Pemprov Jatim Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca Hadapi Curah Hujan Tinggi

Pemprov Jatim Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca Hadapi Curah Hujan Tinggi

Hilda Meilisa Rinanda - detikJatim
Senin, 05 Jan 2026 08:48 WIB
Pemprov Jatim Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca Hadapi Curah Hujan Tinggi
Ilustrasi hujan di Surabaya (Foto: Aprilia Devi/detikJatim)
Surabaya -

Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersiap menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menyusul prediksi lonjakan curah hujan signifikan pada Januari 2026. Langkah ini ditempuh sebagai upaya mitigasi agar intensitas hujan tidak terkonsentrasi di satu wilayah dan memicu bencana hidrometeorologi.

Data BMKG, curah hujan di Jawa Timur pada Januari 2026 diperkirakan meningkat tiga kali lipat dibanding Desember 2025. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pun bakal kembali dilakukan.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyampaikan, hujan di Jawa Timur bulan Desember baru 20%. Yang mana angka tersebut tidak tinggi karena dibantu lewat OMC supaya intensitas hujan tidak terlampau deras.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sesungguhnya hujan di Jawa Timur bulan Desember baru 20 persen, di bulan Januari diperkirakan 58 persen, berarti diperkirakan tiga kali lipat dibanding bulan sebelumnya menurut BMKG," kata Khofifah, Jumat (2/1/2026).

ADVERTISEMENT

"Kemudian di bulan Februari kira-kira 22 persen. Yang 20 persen Desember ini sudah dengan modifikasi cuaca jadi ada pesawat yang menabur garam di atas laut dan menabur kapur kalau sudah masuk ke darat," tambahnya.

Khofifah menilai, hujan bisa dikendalikan lewat pendekatan scientific agar tidak terlalu deras di satu titik yakni dengan cara OMC. Namun ada hal yang tidak bisa dimodifikasi adalah angin, puting beliung hingga gempa, bahkan belum ada teknologi yang bisa dilakukan saat ini.

"Beberapa waktu lalu kami ke Banyuwangi bersama Kepala Basarnas, BNPB dan BMKG. Sampai hari ini teknologi untuk modifikasi angin belum ditemukan," terangnya.

"Ada lagi yang bahkan tidak bisa diprediksi yakni gempa. Ada angin, puting beliung belum ada teknologi untuk modifikasi. Maka setelah melalui pendekatan secara scientific dan profesional , ikhtiar yang harus dilakukan adalah doa," tegasnya.

Sementara Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak menambahkan sejumlah upaya telah dilakukan pemprov terutama dalam memberi sosialisasi terkait potensi bencana alam di sejumlah titik.

Mulai dari pemasangan early warning system (EWS), kemudian rambu-rambu petunjuk jalur evakuasi di daerah wisata yang berpotensi terjadi bencana alam, hingga OMC.

"Karena 58 persen curah hujan di Jatim justru terjadi di Januari. Maka upaya OMC menggunakan pesawat sorti semakin tinggi intensitasnya pada Januari ini. Ini ikhtiar kita secara ilmu pengetahuan dan teknologi, dan tentu kita semua berdoa karena semua harus mendapat rida dari maha kuasa," tandasnya.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads