Berburu jamur barat menjadi hiburan tersendiri bagi warga di kawasan hutan jati sekitar perkampungan Kecamatan Temayang, Bojonegoro, terutama saat musim hujan. Aktivitas ini rutin dilakukan setiap pagi hari dan dimanfaatkan warga untuk mengisi waktu liburan.
Anak-anak, remaja, hingga ibu-ibu terlihat meluangkan waktu mencari jamur barat yang tumbuh di bawah pohon jati. Salah satunya Fauzi (30), yang mengaku bersama warga lainnya memilih berburu jamur barat setiap usai Salat Subuh.
Bagi para pencari, menemukan jamur barat memberikan kepuasan tersendiri. Pasalnya, jamur yang hanya tumbuh pada musim penghujan ini dikenal cukup sulit ditemukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pagi hari sehabis subuh. Ada juga yang memulai cari jamur barat pukul 02.00 WIB dini hari," ucap Fauzi kepada detikJatim, Minggu (28/12/2025).
Warga Bojonegoro mencari jamur barat saat liburan Foto: Ainur Rofiq/detikJatim |
Fauzi menuturkan, tidak semua pencari jamur memahami lokasi tumbuhnya jamur barat. Tak jarang, mereka harus pulang dengan tangan kosong setelah berjam-jam menyusuri hutan.
"Kalau tidak paham tempat dan waktunya, pasti sulit ketemu ya. Biasanya, warga masuk hutan sejak pagi hari, menyusuri area yang dianggap langganan tumbuhnya jamur barat," imbuh Fauzi.
Jamur barat hanya tumbuh di lokasi tertentu yang lembap dan masih alami. Proses mencarinya membutuhkan ketelitian serta pengalaman, sehingga aktivitas berburu jamur ini tak sekadar mencari bahan pangan, tetapi juga menjadi tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Rata-rata warga pinggiran hutan jati di Temayang yang berhasil mendapatkan jamur barat dapat membawa pulang satu hingga dua kilogram hingga menjelang siang hari.
"Dapat 1 kilogram, itu sudah terbilang lumayan. Karena ada juga beberapa pencari jamur pulang dengan tangan kosong," ucap Sholikin, warga lainnya.
Warga Bojonegoro mencari jamur barat saat liburan Foto: Ainur Rofiq/detikJatim |
Jamur barat hasil buruan sebagian dimasak sendiri menjadi menu khas oseng-oseng jamur barat. Namun, ada pula warga yang memilih menjualnya kepada peminat.
"Ada yang berburu untuk di buat oseng-oseng. Tapi ada pula mereka yang menjual jamur ini per bungkus dengan rata rata isi 10 tangkai dijual Rp 20 ribu," imbuh Sholikin.
Menurut warga, oseng-oseng jamur barat memiliki cita rasa khas yang alami dan digemari banyak orang. Bahkan, kelezatannya disebut mampu menyaingi daging.
"Yang pasti tak sekedar rasa yang alami ya, bahkan lezatnya mampu mengalahkan daging," tutur Sholikin sambil tersenyum.
Tradisi berburu jamur barat tak hanya berkaitan dengan kuliner, tetapi juga mencerminkan kedekatan warga Temayang dengan alam, sekaligus menjaga kearifan lokal yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
(irb/hil)


