Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak meninjau Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas. Di mana, badan ini bertanggungjawab atas Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas di Jawa Timur membentang meliputi 19 Kabupaten/Kota di Jawa Timur.
Turut hadir dalam peninjauan tersebut Kepala BBWS Brantas Muhammad Noor dan Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto.
Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan kesiapan Jawa Timur dalam menghadapi curah hujan sangat tinggi yang diperkirakan akan melanda beberapa titik di Jawa Timur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seperti kita ketahui bersama bahwa kondisi cuaca untuk bulan Januari memang rawan. Ibu Gubernur dan BMKG berkali-kali menyampaikan bahwa ada kerawanan cuaca dengan curah hujan yang sangat-sangat tinggi," kata Emil, Rabu (7/1/2026).
"Untuk itu, kami mengapresiasi bahwa Command Center di BBWS ini merupakan dashboard yang sangat berteknologi tinggi. Untuk kemudian bisa memastikan fungsionalitas dari berbagai infrastruktur sumberdaya air. Mulai dari bendungan, penempatan tanggul-tanggul atau dinding sungai, hingga ke pos pantau-pos pantau," lanjutnya.
Dengan bantuan teknologi yang dimiliki BBWS, Emil menjelaskan pemerintah bisa menentukan langkah-langkah preventif maupun penanganan yang lebih efektif.
Bahkan, dengan fasilitas seperti SITABA (Sistem Informasi Tanggap Bencana) yang merupakan platform digital Kementerian Pekerjaan Umum (PUPR), pemerintah dapat memperoleh data-data yang lebih detail terkait bencana yang telah terjadi sebelumnya.
"Maka dengan data dari bencana sebelumnya, ini menjadi basis bagi kita melakukan sebuah proyeksi yang lebih tepat lagi mengenai risiko-risiko dan langkah-langkah untuk mengantisipasinya. Sehingga, sistem di sini dan Command Center yang ada di BPBD bisa saling melengkapi dan bisa saling memberikan support," bebernya.
Langkah lain yang sedang dilakukan adalah National Urban Flood Resilience Project (NUFReP) yang didanai oleh Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB). Saat ini, NUFReP menangani wilayah Surabaya dan Malang meskipun Emil berharap ke depan akan berkembang untuk mencangkup daerah Surabaya Raya.
"Lalu ada juga Volcanic Risk Reduction Program yang didanai oleh JICA dari Jepang untuk penanganan sedimen yang ada di Lumajang. Dan juga ada Inpres Nomor 2 Tahun 2025 untuk mempercepat pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah atau JIAT. Artinya, kita akan punya sumur dengan kapasitas yang lumayan, di atas 10 hingga 20 liter per detik tersebar di 70 titik yang ada di Jawa Timur," tuturnya.
Untuk saat ini, BBWS Brantas masih fokus pada normalisasi dan penguatan di Kali Kedurus Surabaya. Tak hanya itu, mereka juga aktif berkoordinasi dengan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi terkait penanganan banjir di Ketintang.
"Jadi yang di sana nanti akan dibuat semacam pompa pengendali banjir yang akan dipasang di sisi sungai. Namun ada bangunan-bangunan yang harus ditertibkan karena memang menduduki yang bukan merupakan lahannya," ungkapnya.
"Tapi bentuk pendekatan kita tetap pendekatan yang humanis, tentu ada solusi bagi mereka yang terdampak langsung dari kebutuhan relokasi tersebut. Tapi harus dilakukan karena ini untuk kepentingan yang lebih besar. Demi kepentingan warga yang jumlahnya mungkin beribu-ribu di wilayah tersebut," jelasnya.
(faa/hil)











































