Ternyata Penghuni Gua Pedalaman Hutan Jombang Punya Pekerjaan Tetap Ini

Tim detikJatim - detikJatim
Minggu, 30 Nov 2025 11:00 WIB
Tempat tinggal manusia gua di pedalaman hutan Jombang. Foto: Enggran Eko Budianto
Jombang -

Satu keluarga yang sempat menghuni Gua Anggas Wesi di pedalaman hutan jati Jombang ternyata memiliki pekerjaan tetap. Kepala keluarga Joko Mulyono rutin keluar dari kawasan hutan setiap tiga hari sekali untuk bekerja sebagai satpam di Mojokerto.

Usai bekerja, ia kembali membawa logistik kebutuhan harian yang diangkut menggunakan karung. Untuk menghindari pertemuan dengan petugas Perhutani, keluarga tersebut membuat akses jalan sendiri. Jalur setapak itu mengarah ke kawasan Hutan Watuseno yang menjadi rute terdekat menuju permukiman warga.

Kepala BKPH Jabung Tarmidi menjelaskan keluarga itu berjumlah empat orang, terdiri dari Joko, istri, anak perempuan, dan adik laki-lakinya. Mereka berasal dari Kecamatan Jogoroto, dan telah tinggal di kawasan tersebut selama sekitar dua bulan terakhir di sebuah tenda yang didirikan di sisi kanan gua.

"Informasi dari Pak Sudarmaji, Pak Joko bekerja sebagai satpam di Mojokerto. Kalau pulang bawa logistik untuk makan sehari-hari," ujar Tarmidi kepada detikJatim, Kamis (27/11/2025).

Gua Anggas Wesi berada di petak 37F RPH Sumberjo, BKPH Jabung, KPH Jombang, dan termasuk dalam kawasan penggunaan khusus (KPKh) dengan luas sekitar 0,1 hektare. Secara administratif, gua tersebut berada di Desa Sumberjo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang.

Namun, sejak keberadaan mereka diketahui banyak orang, Joko sekeluarga memutuskan pindah ke lokasi yang lebih tersembunyi. Tenda lama di samping gua telah ditinggalkan dan mereka mendirikan tenda baru di area yang lebih tinggi dan jauh dari titik awal.

"Setelah banyak orang tahu keberadaannya, sekarang mereka pindah tempat. Dari gua menyusuri naik ke atas, ada tenda warna biru," jelasnya.

Tarmidi dan tim sempat menyambangi lokasi tenda baru tersebut, namun tak mendapati siapapun di sana. Meski demikian, peralatan rumah tangga masih berada di dalam tenda, menandakan tempat itu masih ditempati.

Selama ini, perilaku Joko sekeluarga terkesan tertutup dan cenderung menghindari petugas Perhutani. Pada awal kedatangan, Joko mengaku tinggal di hutan untuk ritual, namun hasil pemantauan menunjukkan tidak ada aktivitas ritual yang dilakukan.

"Jika dari kejauhan mereka melihat petugas, berusaha menghindar. Dari perilakunya ada indikasi mereka menyembunyikan sesuatu. Pantauan kami ritual tidak pernah dilakukan. Indikasinya seperti menghindar dari suatu masalah," cetusnya.

Apapun alasannya, lanjut Tarmidi, tinggal di kawasan hutan tanpa izin merupakan pelanggaran Pasal 50 UU RI Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. "Perlahan kami lakukan pendekatan sebenarnya ada apa. Apabila Pak Joko tidak proaktif, kami lakukan tindakan untuk mengusir yang bersangkutan," tandasnya.

Sementara itu, Sudarmaji (68), pria asal Boyolali yang telah tinggal di Gua Anggas Wesi sejak 1983, kini bersedia direlokasi. Perhutani akan membangun gubuk berukuran 4x6 meter untuk tempat tinggal barunya, yang berjarak sekitar 50-100 meter dari mulut gua.

Dengan relokasi tersebut, kawasan gua diharapkan lebih tertata dan tidak lagi kumuh. Sudarmaji juga akan diberdayakan sebagai penerima wisatawan atau peziarah. Selama ini, ia bertahan hidup dari lahan garapan sistem tumpangsari di kawasan Perhutani seluas kurang lebih 1.500 meter persegi serta pemberian pengunjung.



Simak Video "Video: Fenomena Manusia Gua Jombang, 60 Tahun Hidup di Pedalaman Hutan"

(auh/irb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork