Perpustakaan Balai Pemuda Surabaya tak lagi sekadar menjadi ruang membaca. Seiring meningkatnya kebutuhan literasi masyarakat yang semakin beragam, fasilitas publik di pusat kota ini terus berinovasi menghadirkan program inklusif, mulai dari pendampingan anak disleksia hingga kelas bahasa gratis yang terbuka untuk masyarakat umum.
Penanggung Jawab Perpustakaan Balai Pemuda Erna Farida menjelaskan, keberadaan perpustakaan di Balai Pemuda merupakan bagian dari upaya mendekatkan layanan literasi ke masyarakat luas. Sebelumnya, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Surabaya hanya memiliki satu perpustakaan yang berlokasi di Rungkut sejak 1996.
"Akhirnya, alhamdulillah di 2013 itu terwujud perpustakaan di Balai Pemuda di alun-alun ini. Alhamdulillah dan antusias masyarakat sangat luar biasa, mulai dari awal sampai detik ini pengunjung semakin meningkat," ujar Erna kepada detikJatim, Rabu (7/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, perpustakaan ini bersifat umum dan terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak, pelajar, mahasiswa, hingga lanjut usia. Ragam koleksi buku pun disesuaikan dengan kebutuhan pembaca, mulai dari buku cerita anak, novel remaja, buku resep masakan, hingga buku-buku keagamaan.
"Koleksi yang diminati sangat beragam. Anak-anak biasanya suka buku cerita bergambar, remaja cenderung ke novel, sementara orang dewasa dan lansia banyak mencari buku masakan dan agama," jelasnya.
Selain pengadaan dari penerbit, koleksi buku di Perpustakaan Balai Pemuda juga berasal dari usulan langsung pemustaka. Masyarakat dapat mengajukan rekomendasi buku melalui formulir khusus yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran yang tersedia.
Inovasi di Perpustakaan Balai Pemuda Surabaya Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim |
Pendampingan Khusus Anak Disleksia
Salah satu program unggulan yang menjadi perhatian adalah pendampingan anak disleksia, yang telah berjalan sejak sekitar 2015. Program ini menyasar anak-anak yang mengalami kesulitan membaca, mengenali huruf, atau sering tertukar dalam memahami abjad.
Pendampingan dilakukan secara individual oleh seorang psikolog bernama Ayu, dengan metode khusus yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak.
"Satu anak ditangani satu pendamping, tidak bisa digabung. Penanganannya juga harus pelan-pelan karena setiap anak memiliki karakter yang berbeda," kata Erna.
Dalam satu tahun, program ini dapat mendampingi hingga sekitar 20 anak. Setiap anak menjalani sesi pendampingan satu hingga dua kali dalam seminggu. Dalam beberapa kasus, perkembangan signifikan dapat terlihat dalam waktu sekitar tiga bulan.
"Jika anak sudah menunjukkan perkembangan baik, seperti tidak lagi tertukar huruf dan sudah lancar membaca, maka pendampingan dihentikan dan diberikan laporan perkembangan kepada orang tua," tambahnya.
Inovasi di Perpustakaan Balai Pemuda Surabaya Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim |
Wisata Buku dan Kelas Literasi
Tak hanya fokus pada pendampingan khusus, Perpustakaan Balai Pemuda juga aktif menggelar wisata buku bekerja sama dengan sekolah-sekolah. Program ini dirancang sesuai jenjang usia, mulai dari dongeng interaktif untuk anak PAUD dan TK, hingga pengenalan sistem pencarian buku dan diskusi ringan bagi pelajar SMP dan SMA.
Selain itu, perpustakaan juga menyediakan kelas literasi, seperti bimbingan bahasa Inggris untuk anak-anak sekolah dasar. Kelas ini terkadang dialihkan ke Pusat Informasi Sahabat Anak (PISA) untuk menjaga kenyamanan dan konsentrasi peserta.
"Kadang anaknya itu kan butuh konsentrasi ya, karena di perpustakaan enggak mungkin, kita juga harus hening. Akhirnya kadang kita taruh di PISA, karena ada ruangan khusus untuk treatment yang di PISA," jelas Erna.
Berbagai kegiatan tematik turut digelar secara rutin, seperti lomba Hari Pahlawan, peringatan Hari Anak, Ramadan Ceria, hingga kegiatan edukatif lainnya yang melibatkan anak-anak dan keluarga.
Inovasi di Perpustakaan Balai Pemuda Surabaya Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim |
Rumah Bahasa, Fasilitas Belajar Gratis di Pusat Kota
Masih di kawasan Balai Pemuda, hadir pula Rumah Bahasa, fasilitas pembelajaran bahasa gratis yang berdiri sejak 2014. Staff Rumah Bahasa, Ika Priliama Dianti, menjelaskan bahwa Rumah Bahasa awalnya didirikan untuk mendukung kesiapan masyarakat menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
"Sasaran awalnya adalah masyarakat umum dewasa seperti pekerja, sopir, sekuriti, hingga UMKM. Namun seiring waktu, peminat dari kalangan muda semakin banyak," ujar Ika.
Saat ini, Rumah Bahasa mengajarkan sekitar 11 bahasa, di antaranya bahasa Inggris, Jepang, Jerman, Korea, Prancis, Arab, hingga Rusia. Proses pembelajaran dibantu oleh tutor sukarelawan, dengan pilihan kelas tematik (berkelanjutan) dan tentatif (satu kali pertemuan), baik secara luring maupun daring.
"Bahasa Inggris menjadi yang paling diminati, dengan jumlah peserta mencapai sekitar 2.000 orang per bulan," jelasnya.
Dampak Nyata bagi Masyarakat
Bagi peserta, keberadaan Rumah Bahasa memberikan akses pembelajaran yang setara tanpa biaya. Beberapa peserta bahkan berhasil melanjutkan karier ke luar negeri setelah memanfaatkan fasilitas ini, baik melalui sertifikasi bahasa mandiri maupun program kerja internasional.
Salah satu pengunjung Rumah Bahasa, Ari Prasetyo Wiyono (29), mengaku rutin mengikuti kelas sejak mengetahui informasi dari media sosial.
"Programnya variatif dan temanya selalu up to date. Sangat membantu untuk meningkatkan kemampuan speaking," ujar Ari semangat.
Ari juga menuturkan harapannya tentang program Rumah Bahasa agar lebih menghadirkan banyak penutur asing.
"Saya berharap bahwa rumah bahasa bisa mengundang lebih banyak native speaker," tandasnya.
Sementara itu, dari sisi mahasiswa, program literasi juga menjadi ruang belajar praktis. Fani (22), mahasiswi jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Airlangga, menilai kegiatan di perpustakaan tidak hanya sebatas pelayanan buku.
"Di sini saya belajar front office, registrasi data, hingga mendampingi wisata buku. Sangat relevan dengan jurusan saya," ujar Fani sebagai mahasisiwi magang.
Fani juga membagikan langkahnya dalam melakukan proses magang di perpustakaan balai pemuda yang memberikan pengalaman baru untuknya.
"Prosesnya cuman bikin proposal, minta surat keterangan dari fakultas, lalu kita kirim ke dispusip yang di siola, lalu jika dapat kabar dan informasi nanti kita akan ditempatkan di lokasi yang sesuai," jelas Fani.
Penanggung Jawab Perpustakaan Balai Pemuda Surabaya Erna Farida, Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim |
Tantangan dan Harapan
Meski demikian, tantangan tetap ada. Keterbatasan ruang membuat perpustakaan harus mengakomodasi kebutuhan yang berbeda, mulai dari pengunjung yang membutuhkan suasana hening hingga anak-anak yang aktif.
"Kami terus berupaya mengikuti perkembangan zaman, memperkuat fasilitas seperti Wi-Fi, dan mengembangkan konsep inklusi sosial agar perpustakaan tetap relevan," tutur Erna, penanggung jawab perpustakaan Balai Pemuda.
Ia berharap masyarakat, khususnya generasi muda, tidak memandang perpustakaan hanya sebagai gudang buku.
"Harapan kami, perpustakaan itu bukan hanya untuk gudangnya buku saja, tetapi untuk menyerap banyak informasi yang didapat. Harapan saya untuk generasi muda, janganlah menyerah, kalau usaha itu tidak akan mengkhianati hasil," pungkasnya.
Artikel ini ditulis Fadya Majida Az-Zahra, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.
Simak Video "Video: Warna-warni Pohon Natal hingga Kado Raksasa Hiasi Surabaya"
[Gambas:Video 20detik]
(auh/hil)















































