Kasus Super Flu belakangan ramai diperbincangkan masyarakat. Wakil Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. M. Atoillah I menilai peningkatan kasus ini dipicu oleh faktor cuaca yang tidak menentu terutama saat musim hujan.
"Ya, tentu saja ini kan siklus tahunan ya. Jadi setiap musim penghujan, tentu insiden ISPA, salah satunya influenza, pasti meningkat. Karena memang di samping faktor cuaca, juga daya tahan tubuh tiap orang itu tentu akan dipengaruhi oleh perubahan cuaca tersebut. Sesederhana itu," kata Athoillah saat dihubungi detikJatim, Selasa (6/1/2026).
Athoillah menjelaskan penularan virus influenza, termasuk super flu, dapat terjadi melalui udara yang masuk dan menempel di saluran pernapasan. Meski tidak berbahaya seperti COVID-19, ia mengingatkan agar kasus ini tidak dianggap sepele. Pasalnya, jika virus sudah masuk hingga ke paru-paru, risikonya bisa menjadi lebih serius.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi virus masuk melalui udara, masuk kemudian menempel di dinding saluran pernapasan, baik itu hidung, tenggorokan, bahkan sampai paru-paru. Nah, jadi pada dasarnya flu itu ringan apabila menempelnya itu hanya di saluran napas bagian atas, di hidung dan tenggorokan," jelasnya.
Baca juga: Dinkes Jatim Temukan 18 Kasus Super Flu |
"Namun kalau sudah masuk ke paru-paru, ini berisiko menjadi berat, jadi radang paru-paru atau pneumonia. Apa pun virusnya, termasuk COVID-19 maupun super flu, kalau masuk ke paru-paru juga ada risiko menyebabkan pneumonia," imbuh Athoillah.
Ia menyebutkan, setelah virus menempel di saluran pernapasan, tubuh akan mulai memberikan respons dalam kurun waktu sekitar tujuh hari. Kelompok yang paling rentan terdampak adalah anak-anak di bawah dua tahun, ibu hamil, dan lansia di atas 65 tahun. Selain itu, kondisi daya tahan tubuh yang tidak stabil turut mempercepat risiko penularan.
"Kemudian kelompok rentan lainnya adalah mereka yang daya tahan tubuhnya rendah, seperti penderita penyakit penyerta atau komorbid. Di antaranya penderita asma, diabetes melitus, penyakit jantung, atau yang pada dasarnya sudah memiliki penyakit paru kronis," terang Athoillah.
Ia juga menegaskan bahwa penderita HIV menjadi kelompok yang sangat rentan terserang super flu. Karena itu, Athoillah mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila merasakan gejala berat, seperti sesak napas.
"Kalau pada anak-anak, misalnya demam tinggi lebih dari 39 derajat Celsius, ini harus segera dibawa ke rumah sakit. Bicara pencegahan itu sebenarnya jauh lebih mudah daripada mengobati," ujarnya.
Adapun langkah pencegahan super flu dapat dilakukan dengan menerapkan lima kebiasaan sederhana, yakni menutup batuk dengan bahu, memakai masker, rajin mencuci tangan, menghindari ruangan dengan ventilasi tertutup, serta memastikan istirahat yang cukup.
"Pencegahan pertama adalah etika batuk. Ini sebenarnya sudah kita pelajari sejak pandemi. Kalau batuk itu harus ditutup dengan bahu, bukan dengan tangan. Karena kalau pakai tangan, nanti saat berjabat tangan dengan orang lain, penularan bisa terjadi lewat tangan kita," pungkasnya.
Sebagai informasi, virus super flu yang saat ini beredar tergolong Influenza A (H3N2). Meski tidak dikategorikan fatal, masyarakat tetap diimbau untuk waspada dan menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat dan bugar.
(ihc/dpe)











































