6 Keistimewaan Isra Mikraj yang Jarang Diketahui

6 Keistimewaan Isra Mikraj yang Jarang Diketahui

Chilyah Auliya - detikJatim
Kamis, 08 Jan 2026 19:30 WIB
6 Keistimewaan Isra Mikraj yang Jarang Diketahui
Ilustrasi Isra Mikraj. Foto: Freepik
Surabaya -

Peristiwa Isra Mikraj kerap dipahami secara sederhana sebagai perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam satu malam. Padahal, jika ditelusuri melalui literatur klasik dan catatan para ulama, peristiwa ini menyimpan lapisan makna yang jauh lebih dalam dari sekadar kecepatan perjalanan.

Ulama seperti Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki mengajak umat Islam untuk melihat Isra Mikraj sebagai pengalaman spiritual yang sarat nuansa batin. Di dalamnya terdapat momen-momen penuh haru, pesan ketuhanan, serta tanda-tanda keagungan Allah SWT yang membekas dalam sejarah kenabian.

Keistimewaan Isra Mikraj

Isra Mikraj juga dipenuhi berbagai peristiwa luar biasa yang menegaskan kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah. Keajaiban-keajaiban ini bukan hanya menunjukkan kekuasaan-Nya, tetapi menyampaikan pesan penting bagi umat Islam sepanjang zaman. Berikut beberapa keistimewaan Isra Mikraj.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Rasulullah Dijemput Secara Tiba-tiba

Salah satu fakta unik yang jarang disadari adalah Isra Mikraj terjadi tanpa pemberitahuan sebelumnya. Berbeda dengan Nabi Musa AS yang dijanjikan waktu khusus selama 40 malam di Bukit Tursina untuk menerima Taurat, Malaikat Jibril datang mendadak ke kediaman Rasulullah.

Sayyid Muhammad Al-Maliki dalam kitab Al-Anwar Al-Bahiyah menekankan unsur kejutan ini menunjukkan kedekatan luar biasa antara Kekasih Allah dan yang dikasihi, Rasulullah. Detik itu juga Rasulullah dikirim menuju dimensi tertinggi, membuktikan kesiapan spiritualnya sudah mencapai level sempurna setiap saat.

ADVERTISEMENT

2. Singgah ke Jejak Nabi Sebelumnya di Tanah-tanah Berkah

Mungkin kita sering mendengar rute Makkah- Yerusalem. Namun, apakah detikers tahu bahwa sebelum mendarat di Baitul Maqdis, Rasulullah sempat singgah di beberapa titik penting. Perjalanan Rasulullah dimulai dari Masjidil Haram di Makkah, kemudian singgah di beberapa tempat berikut.

  • Tayyibah (Madinah), yang menjadi tempat awal untuk membersihkan hati Nabi SAW dengan air Zamzam setelah dadanya dibelah oleh Jibril.
  • Madyan, atau lokasi berteduh Nabi Musa AS saat dikejar oleh Firaun. Disini Rasulullah beristirahat sejenak sambil merenungkan perjuangan para rasul sebelumnya.
  • Bukit Tur Sina, di sini Nabi SAW menunaikan shalat sunnah dua rakaat dan bertemu dengan Nabi Musa AS untuk bermujanat dan bertukar nasihat.
  • Betlehem atau Baitullahmi, yang menjadi tempat kelahiran Nabi Isa AS. Di titik ini, Nabi SAW melaksanakan shalat sunnah lagi, melihat jin Ifrit, dan mengikat Buraq sebelum melanjutkan ke Baitul Maqdis.

3. Sebelum Peristiwa Isra Mikraj, Dada Rasulullah Pernah Dibelah 3 Kali

Menurut riwayat dari kitab sirah 'Air Zamzam Mukjizat yang Masih Terjaga' karya Said Bakdasy dan sumber resmi NU Online, dada Nabi Muhammad SAW telah dibelah sebanyak empat kali sepanjang hidupnya.

Pembelahan ini dilakukan Malaikat Jibril, dan kadang bersama Mikail dan Israfil untuk membersihkan, menyucikan, dan melapangkan hatinya dengan air Zamzam serta memenuhinya iman, hikmah, dan cahaya ketuhanan. Keempat peristiwa pembelahan dada tersebut terjadi saat umur-umur berikut.

  • Usia 4 tahun, saat Rasulullah tinggal bersama Halimah as-Sa'diyah di kampung Bani Sa'd, untuk membersihkan hati dari segala kotoran sejak kecil.
  • Usia 10 tahun, menjelang usia taklif (mukhallaf), agar hatinya bebas dari sifat tercela dan siap menanggung dosa dan pahala.
  • Usia 40 tahun, saat pertama kali menerima wahyu kenabian untuk memperkuat hati menyambut wahyu ilahi secara terus-menerus.
  • Malam Isra Mikraj, Malaikat Jibril membelah dada hingga perut Rasulullah, membasuhnya tiga kali dengan air Zamzam, lalu memenuhi hati dengan kesabaran dan keyakinan untuk menghadap Allah SWT.

4. Manifestasi Jasad dan Ruh, Bukan Sekadar Mimpi

Di era modern, banyak yang mencoba merasionalkan Isra Mikraj sebagai perjalanan mimpi. Namun, Syekh Ramadhan Al-Buuthy dalam Fiqh Siirah menegaskan ini melampaui perjalanan fisik dan ruhani.

Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an juga menegaskan Isra Mikraj mutawatir dengan jasad dan ruh, sebagai mukjizat agung yang dialami sadar, dibuktikan saksi mata seperti sahabat yang melihat bekas Buraq.

Ibnu Hajar al-Asqalani dan mayoritas salaf-khalaf (fiqih, hadis, kalam) sepakat akan hal ini, menolak pendapat ruh saja karena bertentangan dengan ayat dan riwayat Bukhari-Muslim tentang perjalanan fisik dengan Buraq.

Jika hanya mimpi, kaum kafir Quraisy tidak akan gempar dan menantang bukti-bukti fisik. Keajaiban sesungguhnya adalah bagaimana jasad manusia mampu bergerak dengan kecepatan cahaya (Buraq), dan menembus atmosfer tanpa alat bantu, sebuah bukti bahwa hukum fisika pun tunduk sepenuhnya pada penciptanya.

5. Salat sebagai Hadiah Istimewa

Puncak dari perjalanan sakral ini ialah negosiasi jumlah waktu salat. Dari 50 menjadi 5 waktu. Seringkali kita hanya melihat ini sebagai pengurangan beban, namun ada rahasia di baliknya. Allah tetap memberikan pahala 50 waktu untuk mereka yang mengerjakan 5 waktu.

Ini menunjukkan bahwa salat sesungguhnya adalah hadiah paling istimewa yang dibawa Rasulullah pulang dari langit. Tidak heran jika salat menjadi satu-satunya ibadah yang diturunkan tanpa perantara Jibril, sebagai bukti betapa pentingnya komunikasi langsung antara hamba dan Allah.

6. Isra Mikraj adalah Tasliyah untuk Nabi Muhammad SAW

Syekh Muhammad Khudori dalam Nur al-Yaqin fi Sirat Sayyidil Mursalin juga menyebut Isra Mikraj adalah tasliyah atau hiburan khusus dari Allah SWT untuk menguatkan hati Rasulullah SAW di tengah penganiayaan Quraisy. Rasulullah juga berduka atas wafatnya Khadijah RA dan Abu Thalib.

Hal ini didukung pendapat KH Ahmad Bahauddin Nursalim, di mana dalam tafsir Jalalain ia menegaskan bahwa mayoritas ulama mufassir memandang Isra Mikraj sebagai obat kesedihan dengan shalat sebagai penyejuk jiwa.

Isra Mikraj adalah pengingat untuk detikers bahwa di saat manusia berada di titik terendah seperti Rasulullah yang kehilangan istri dan paman tercinta, Allah selalu memiliki cara yang tidak terduga untuk menyeka air mata dan mengangkat derajat hamba-Nya. Maka, perjalanan ini turut dimaknai sebagai optimisme, bahwa di balik setiap kesulitan, ada tangga (Mikraj) menuju kemuliaan.




(auh/irb)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads