9 Januari bukan sekadar deretan angka dalam kalender musik tanah air, khususnya di Jawa Timur. Tanggal ini menjadi ruang refleksi untuk merawat ingatan atas kepulangan salah satu putra terbaik bangsa, Soedjarwoto Soemarsono, yang lebih dikenal dengan nama Gombloh.
Gombloh lahir pada 12 Juli 1948 di Kabupaten Jombang dari pasangan Slamet dan Tatoekah. Ia lahir saat keluarganya harus meninggalkan Surabaya karena kondisi keamanan belum stabil akibat Agresi Militer Belanda II.
Tumbuh sebagai anak keempat dari enam bersaudara, Gombloh besar dalam kesederhanaan. Ayahnya, seorang pedagang ayam potong di pasar tradisional, menitipkan harapan besar agar penerusnya meraih pendidikan tinggi demi nasib yang lebih baik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gombloh sempat menempuh studi di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Namun, jiwa seninya memberontak. Ia kerap membolos hingga akhirnya surat peringatan dari kampus sampai ke tangan ayahnya.
Menanggapi kekacauan akademisnya, Gombloh memilih cara yang ekstrem. Ia menghilang ke Bali, memilih jalan sunyi sebagai seniman pengembara demi memerdekakan jiwanya.
Gombloh tidak ditakdirkan menjadi sekadar pelantun balada biasa. Bersama grupnya, Lemon Tree's Anno '69, ia mengeksplorasi aliran art rock yang kompleks, bersanding dengan nama-nama besar seperti Leo Kristi dan Franky Sahilatua.
Lirik-liriknya adalah potret jujur realitas sosial. Ia memanusiakan kaum marginal lewat lagu-lagu seperti 'Doa Seorang Pelacur' atau 'Nyanyi Seorang Anak Kecil'. Tak jarang, ia menyelipkan humor satir yang khas atau nyeleneh.
Gaya hidup Gombloh yang menjadikan asap rokok sebagai sahabat karib dan ritual begadang perlahan mengikis kesehatannya. Pada 9 Januari 1988, di usia yang masih sangat belia, 39 tahun, sang legenda berpulang di Surabaya, dan disemayamkan di TPU Makam Tembok, Kedawung.
Sahabat-sahabatnya mengenang saat-saat terakhirnya yang memilukan, di mana ia sering mengeluarkan darah saat berbicara atau bersin. Namun, kematian raga tidak menghentikan warisannya, khususnya pada lagu Kebyar-Kebyar.
Bahkan, sebuah jurnal akademik pernah mengajukan gagasan visioner bertajuk "Istana Kebyar-Kebyar", yakni konsep museum digital futuristik untuk merawat ingatan terhadap sosok Gombloh. Museum ini dirancang menghadirkan pengalaman baru bagi pengunjung melalui sejumlah pendekatan.
Pertama, pengalaman digital interaktif yang memungkinkan pengunjung seolah berinteraksi langsung dengan Gombloh melalui teknologi mutakhir. Kedua, optimalisasi lahan karena museum tidak memerlukan ruang fisik yang masif, selaras dengan semangat pelestarian lingkungan yang kerap disuarakan Gombloh dalam lagu-lagu bertema alam, seperti Berita Cuaca.
Ketiga, konsep sequence of sense, yakni tatanan ruang dan lanskap yang disusun secara bertahap untuk membawa pengunjung menyelami emosi serta perjalanan batin Gombloh sebelum memasuki ruang utama museum.
detikers, kita semua tahu bahwa Gombloh telah tiada, namun suaranya masih bergema di gang-gang sempit Surabaya hingga ke panggung-panggung nusantara. Bahkan, banyak yang kompak mengusahakan agar nama Gombloh tetap hidup di berbagai kalangan dan lintas masa.
(hil/irb)











































