Pemprov Jatim terus memperkuat komitmennya dalam membangun kemandirian ekonomi pesantren. Salah satu langkah strategis tersebut ditandai dengan peresmian One Pesantren One Product (OPOP) Training Center yang digelar di Ruang Auditorium Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), Lantai 11 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa hadir langsung untuk meresmikan pusat pelatihan tersebut. Kehadiran OPOP Training Center menandai babak baru dalam penguatan sumber daya manusia pesantren, khususnya dalam pengembangan kewirausahaan berbasis inovasi, riset, dan pemanfaatan teknologi modern.
"Rekan-rekan, tentu kami menyampaikan terima kasih. One Pesantren One Product (OPOP) ini program yang kita inisiasi pada saat transisi periode pertama lalu. Program ini kemudian direplikasi di beberapa provinsi, dan tentu kita harus terus melakukan improvement," ujar Khofifah yang didampingi Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur Endy Alim Abdi Nusa, Kamis (18/12/2025).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khofifah menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin antara Pemprov Jawa Timur dengan ITS. Ia menegaskan bahwa program OPOP merupakan inisiatif strategis yang telah dirintis sejak awal periode kepemimpinan dan hingga kini terus mengalami penguatan.
Menurutnya, kolaborasi dengan ITS memberikan nilai tambah yang signifikan bagi pengembangan OPOP, tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga pada aspek inovasi dan keberlanjutan usaha.
"Beberapa sinergi yang sudah kita bangun sekarang ini mendapat penguatan dari sangat banyak sektor melalui ITS. Dari Pak Rektor sudah disampaikan, mulai dari desain produk, pemanfaatan AI, sertifikasi halal, dan seterusnya. Oleh karena itu, kami menyampaikan terima kasih atas sinergi semua elemen strategis untuk pengembangan One Pesantren One Product," lanjutnya.
Khofifah menegaskan bahwa pesantren memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi umat. Dengan pendampingan yang tepat dan berkelanjutan, produk-produk pesantren diyakini tidak hanya mampu bertahan di pasar lokal, tetapi juga menembus pasar yang lebih luas dengan standar kualitas yang tinggi.
Sementara itu, Rektor ITS Bambang Pramujati menegaskan komitmen kampusnya untuk terlibat aktif dalam pengembangan OPOP. Menurutnya, ITS akan mengerahkan sumber daya manusia terbaik untuk mendukung peningkatan mutu dan daya saing produk pesantren.
"Siang hari ini kita meresmikan OPOP Center atau One Pesantren One Product Center. Tujuannya adalah ITS berkolaborasi dengan Pemprov Jawa Timur untuk membantu pengembangan OPOP tersebut," kata Bambang.
Ia menjelaskan bahwa pendampingan yang dilakukan ITS mencakup berbagai aspek penting, mulai dari sertifikasi halal, desain produk, hingga penguatan administrasi usaha. Hal ini dilakukan agar produk pesantren mampu bersaing dan menembus pasar ekspor.
"Kami akan bekerja sama memanfaatkan semua SDM yang ada di ITS yang berkaitan dengan OPOP untuk bisa meningkatkan mutu. Jangan sampai produk dari pesantren itu dibeli karena rasa kasihan atau sekadar kewajiban sebagai sesama umat," tegasnya.
Menurut Bambang, tujuan utama pendirian OPOP Training Center adalah memastikan produk pesantren benar-benar memiliki kualitas yang layak bersaing di pasar.
"Orang membeli karena mutunya bagus, kualitasnya bagus, rasanya enak, dan kemasannya menarik. Itulah tujuan kita, supaya produk dari pesantren itu naik kelas," pungkasnya.
Dengan diresmikannya OPOP Training Center, Pemprov Jawa Timur berharap lahir lebih banyak wirausaha pesantren yang inovatif, mandiri, dan berdaya saing tinggi. Ke depan, pusat pelatihan ini diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi berbasis pesantren sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah maupun nasional.
(ihc/ihc)











































