Tingginya persalinan sesar di Indonesia masih jadi persoalan yang belum sepenuhnya teratasi, termasuk di Surabaya. Di sejumlah rumah sakit persalinan sesar terus meningkat tapi belum diimbangi praktik Vaginal Birth After Caesarean (VBAC) sehingga muncul pertanyaan soal sejauh mana perempuan dilibatkan dalam mengambil keputusan persalinannya.
Dosen Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) menjawab pertanyaan tersebut dengan membuat kelas ibu nifas yang dirangkai dengan Focus Group Discussion (FGD). Seperti di Tempat Praktik Mandiri Bidan (TPMB) Lita Anggraeni, Gunung Anyar, Surabaya.
Ketua tim pengabdian masyarakat dari Prodi Kebidanan FK Unair Sofia Al Farizi mengatakan, kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang edukasi kesehatan maternal, tetapi juga wadah penggalian pengalaman bersalin dan kesiapan persalinan dari perspektif perempuan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Melalui diskusi kelompok ini, para ibu nifas ini kami dorong untuk menyampaikan pengalaman, kebutuhan, serta harapan mereka selama menjalani proses persalinan," kata Sofi, Rabu (24/12/2025).
Menurutnya, FGD ini membuka gambaran mengenai realitas yang kerap luput dari perhatian sistem pelayanan kesehatan, yakni pengalaman subjektif perempuan saat melahirkan. Beberapa peserta menyampaikan keputusan medis sering kali diambil tanpa diskusi yang memadai, sementara preferensi dan kebutuhan mereka belum terdokumentasi secara sistematis.
Sofi menyebut berbagai negara, metode birth plan menjadi bagian integral dalam pelayanan maternitas. Pendekatan ini terbukti mampu meningkatkan angka persalinan normal, sekaligus berkontribusi terhadap penurunan angka kematian ibu melalui komunikasi yang lebih setara antara perempuan dan tenaga kesehatan.
"Ironisnya, di Indonesia, birth plan belum diimplementasikan secara optimal, meskipun secara praktis dapat diterapkan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, mulai dari praktik bidan mandiri, puskesmas, hingga rumah sakit," jelasnya.
Baginya, melalui pendekatan co-design, kegiatan ini berupaya menggeser pola pelayanan yang selama ini cenderung bersifat top-down. Ibu hamil dan ibu nifas dilibatkan sebagai aktor nonprofesional yang memiliki pengalaman berharga dalam merancang birth plan yang kontekstual dan realistis sesuai dengan kondisi mereka.
"Dengan pendekatan tersebut, birth plan tidak lagi diposisikan sebagai dokumen administratif semata, melainkan sebagai alat komunikasi yang menjembatani kebutuhan, harapan, dan preferensi perempuan dengan keputusan klinis tenaga kesehatan," ujarnya.
Sofi berharap, inisiasi birth plan berbasis co-design ini bisa menjadi langkah awal dalam memperkuat pelayanan kebidanan yang berpusat pada perempuan (woman-centered care).
"Jadi, lebih dari sekadar upaya menekan angka persalinan sesar, pendekatan ini juga untuk membuka ruang bagi perempuan supaya kembali memiliki otonomi atas tubuh dan pengalaman persalinannya sendiri," pungkasnya.
(auh/dpe)











































