Maraknya bencana banjir di sejumlah wilayah meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit, salah satunya leptospirosis. Leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira.
Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Dr Windhu Purnomo menjelaskan, media penyebaran bakteri leptospira berasal dari hewan, terutama tikus.
"Leptospirosis adalah penyakit menular ya, tapi menularnya bukan dari manusia ke manusia. Itu adalah penyakit zoonosis, jadi dari hewan ke manusia," jelas Windhu Purnomo, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair kepada detikJatim pada (30/12/2025).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyebut, bakteri leptospira banyak ditemukan dalam urine tikus. Saat kondisi normal dan lingkungan kering, bakteri tersebut relatif tidak berbahaya. Namun, risiko penularan meningkat ketika air banjir menggenang dan tercemar urine tikus.
Penularan dapat terjadi ketika seseorang bersentuhan langsung dengan air banjir yang tercemar, terutama jika memiliki luka terbuka. Selain melalui luka, bakteri juga bisa masuk ke tubuh melalui selaput lendir seperti mata, mulut, dan hidung.
"Jadi misalnya ada anak-anak bermain-main saat banjir, berenang, kemudian kemasukan air di mulutnya atau masuk di matanya tadi, bisa kena. Tapi terutama banjir-banjir yang terjadi di lingkungan yang buruk," tambahnya.
Ia menambahkan, risiko terpapar leptospirosis tidak hanya terjadi saat banjir. Pekerja yang sering bersentuhan dengan air kotor, seperti petugas gorong-gorong atau saluran drainase, juga berisiko terinfeksi apabila tidak menggunakan alat pelindung diri.
Terkait gejala leptospirosis kerap sulit dikenali karena menyerupai penyakit lain. Gejala awal umumnya berupa demam, sakit kepala, atau nyeri otot yang mirip influenza. Gejala tersebut bisa muncul dua hingga beberapa minggu setelah terpapar.
"Gejalanya bisa sangat ringan sampai sangat berat. Pada kondisi berat bisa sampai gagal ginjal, penurunan kesadaran, hingga berisiko menyebabkan kematian. Beratnya itu bisa sampai gagal ginjal," jelasnya.
Untuk memastikan seseorang terpapar penyakit ini, diperlukan pemeriksaan laboratorium.
"Jadi kalau misalnya sampai beberapa hari nggak sembuh-sembuh, kalau kena hati kan, matanya juga kuning ya, jadi harus periksa. Pokoknya kalau gejala awalnya seperti flu biasa, terus sembuh dua sampai tiga hari ya nggak masalah. Tapi kalau nggak sembuh-sembuh harus ke puskesmas atau ke dokter, atau ke rumah sakit," jawabnya.
Sebagai langkah pencegahan, ia menekankan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat serta menjaga lingkungan agar tidak menjadi sarang tikus. Menurutnya, pencegahan harus dilakukan sebelum banjir terjadi.
Saat banjir, masyarakat diminta menghindari kontak langsung dengan air. Jika terpaksa, gunakan sepatu boot, sarung tangan, dan lindungi luka dengan perban atau plester. Setelah terpapar air banjir, segera mandi menggunakan sabun dan bersihkan luka dengan baik.
"Jangan bermain-main di air banjir, kecuali kalau kita memang terpaksa, misalnya harus jalan kaki ya harus pakai sepatu bot atau ditutup plastik kakinya," pungkasnya.
