Ketua DPRD Gresik Ungkap Jejak Giri-Lombok di Seminar Nasional UIN Mataram

Ketua DPRD Gresik Ungkap Jejak Giri-Lombok di Seminar Nasional UIN Mataram

Jemmi Purwodianto - detikJatim
Kamis, 11 Des 2025 12:30 WIB
Ketua DPRD Gresik Ungkap Jejak Giri-Lombok di Seminar Nasional UIN Mataram
Foto: DPRD Gresik
Gresik -

Ketua DPRD Kabupaten Gresik, Muhammad Syahrul Munir, tampil sebagai pembicara dalam Seminar Nasional Naskah Nusantara yang digelar di Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, NTB. Acara yang diprakarsai Kementerian Kebudayaan RI bersama Manuskripedia itu menjadi ajang penting untuk membahas kembali hubungan historis antara Gresik-khususnya Giri Kedaton-dan Lombok.

Seminar tersebut, mempertemukan para tokoh, akademisi, dan budayawan lintas daerah. Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon hadir sebagai keynote speaker, bersama Gubernur NTB Dr. Lalu Muhammad Iqbal. Pengantar diskusi disampaikan Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Dr. Restu Gunawan, serta Founder Manuskripedia, Wahyu Muryadi.

Selain Syahrul, sejumlah narasumber turut mengisi diskusi, di antaranya budayawan Lombok T.G. Hasan Basri Marwah, pemerhati budaya Ir. Wahyudi, akademisi UIN Mataram Prof. Dr. H. Jumarim, M.HI., serta budayawan Sumbawa Yadi Surya Diputra, S.Sos.I., M.A.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengusung tema "Giri-Lombok: Kolaborasi Lintas Pilar Menuju Kedaulatan Sejarah dan Budaya Bangsa," Syahrul menyebut forum ini sebagai momentum penting bagi diplomasi kebudayaan antara kedua daerah yang memiliki hubungan panjang dalam sejarah penyebaran Islam.

ADVERTISEMENT

Dalam penyampaiannya, Syahrul menegaskan bahwa hubungan Gresik dan Lombok tidak dapat dipisahkan dari peran Sunan Prapen-cucu Sunan Giri-yang menjadi tokoh sentral Islamisasi Lombok pada abad ke-16.

"Ajaran Islam yang kini mendominasi kehidupan masyarakat Lombok dibawa langsung dari pusat spiritual Giri Kedaton di Gresik," ujar Syahrul, Kamis (11/12/2025).

Bukti sejarah seperti Masjid Bayan Beleq dan makam raja-raja Selaparang menjadi penanda kuat pengaruh dakwah Sunan Prapen yang memadukan nilai Islam dengan budaya lokal. Metode dakwahnya dikenal damai namun tegas, mulai dari demonstrasi militer, syiar rebana, salat sunnah sebagai permohonan petunjuk, hingga pendekatan persuasif kepada para penguasa. Pertemuannya dengan Prabu Rangkesari disebut menjadi titik penting percepatan Islamisasi Lombok.

"Hubungan historis ini harus terus dikaji untuk memperkuat pemahaman tentang peradaban kedua daerah," tegas Syahrul.

Syahrul juga memaparkan komitmen Pemerintah Kabupaten Gresik dalam pemajuan kebudayaan daerah. Sejumlah regulasi dan program pendidikan telah disiapkan, termasuk Perda Nomor 9 Tahun 2019 tentang Pemajuan Kebudayaan Daerah serta penerapan muatan lokal Sejarah Gresik di sekolah-sekolah.

Meski demikian, ia mengakui masih ada sejumlah tantangan, seperti belum optimalnya rencana induk pariwisata daerah, tumpang tindih kewenangan pelestarian, hingga lemahnya organisasi pengelola wisata.

"Kajian seperti ini penting agar ada afirmasi baru mengenai data dan sejarah Sunan Prapen yang nantinya memperkaya materi muatan lokal Gresik," ujarnya.

Syahrul berharap seminar ini membuka ruang kolaborasi kebudayaan yang lebih kuat antara Gresik dan Lombok. Ia menilai kajian lintas daerah tidak hanya memperkaya khazanah keilmuan, tetapi juga menjadi pijakan revitalisasi tradisi dan penguatan identitas budaya bangsa.

"Pelestarian sejarah dan budaya bukan hanya kewajiban satu generasi, tetapi amanah yang harus hidup dari generasi ke generasi," pungkasnya

(akd/ega)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads