunaikan rukun dan syarat lahiriah, tetapi menghadirkan kekhusyukan dan kesadaran batin. Makna iqâmatusshalâh sebagai berikut.

اِتْيَانُ الصَّلَاةِ بِحُقُوْقِهَا الظَّاهِرَةِ وَ حُقُوْقِهَا الْبَاِطَنَة

Artinya: Melaksanakan salat dengan menjalankan syarat-rukun salat yang dhahir dan syarat-rukun salat yang bathin, yaitu khusyu.

Salat tidak hanya menjadi kewajiban bagi setiap muslim, tetapi sarana perjumpaan spiritual antara hamba dan Tuhannya. Karena itu, menjaga kekhusyukan menjadi bagian penting dalam salat. Hatim al-Asham pernah ditanya tentang cara mencapai kekhusyukan dalam salat. Ia menjawab:

أَقُوْمُ وَ أُكَبِّرُ لِلصَّلَاةِ وَ أَتَخَيَّلُ الْكَعْبَةَ أَمَامَ عَيْنِيْ

Artinya: Aku berdiri membayangkan Ka'bah ada di depanku.

وَالصِّرَاطَ تَحْتَ قَدَمِيْ وَالْجَنَّةَ عَنْ يَمِيْنِيْ وَالنَّارَ عَنْ شِمَالِيْ وَمَلَكَ الْمَوْتِ وَراَئِيْ

Artinya: Aku membayangkan shirath di bawah telapak kakiku, surga ada di sebelah kananku, neraka ada di sebelah kiriku dan malakul maut ada di belakangku.

Dari penjelasan ini dapat dipahami bahwa salat yang mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar bukanlah sekadar salat secara lahiriah (fi'lusshalâh), melainkan salat yang ditegakkan dengan penuh kesadaran, kehadiran hati, dan kekhusyukan (iqâmatusshalâh).




(hil/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads