Apa Tujuan Nabi Muhammad ke Sidratul Muntaha Saat Isra Mikraj?

Apa Tujuan Nabi Muhammad ke Sidratul Muntaha Saat Isra Mikraj?

Salma Nisrina Fahriyyah - detikJatim
Minggu, 11 Jan 2026 18:00 WIB
Ilustrasi Isra Mikraj.
Ilustrasi Isra Mikraj. Foto: Freepik
Surabaya -

Perjalanan Isra Mikraj membawa Nabi Muhammad SAW hingga Sidratul Muntaha, tempat yang menjadi batas akhir pengetahuan malaikat. Di titik tertinggi inilah Rasulullah menerima perintah salat lima waktu dan menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang tidak diperlihatkan kepada makhluk lain.

Dalam hadis riwayat Bukhari, Sidratul Muntaha digambarkan sebagai pohon bidara yang diselimuti cahaya dan keindahan surga. Lalu, apa sebenarnya tujuan Rasulullah mencapai tempat tersebut? Simak selengkapnya.

Makna Sidratul Muntaha

Menurut Mochtar Effendy dalam buku 'Ensiklopedia Agama dan Filsafat', istilah Sidratul Muntaha berasal dari kata bahasa Arab. Sidratul berasal dari kata sidrah yang berarti pohon bidara (Ziziphus), sementara Muntaha artinya puncak atau batas akhir. Disebut demikian karena segala yang naik dari bumi atau turun dari langit berhenti di sana.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ibnu Abbas dan Ibnu Mas'ud RA menjelaskan bahwa dari tempat tersebut pula segala ketetapan Allah SWT mulai diturunkan. Menegaskan keistimewaan perjalanan dan risalah Nabi Muhammad SAW.

Di samping itu, ayat dalam Surah An-Najm (53):14-15 menggambarkannya sebagai pohon yang diliputi cahaya ilahi, dekat surga tempat tinggal (Jannatul Ma'wa). Surga pun berada di dekatnya dan dari akarnya mengalir empat sungai keberkahan.

ADVERTISEMENT

Tujuan Rasulullah SAW ke Sidratul Muntaha

Rasulullah SAW menuju Sidratul Muntaha sebagai puncak perjalanan Mikraj dalam peristiwa Isra Mikraj untuk menerima wahyu istimewa langsung dari Allah SWT. Tujuan utamanya menjemput perintah salat yang awalnya ditetapkan 50 waktu sehari, kemudian dirundingkan menjadi lima waktu atas saran dari Nabi Musa AS.

Dalam buku Meneladani Rasulullah melalui Sejarah karya Sri Januari Rahayu disebutkan, Rasulullah SAW naik ke Sidratul Muntaha bersama Malaikat Jibril. Perjalanannya dimulai dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra), lalu naik melintasi tujuh langit hingga Sidratul Muntaha, di mana Malaikat Jibril berhenti karena tak mampu melampaui batas tersebut.

Apa yang Rasulullah Lihat dan Alami di Sidratul Muntaha?

Rasulullah SAW menggambarkan Sidratul Muntaha sebagai pohon besar yang menjulang hingga batas langit. Buahnya diibaratkan sebesar kendi, daunnya selebar telinga gajah, dengan warna yang begitu indah hingga sulit dijelaskan dengan kata-kata. Bahkan, Rasulullah menyebut keindahannya tak mampu disifati siapa pun.

Di tempat itu, Rasulullah kembali melihat Malaikat Jibril dalam wujud aslinya untuk kedua kalinya, dengan 600 sayap yang jika dibentangkan menutupi cakrawala. Sidratul Muntaha kemudian diselimuti sesuatu menyerupai awan, hingga Jibril berhenti dan Rasulullah naik melanjutkan perjalanan ke tempat yang tak dapat dijangkau makhluk lain.

Di sana, Rasulullah SAW mendengar suara pena takdir (qalam) dan menerima perintah salat sebanyak 50 waktu sehari semalam. Atas saran Nabi Musa AS, Rasulullah beberapa kali memohon sampai kewajiban salat ditetapkan menjadi 5 waktu, di mana setiap satu kali ibadah salat bernilai 10 pahala.

Sekembalinya ke bumi, Rasulullah membawa perintah salat 5 waktu untuk umat Islam. Awalnya, salat diwajibkan dua rakaat, kecuali magrib. Setelah hijrah ke Madinah, rakaat salat zuhur, asar, dan isya ditambah menjadi empat rakaat, sementara subuh dan magrib tetap sebagaimana semula.

Selain perintah salat, kunjungan ini menjadi bukti kemuliaan-Nya serta pengantar umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah.




(auh/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads