Bagi umat Islam, Isra Mikraj bukan sekadar tanggal merah di kalender. Ini adalah babak paling emosional dalam kehidupan figur idola muslim, Nabi Muhammad SAW.
Bayangkan, di tengah duka setelah ditinggal wafat istri tercinta, Siti Khadijah, dan pamannya, Abu Thalib, Allah "mengundang" ia langsung untuk sebuah perjalanan yang melampaui logika manusia.
Perjalanan Isra Mikraj
Bukan sekadar perjalanan jarak jauh, ini adalah perjalanan pemulihan jiwa sekaligus penegasan tugas besar. Peristiwa ini sebenarnya terdiri dari dua rangkaian yang berbeda namun terjadi dalam satu malam yang sama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Isra
Perjalanan horizontal di bumi yang dimulai dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina. Jarak yang saat itu normalnya ditempuh berbulan-bulan dengan unta, diselesaikan dalam kedipan mata.
Sebelum berangkat, dada Rasulullah disucikan oleh Malaikat Jibril dengan air zam-zam untuk mengisi hatinya dengan hikmah dan iman. Ia kemudian menunggangi Buraq, makhluk bercahaya yang kecepatannya sulit dikalkulasikan. Nabi turut menjadi imam salat bagi arwah para nabi terdahulu di Masjidil Aqsa.
2. Mikraj
Setelah dari Palestina, petualangan vertikal pun dimulai. Bersama malaikat Jibril, Rasulullah menembus tiap lapisan langit. Di sana, beliau "reuni" dengan para nabi terdahulu.
- Langit 1: Bertemu Nabi Adam AS, yang memperlihatkan gambaran ruh penghuni surga dan neraka.
- Langit 2: Disambut Nabi Isa AS & Nabi Yahya AS.
- Langit 3: Bertemu Nabi Yusuf AS, sosok yang dianugerahi separuh ketampanan dunia.
- Langit 4: Berjumpa Nabi Idris AS
- Langit 5: Bertemu Nabi Harun AS.
- Langit 6: Berdialog dengan Nabi Musa AS.
- Langit 7: Bertemu Nabi Ibrahim AS, yang sedang bersandar di Baitul Makmur, Ka'bahnya para malaikat.
Puncak Perjalanan Nabi di Sidratul Muntaha
Titik tertinggi yang tak bisa lagi ditembus Malaikat Jibril sekalipun, Rasulullah menapak sendirian menghadap Allah SWT di Sidratul Muntaha. Dalam pertemuan tanpa perantara ini, lahir sebuah mandat besar tentang perintah salat.
Awalnya, perintah itu adalah 50 waktu dalam sehari. Namun, berkat diskusi panjang dan saran dari Nabi Musa yang mengkhawatirkan kapasitas umat manusia, Rasulullah bolak-balik memohon keringanan hingga akhirnya ditetapkan menjadi lima waktu saja.
Meski jumlahnya lima, nilai pahalanya tetap setara dengan lima puluh waktu. Begitu kasih sayang Rasulullah pada umatnya, bahkan sebelum bertemu.
Antara Logika dan Iman
Saat subuh berkumandang dan Nabi menceritakan hal ini, publik Makkah gempar. Bagi kaum kafir, ini adalah bahan ejekan atau candaan belaka.
Namun, bagi Abu Bakar, tidak ada ruang untuk ragu. Ia langsung mematuhi tanpa syarat, hingga ia dijuluki Ash-Shiddiq yang berarti membenarkan.
Pesan Moral untuk Para Umat
Saat ditawari susu dan arak oleh Jibril, Nabi memilih susu. Ini simbol bahwa hidup sukses adalah hasil dari pilihan-pilihan yang bersih (fitrah).
Salat adalah cara kita melakukan Mikraj pribadi, cara kita terhubung langsung dengan Tuhan di tengah penatnya urusan dunia. Bukan semata kewajiban, tapi kebutuhan.
Isra Mikraj datang setelah tahun kesedihan terdalam Nabi. Allah selalu menyiapkan pesta kemuliaan bagi hamba yang sabar dan senantiasa yakin pada ketetapanNya.
(hil/irb)











































