Apa Itu Sidratul Muntaha? Ini Maknanya dalam Isra Mikraj

Apa Itu Sidratul Muntaha? Ini Maknanya dalam Isra Mikraj

Chilyah Auliya - detikJatim
Minggu, 11 Jan 2026 13:40 WIB
Apa Itu Sidratul Muntaha? Ini Maknanya dalam Isra Mikraj
Foto: Freepik
Surabaya -

Bagi seorang mukmin, mengimani perkara gaib termasuk bagian dari tiang rukun iman. Salah satu kabar langit yang paling menggetarkan jiwa adalah keberadaan Sidratul Muntaha, puncak tertinggi yang menjadi saksi bisu pertemuan paling sakral antara Sang Pencipta dan hamba-Nya yang paling mulia, Nabi Muhammad SAW.

Secara harfiah, kata Sidrah merujuk pada syajaratun nabiq atau pohon bidara. Namun, ini bukanlah bidara yang biasa detikers temui di bumi. Kata Muntaha yang menyertainya bermakna puncak atau titik akhir.

Nama ini merangkum eksistensinya sebagai batas pamungkas yang tak bisa tersentuh makhluk mana pun termasuk malaikat, kecuali atas izin Allah 'Azza Wajalla.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Filosofi Iman dalam Sebatang Pohon

Para ulama, seperti Al-Mawardi, merenungkan mengapa Allah memilih metafora pohon bidara untuk menggambarkan tempat suci ini. Ia menjelaskan pohon ini memiliki tiga karakteristik unik yang menyerupai pilar-pilar keimanan.

  • Rindangnya bayangan merepresentasikan amal saleh yang melindungi dan menaungi.
  • Kelezatan buahnya mencerminkan niat yang tulus, tersimpan di dalam, namun memberi esensi kehidupan.
  • Semerbak aromanya menyerupai ucapan/lisan yang baik, lantaran sifatnya yang nyata dan dirasakan sekitar.

ADVERTISEMENT

Histori di Balik Nama "Muntaha"

Mengapa tempat ini disebut sebagai titik penghabisan? Para mufassir seperti At-Thabari merangkum beberapa hikmah mendalam di balik istilah "Muntaha" dalam perjalanan Mikraj Nabi Muhammad SAW.

  • Batas Ilmu: Pengetahuan makhluk, bahkan para Nabi dan Malaikat, terhenti di titik ini. Apa yang ada di baliknya adalah rahasia mutlak Sang Khalik.
  • Muara Amal: Tempat di mana catatan amal manusia dari bumi naik dan terhenti, serta tempat turunnya titah dari atas 'Arsy.
  • Peristirahatan Ruh: Disebutkan bahwa di sinilah tempat bersemayamnya ruh para syuhada dan orang-orang beriman yang telah mencapai derajat kemuliaan.

Gambaran Visual Sidratul Muntaha

Al-Qur'an dalam surah An-Najm menggambarkan momen ketika Rasulullah melihat Jibril dalam wujud aslinya di sisi Sidratul Muntaha. Melalui lisan suci Nabi, terdapat penggambaran fisik yang luar biasa, sebagai berikut.

  • Ukuran Masif: Dedaunannya diibaratkan sebesar telinga gajah, dan buahnya menyerupai qilal sebesar kendi dari daerah Hajar. Keagungan pohon ini meluas hingga bayangannya tak akan habis dikitari oleh penunggang kuda tercepat dalam waktu seratus tahun.
  • Keindahan Surgawi: Akar pohon ini mengalirkan empat sungai utama, yaitu dua sungai batin di surga dan dua sungai lahir yakni Nil dan Eufrat sebagai simbol keberkahan di bumi.
  • Cahaya dan Perhiasan: Saat perintah Allah turun menyelimutinya, Sidratul Muntaha berubah menjadi pemandangan yang tak sanggup didefinisikan oleh kata-kata manusia. Abdullah bin Mas'ud menyebutnya diliputi oleh hamparan emas, sementara riwayat lain menyebutkan kilauan permata, yaqut, dan zamrud yang berpijar. "Tatkala perintah Allah meliputinya, ia pun berubah. Tak ada satu makhluk pun yang mampu menggambarkan keindahannya." (HR. Muslim)

Kedekatan Jaraknya dengan Surga Ma'wa

Sidratul Muntaha terletak di langit ketujuh, berada di posisi kanan 'Arsy dan berdampingan dengan Jannatul Ma'wa. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa di balik batas fisik alam semesta yang kita kenal, terdapat realitas yang jauh lebih agung dan bercahaya.

Mempelajari Sidratul Muntaha bukanlah sekadar memuaskan rasa ingin tahu tentang keajaiban langit, melainkan upaya mempertebal tauhid kita bersama, detikers.




(hil/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads