Sebanyak 62 orang warga di Indonesia terserang infeksi virus influenza A (H3N2) subclade K atau Super Flu. Salah satu daerah dengan kasus terbanyak di Indonesia adalah Jawa Timur. Pakar menyebutkan bahwa saat ioni vaksin influenza dan proteksi diri atau penerapan protokol kesehatan menjadi kunci utama mengatasi risiko super flu.
Pakar Imunologi dari Departemen Mikrobiologi dan Parasitologi Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), dr Agung Dwi Wahyu Widodo dr MSi menjelaskan tentang karakteristik virus dan strategi penanganan dari sudut pandang Mikrobiologi Klinik.
Ia menjelaskan bahwa varian super flu adalah bagian dari virus Influenza tipe A. Influenza A memiliki variasi antigenik yang tinggi karena adanya protein permukaan Hemaglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA). Super flu terjadi akibat antigenic drift atau mutasi genetik yang membuat virus terus berevolusi.
"Virus influenza, khususnya tipe A, sangat dinamis. Kemampuannya melakukan reassortment atau penyusunan ulang genetik inilah yang memicu munculnya varian-varian baru yang berpotensi menimbulkan gejala lebih berat bagi individu yang tidak memiliki kekebalan," kata dr Agung, Rabu (7/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gejala super flu serupa dengan flu biasa, seperti demam, batuk, dan nyeri otot. Namun mutasi pada varian ini meningkatkan kekhawatiran akan risiko komplikasi seperti pneumonia bagi kelompok rentan.
Salah satu poin krusial yang disoroti adalah pentingnya vaksinasi influenza tahunan. Vaksinasi adalah cara efektif menekan risiko keparahan akibat super flu mengingat sifat virus yang terus bermutasi (antigenic drift), pembaruan vaksin secara rutin sangat diperlukan agar kekebalan tubuh tetap relevan dengan strain yang sedang bersirkulasi di masyarakat.
"Vaksinasi dan proteksi pribadi adalah kunci utama. Jika individu terlindungi, maka risiko penularan secara komunitas juga akan ikut menurun," ujarnya.
Selain vaksinasi, penerapan protokol kesehatan seperti penggunaan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak tetap penting dilakukan sebagai pencegahan. Dari sisi pengobatan, pemberian antiviral seperti Oseltamivir masih dinilai efektif jika diberikan dalam waktu kurang dari 48 jam sejak gejala pertama muncul.
"Masyarakat sebaiknya tidak meremehkan gejala flu, terutama di tengah musim hujan dan munculnya varian baru. Kesadaran akan diagnosis dini dan kelengkapan vaksinasi diharapkan dapat mencegah terjadinya wabah yang lebih luas di Indonesia," jelasnya.
Menghadapi lonjakan kasus influenza, dr Agung menekankan vitalnya peran laboratorium mikrobiologi klinik dalam melakukan diagnosis yang akurat. Metode Real-Time PCR (RT-PCR) tetap menjadi standar emas untuk membedakan influenza dengan virus pernapasan lainnya seperti SARS-CoV-2 atau RSV.
"Diagnosis cepat bukan sekadar untuk menentukan obat, tetapi juga untuk surveilans strain. Kita perlu memantau apakah virus yang beredar telah mengalami resistensi terhadap antiviral yang ada saat ini," pungkasnya.
(auh/dpe)











































