Pelajari Kebiasaan Makan Siang yang Bisa Turunkan Risiko Hipertensi

Kabar Health

Pelajari Kebiasaan Makan Siang yang Bisa Turunkan Risiko Hipertensi

Elmy Tasya Khairally - detikJatim
Sabtu, 03 Jan 2026 11:53 WIB
Efek Minum Kopi ke Tekanan Darah dan Penjelasannya
Ilustrasi Hipertensi. (Foto: Getty Images)
Surabaya -

Silent killer. Begitu kira-kira hipertensi atau tekanan darah tinggi kerap disebut orang karena penyakit ini bisa membunuh tanpa ada gejala. Meski faktor genetika turut berpengaruh pada tekanan darah seseorang, gaya hidup termasuk pola makan memiliki peran yang sangat besar dalam meningkatkan atau menurunkan risikonya.

Dalam konteks pola makan, natrium merupakan nutrisi penting yang membantu mengatur keseimbangan cairan tubuh. Namun, konsumsi natrium berlebihan justru bisa meningkatkan risiko hipertensi.

Sebaliknya, kalium diketahui mampu menetralkan efek natrium dengan membantu mengeluarkan kelebihan natrium dari dalam tubuh. Karena itu, rasio asupan natrium dan kalium menjadi faktor penting dalam menjaga tekanan darah tetap normal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Studi Kebiasaan Makan yang Menurunkan Hipertensi

Sebuah studi yang dilakukan di sebuah perusahaan di Jepang mengungkap kebiasaan makan siang yang berpotensi menurunkan risiko hipertensi.

Dilansir dari detikHealth mengutip laman Eating Well, penelitian ini melibatkan 166 peserta yang terdiri dari 102 laki-laki dan 64 perempuan dengan usia rata-rata 44 tahun. Seluruh peserta merupakan karyawan perusahaan yang secara rutin makan siang di salah satu dari dua kantin yang tersedia.

Penelitian berlangsung selama empat minggu dan dibagi ke dalam dua periode, yakni periode intervensi dan periode kontrol. Setengah dari peserta mengikuti periode intervensi terlebih dahulu, kemudian periode kontrol, sementara sisanya menjalani urutan sebaliknya.

Selama periode intervensi, peserta mengonsumsi makanan dengan bumbu rendah natrium dan tinggi kalium. Peneliti menggunakan pengganti garam yang mengandung 75 persen natrium klorida dan 25 persen kalium klorida. Karena penelitian dilakukan di Jepang, menu yang disajikan merupakan makanan yang umum dikonsumsi, seperti sup miso.

Meski produk susu bukan bagian utama dari budaya makan Jepang, kantin menyediakan susu dan yoghurt selama periode intervensi. Peserta diminta memilih satu produk susu setiap makan siang hari kerja, selain menu rendah natrium dan tinggi kalium.

Sementara itu, untuk sarapan, makan malam, serta konsumsi makanan di akhir pekan, peserta diperbolehkan makan seperti biasa tanpa batasan. Pola serupa juga diterapkan selama periode kontrol selama empat minggu.

Hasil Penelitian

Setelah menjalani periode intervensi dengan asupan rendah natrium dan tinggi kalium, peneliti menemukan perbaikan signifikan pada rasio natrium-kalium peserta. Hal ini ditunjukkan oleh kadar natrium dalam urine yang lebih rendah dan kadar kalium yang lebih tinggi.

Temuan ini penting karena ketidakseimbangan rasio natrium-kalium diketahui berkaitan erat dengan meningkatnya risiko hipertensi. Studi itu menunjukkan bahwa pengurangan asupan natrium dan peningkatan asupan kalium melalui penggunaan bumbu tertentu serta konsumsi produk susu bisa memberi efek positif terhadap keseimbangan natrium-kalium dalam tubuh, yang pada akhirnya berdampak pada tekanan darah.

Selain produk susu, sumber kalium juga dapat diperoleh dari berbagai jenis makanan lain. Di antaranya buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, polong-polongan, serta ikan seperti salmon. Beberapa contoh makanan tinggi kalium antara lain sayuran berdaun hijau, pisang, kentang, alpukat, ubi jalar, labu, wortel, dan tomat.



(ihc/dpe)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads