Peristiwa Isra Mikraj merupakan salah satu momen penting dan bersejarah dalam Islam. Dalam peristiwa spiritual tersebut, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan hingga mencapai Sidratul Muntaha.
Sidratul Muntaha merupakan salah satu istilah penting dalam peristiwa Isra Mikraj yang kerap menimbulkan rasa penasaran. Banyak umat Islam bertanya-tanya, di manakah sebenarnya Sidratul Muntaha berada, dan bagaimana kedudukannya dalam ajaran Islam.
Al-Qur'an dan berbagai riwayat memberikan gambaran tentang tempat agung ini sebagai batas tertinggi yang tidak dapat dilampaui makhluk manapun. Lantas, selain letaknya, apa tujuan Nabi Muhammad SAW menuju ke sana ketika Isra Mikraj?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Letak Sidratul Muntaha
Dikutip dari buku Kisah dan Hikmah Mikraj Rasulullah karya Imam Al Qusyairi, Sidratul Muntaha merupakan nama pohon yang penjelasannya disebutkan dalam banyak riwayat. Disebut Sidratul Muntaha karena merupakan tujuan terakhir bagi siapapun atau apapun yang menuju naik ke langit.
Sebagian pendapat menyatakan tempat tersebut dinamai demikian karena menjadi persinggahan terakhir arwah para syuhada. Sementara pendapat lain menyebut sebagai tujuan akhir para malaikat.
Ada pula yang menafsirkan bahwa tempat ini merupakan batas tertinggi pengetahuan seluruh makhluk, serta diyakini sebagai wilayah yang tidak dapat dilalui nabi siapapun selain Nabi Muhammad SAW.
Dalam banyak riwayat dijelaskan, satu helai daun pohon Sidratul Muntaha dapat menutupi semesta. Bahkan, jika daun tersebut berada di bumi, cahayanya diyakini dapat menerangi seluruh makhluk di dalamnya. Pohon tersebut juga digambarkan memiliki beragam perhiasan serta ditumbuhi berbagai jenis tanaman dan buah.
Dalam buku Surga karya Mahir Ahad Ash-Syufiy, Allah menjelaskan pohon ini di dalam Al-Qur'an, dan Allah juga memberitahukan kepada kita bahwa Rasulullah melihat Jibril dalam bentuk aslinya. Letak pohon ini berada di sisi surga Ma'wa.
Ψ³ΩΨ―ΩΨ±ΩΨ©Ω Ψ§ΩΩΩ ΩΩΩΨͺΩΩΩΩ (14) ΨΉΩΩΩΨ―ΩΩΩΨ§ Ψ¬ΩΩΩΩΨ©Ω Ψ§ΩΩΩ ΩΨ£ΩΩΩΩ (15) Ψ₯ΩΨ°Ω ΩΩΨΊΩΨ΄ΩΩ Ψ§ΩΨ³ΩΩΨ―ΩΨ±ΩΨ©Ω Ω ΩΨ§ ΩΩΨΊΩΨ΄ΩΩ (16) Ω ΩΨ§ Ψ²ΩΨ§ΨΊΩ Ψ§ΩΩΨ¨ΩΨ΅ΩΨ±Ω ΩΩΩ ΩΨ§ Ψ·ΩΨΊΩΩ (17)
Artinya: Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. (QS An-Najm: 13-17)
Nabi Muhammad SAW Menjemput Wahyu ke Sidratul Muntaha
Nabi Muhammad SAW naik ke Sidratul Muntaha untuk menjemput wahyu atau menerima perintah tentang salat fardu lima rakaat. Ketentuan salat lima rakaat tersebut merupakan hasil negosiasi Nabi Muhammad SAW dengan Allah SWT yang didukung Nabi Musa AS.
Dalam buku Meneladani Rasulullah melalui Sejarah karya Sri Januari Rahayu, dikisahkan Nabi Muhammad SAW naik bersama Jibril ke Sidratul Muntaha. Rasulullah mendeskripsikan Sidratul Muntaha sebagai pohon yang sangat besar dan menjulang hingga batas langit.
Buah-buahnya digambarkan berukuran sebesar kendi, sementara daun-daunnya selebar telinga gajah, dengan warna yang begitu istimewa hingga Nabi Muhammad SAW tidak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata.
Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada seorangpun yang mampu menyifati Sidratul Muntaha karena keindahannya." Rasulullah SAW juga melihat wujud asli Malaikat Jibril di Sidratul Muntaha untuk kedua kalinya.
Terlihat Jibril mengenakan pakaian warna hijau yang terbuat dari sutra dan mempunyai enam ratus sayap. Setiap sayapnya akan menutupi cakrawala apabila dibentangkan. Kemudian, akan terlihat permata, mutiara, dan benda-benda berwarna-warni yang berkilau sangat indah.
Saat di Sidratul Muntaha, Rasulullah SAW mendengar suara goresan pena yang dikenal para ulama sebagai penarik takdir. Dari tempat itulah, Rasulullah SAW menerima wahyu salat lima waktu sehari semalam.
(auh/irb)











































