Jatim Jadi Provinsi Tertinggi Kasus HIV/AIDS Nasional

Eka Fitria Lusiana - detikJatim
Minggu, 30 Nov 2025 10:45 WIB
ILUSTRASI AIDS. Foto: Freepik
Surabaya -

Jawa Timur (Jatim) mengalami lonjakan kasus HIV/AIDS tertinggi secara nasional. Peningkatan kasus ini terus bertambah setiap tahun. Bahkan, di berbagai daerah Jatim juga terjadi penularan virus yang semakin meluas.

Di balik meningkatnya kasus HIV/AIDS, terdapat sejumlah faktor yang memperkuat penyebaran HIV di Jatim. Meski begitu, pemerintah daerah harus terus memperkuat strategi pencegahan dan penanggulan, dengan berbagai program edukasi, perluasan akses tes HIV, hingga menekan penularan.

Pengertian HIV/AIDS

Melansir dari situs resmi Kementerian Kesehatan, Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah tahap awal dari penyakit AIDS. Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh, sehingga daya tahan tubuh pasien akan melemah dan rentan diserang berbagai penyakit.

Penanganan HIV yang tidak cepat akan memunculkan penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Pasien yang terkena AIDS akan mengalami kondisi tubuh yang tidak mampu melawan infeksi. Apabila sudah mencapai AIDS, maka penyakit ini telah mencapai stadium akhir dari infeksi HIV.

Jatim Kasus HIV/AIDS Tertinggi Nasional

Melansir dari situs resmi Dinas Kominfo Provinsi Jawa Timur, kasus HIV terus mengalami peningkatan di Jatim. Tercatat, Jatim menempati peringkat tertinggi dalam kasus HIV/AIDS secara nasional.

Berdasarkan data Kementerian dan Dinas Kesehatan Jawa Timur 2025, jumlah kasus HIV/AIDS mencapai 65.238 orang. Bahkan, dalam periode tiga bulan dari Januari hingga Maret saja, ditemukan 2.599 kasus baru. Dengan sebaran tertinggi di berbagai daerah, seperti Kota Surabaya, Sidoarjo, Jember, dan Tulungagung.

"Data ini menjadi alarm bagi kita semua. Pemerintah daerah, DPRD, dan masyarakat harus bersatu melakukan langkah nyata. Penanganan HIV tidak cukup dengan pengobatan, tetapi perlu membangun kesadaran dan kepedulian sosial," ujar anggota Fraksi PDIP DPRD Jawa Timur Hari Yulianto, Rabu (11/11/2025).

Ia menilai rendahnya pemahaman masyarakat mengenai cara penularan HIV menjadi salah satu faktor utama masih tingginya jumlah kasus. Di lapangan, masih banyak orang yang keliru mengira HIV dapat menular melalui sentuhan atau udara.

Padahal, penularannya hanya terjadi lewat darah, cairan sperma, cairan vagina, dan ASI. Karena itu, edukasi menjadi langkah penting memutus kesalahpahaman, sekaligus menghapus stigma dan diskriminasi.

"Edukasi harus diperluas, stigma dan diskriminasi harus dihapus. Jangan sampai orang takut tes atau berobat hanya karena takut dicap negatif," tegasnya.

Faktor Risiko HIV/AIDS

Penularan HIV/AIDS terjadi melalui dua jalur, yakni cairan kelamin dan darah. Sehingga faktor risiko dari HIV/AIDS tidak dapat dipisahkan dari kedua hal itu. Berikut beberapa faktor risiko HIV/AIDS.

1. Berganti Pasangan

Faktor risiko terjadinya penularan HIV/AIDS terjadi karena berganti-ganti pasangan dan berhubungan seksual melalui dubur/anus tanpa menggunakan kondom. Perilaku itu memperbesar risiko tertular atau menularkan infeksi menular seksual (IMS), seperti herpes, gonore, atau sifilis.

Mengutip dari Stanford Medicine, IMS dapat menyebabkan peradangan dan membuat HIV lebih rentan masuk ke dalam tubuh. Risiko penularan HIV semakin cepat bertambah apabila salah satu pasangan berada dalam kondisi imun lemah, tidak disunat (pria), atau terlibat dalam aktivitas seksual berisiko tinggi tanpa pengaman.

2. Melalui Jarum Suntik

Penularan HIV/AIDS bisa melalui jarum suntik yang digunakan secara bersamaan. Terutama bagi pengguna narkoba suntik. Hal ini membuat semakin rentan terjadinya penularan.

Dalam kondisi ini, penderita disarankan untuk mengonsumsi obat antivirus untuk mencegah infeksi virus selama beberapa waktu. Selain itu, penderita juga diharapkan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk menangani penyakit ini.

3. Ibu Hamil ke Janin Melalui Plasenta

Penyakit HIV/AIDS bisa terjadi kepada siapa saja, tidak terkecuali ibu hamil. Wanita yang mengidap HIV sangat rentan menularkan virus ini kepada janin melalui aliran darah yang masuk ke tubuh bayi. Kemungkinan besar, virus ini terjadi di minggu terakhir kehamilan atau selama persalinan.

Tak hanya melalui darah, janin atau bayi juga dapat tertular melalui plasenta ketika pertukaran asupan makanan. Namun, HIV tidak dapat melewati plasenta yang menghubungkan ibu ke bayi apabila sang ibu sehat. Justru plasenta dapat membantu memberi perlindungan bayi yang sedang berkembang.

4. Melalui Transfusi Darah

Penularan HIV/AIDS selanjutnya dapat melalui transfusi darah bisa saja terjadi melalui beberapa faktor. Pertama, penggunaan narkoba suntik dengan jarum tidak steril, serta pembuatan tato dengan jarum yang tidak steril.

Termasuk juga tindakan perawatan gigi atau tindakan medis menggunakan jarum yang tidak steril, dan kecelakaan sewaktu bekerja, misalnya terjadi pada tenaga medis yang tertusuk jarum sehabis digunakan penderita HIV.

Upaya Mencegah HIV/AIDS

Setelah mengetahui faktor-faktor risiko HIV/AIDS, hendaknya masyarakat mampu membentengi diri dengan melakukan pencegahan penyakit HIV/AIDS melalui berbagai cara, di antaranya sebagai berikut.

  • Tidak bergonta-ganti pasangan.
  • Menghindari penggunaan segala jenis narkotika, terutama melalui penggunaan jarum suntik.
  • Melakukan edukasi terkait penularan hingga pengobatan HIV/AIDS kepada masyarakat, agar penularan tidak terus berlanjut.

Artikel ini ditulis Eka Fitria Lusiana, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.



Simak Video "Video: Apa Tantangan Terbesar Hidup sebagai Perempuan dengan HIV?"

(auh/irb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Foto

detikNetwork