Wanti-wanti Pakar Unair Usai Ramai Super Flu Masuk Indonesia

Wanti-wanti Pakar Unair Usai Ramai Super Flu Masuk Indonesia

Chilyah Auliya - detikJatim
Kamis, 01 Jan 2026 14:40 WIB
Wanti-wanti Pakar Unair Usai Ramai Super Flu Masuk Indonesia
Epidemiolog Unair Dr Windhu Purnomo/Foto: Faiq Azmi/detikJatim
Surabaya -

Varian Influenza A (H3N2) subclade K, yang dijuluki super flu sudah masuk Indonesia. Lalu, apa yang harus dilakukan masyarakat?

Pakar kesehatan masyarakat Universitas Airlangga (Unair) Dr. dr. Windhu Purnomo, M.S., meminta masyarakat tak perlu panik. Sebab, super flu tidak separah COVID-19. Meski demikian, ia mengimbau masyarakat tetap waspada dan kembali menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, terutama di tengah tingginya mobilitas warga.

Pakar kesehatan masyarakat dengan kekhususan Biostatistisi Epidemiologik ini mengimbau warga untuk tetap tenang namun segera memperketat kembali protokol kesehatan mandiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Windhu menjelaskan, meski super flu sudah dilaporkan masuk ke Indonesia, datanya belum meluas karena Kementerian Kesehatan belum melansir statistik pastinya. Hal ini diperumit karena gejalanya yang sangat mirip dengan flu biasa.

"Gejalanya ada demam tinggi, batuk kering atau berdahak, pilek, hingga nyeri tenggorokan. Secara klinis sulit membedakan Super Flu dengan flu biasa kalau tidak melalui tes lab atau rapid influenza test," ungkap Windhu kepada detikJatim, Kamis (1/1/2026).

Namun, Windhu menambahkan bahwa sifat virus ini adalah self-limiting disease, sehingga beberapa warga sembuh hanya dengan istirahat dan nutrisi cukup tanpa sempat terdeteksi secara medis, bahkan terkadang dianggap remeh.

Windhu pun menenangkan warga bahwa Super Flu tidaklah semengerikan pandemi COVID-19. Secara statistik, mortalitas atau Case Fatality Rate (CFR) virus ini jauh lebih rendah.

"Angka kematiannya di luar negeri itu sekitar 0,5%. Artinya dari 1.000 orang, sekitar 5 yang meninggal. Sementara COVID-19 yang mencapai 2% atau 20 orang per 1.000 kasus. Jadi memang lebih ringan dari COVID-19, meski tetap lebih berat dibanding influenza biasa," jelasnya secara detail.

Terkait ketersediaan vaksin, Windhu memvalidasi bahwa vaksin influenza sudah tersedia di dokter anak atau fasilitas kesehatan lainnya, namun masih bersifat mandiri atau berbayar.

"Vaksin itu krusial untuk mengurangi tingkat keparahan jika terkena, meski mungkin belum 100% persis untuk sub-clade K ini. Tapi yang paling realistis adalah PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Pakai masker di kerumunan atas kesadaran sendiri, jangan tunggu dipaksa pemerintah," tuturnya.

Windhu menyoroti perhatian khusus pada fasilitas publik seperti Surabaya Bus dan perkantoran. Ia mengingatkan agar aturan ventilasi dan fasilitas cuci tangan yang dulu ketat saat pandemi jangan sampai turun standar apalagi terbengkalai.

"Dulu di depan restoran ada tempat cuci tangan, sekarang lumayan susah ditemukan atau banyak yang diambil sabunnya. Ini harus dikembalikan jadi habit. Apalagi sekarang mobilitas tinggi dengan banyaknya yang piknik maupun aturan bekerja dari mana saja (WFA) beberapa hari lalu," bebernya.

Saat ini, Windhu menilai kondisi fasilitas kesehatan di Surabaya masih relatif aman. Ia belum melihat lonjakan pasien yang signifikan hingga meningkatkan Bed Occupancy Rate (BOR) rumah sakit secara tajam.

"Kelihatannya masih terkendali, belum ada orang berbondong-bondong ke rumah sakit," katanya.

Namun, ia mengingatkan agar kondisi tersebut tidak membuat lengah. Tingginya mobilitas masyarakat, terutama saat libur panjang, berwisata jauh, atau Lebaran.

"Apa yang terjadi di luar negeri bisa terjadi di sini. Jangan sampai orang bepergian, tertular di luar, lalu pulang membawa penyakit," ujarnya.

Windhu berpesan agar pemerintah daerah dan puskesmas bersinergi memperkuat surveilans ILI (Influenza-Like Illness) dan rumah sakit senantiasa memantau SARI (Severe Acute Respiratory Infection).

"Begitu ada lonjakan pasien sesak napas berat di ICU, pemerintah harus siaga melakukan testing secara gratis untuk memonitor pergerakan virus ini. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan yang memiliki komorbid seperti diabetes, hipertensi, kanker dan lainnya masih jadi prioritas perlindungan agar tidak terjadi fatalitas," pungkasnya.




(ihc/hil)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads